Nyawa Taruhannya, Percuma!

Kusulut lintingan kelobot cengkeh tembakau
Sambil menyeruput kopi hitam dingin sisa tadi malam begadang
Beratapkan genteng yang berlubang lagi keok
Duduk beralasakan tikar kusam lagi lusuh
Bau pengap ruangan persegi berkombinasi dengan pesingnya tempat buang hajat
Dikelilingi tembok beranyam bambu
Bebercak lestarinya lumut hijau

pixabay.com

Tak satu pun dari mereka mengindahkan suara kami
Mereka yang tak tanggap merakyat dengan kaum tak berdompet
Mereka yang suka ongkang-ongkang di kursi jabatan
Diapit dua pekerja komersial yang telah mereka sewa
Dengan menyuguhkan buah dada yang menggiurkan
Dibumbui pantat yang membuat kaum adam ingin melahapnya
Penuh nafsu birahi jika tak kuat imannya
Tak peduli bertumpuk-tumpuk kertas di sekeliling mereka
Entah, itu kertas hutang negara atau hutang mereka kepada kami

Kuraih belati yang telah kusiapkan sedari tadi di sisi secangkir kopi
Kugorokkan ke aliran nadi
Perlahan nyawaku melambung tinggi
Sekali lagi, mereka tak peduliā€¦

Sabdo Angon

Malang, 25 November 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *