Sepucuk Tinta yang Terluka

/1/
di meja tulis Yusuf di Yogyakarta
lampu pijar menyala temaram
di tempat tidur seprai merah
Yusuf terbujur menggigil penuh keringat
matanya terpejam
menahan sakit tak terperi
tapi kemudian matanya terbuka lagi
ia bahkan terlihat berontak
melawan sakit dari segala sakit itu

/2/
dia berdiri
keringat makin deras
terperas dari kening dan wajahnya
tangan gemetar
meraih pena dan kertas di atas meja
matanya panas seolah berdarah, bernanah
memandang keluar jendela
menuliskan sepucuk puisi
kepada seseorang yang dinanti

/Puisi Yusuf/
di altar malam berluka
terasa hari menjumput lara
sementara bintang berkelip rapuh
dihantam awan yang tak acuh

pixabay.com

aku sekarang bisa paham
arti sebuah kesunyian
menyayat, menguliti
begitu kejam rindu ini

ia membunuhku perlahan
menambah gundah dari mimpi indah

benar, ada sepasang kata tak terbantah
sebelum akhirnya menapak kaki satu langkah

adalah kau…

/3/
Yusuf diam membisu
ia mendengar suara lembut
dari bentang jarak
yang tak bisa dilipat
dari mata berdarah, bernanah itu
ia melihat sesuatu yang menyayat
dan mengulitinya
sesuatu yang mengingatkan seorang wanita
yang amat ia cinta
dan, tak kunjung tiba

/4/
tubuh Yusuf bergetar dahsyat
ia kembali berontak melawan sakit
kertas-kertas terbang dari meja ke lantai
berisi coretan-coretan yang belum selesai

Wisnu Maulana Yusuf

Yogyakarta, Desember 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *