Mikhaila I

Sepasang sayap yang dikerahkannya bukanlah sebatas tanpa tujuan, melainkan hendak menerobos paksa masuk ke dalam gerbang-gerbang ketenangan dan kedamaian.

“Berhenti di sana nona,” sapa ramah sang penjaga gerbang dengan lima jari. Tubuhnya tak berbentuk, hanya asap keabuan yang mengangkasa, namun nampak menyerupai seorang lelaki gagah tak bernama.

Wajah gadis ini datar, tatapan tajam ia lemparkan ke sekeliling netranya memandang. Ukiran-ukiran kuno yang terlukis di badan gerbang ini tidaklah sulit untuk di baca sang gadis. Satu kata yang menarik atensinya adalah “DIAM! Lalu hembuskan.” Sebuah tanda tanya yang cukup menguras logika.

“Kembalilah, bukan tempatmu berada di balik gerbang ini.”

“Ehmm, Mikhaila Vanerousa,” ia hanya bergumam sambil menunjukan pola-pola pada angkasa yang tersusun membentuk sebuah nama. Yah, ia adalah seorang gadis malaikat dari salah satu tingkat platinum. Merupakan level tertinggi dari tiga tingkat di bawahnya. Perak, silver, gold dan platinum.

“Kukatakan sekali lagi, meskipun kau adalah anak dari Lucius Vanerousa, aku tak akan mengizinkanmu melewatinya. Dengarlah! Hanya ada penderitaan, kekecewaan, kesakitan yang sangat menyiksa siap membungkusmu jika saja kau sudah membukanya.”

pixabay.com

Mikhaila mengangguk. Ia cukup mengetahui resiko terbesar apa yang akan di laluinya nanti, namun ia sudah terlalu jengah. Putus asa dengan kehidupannya dalam peraturan demi ketentraman. Tapi sungguh, ia tak pernah merasakan apa itu yang di namakan ketenangan.

“Mencoba hal pahit demi mendapatkan ketenangan apa itu salah?” Jemari dan tubuhnya bergerak mengisyaratkan. Bukan karena ia tak mampu bersuara atau dilahirkan cacat sebagai malaikat. Ia adalah gadis yang sempurna. Rambut legam serta paras manisnya tidak ada yang mampu berpaling ketika bertatapan dengan dua buah dandelion bersinar di matanya.

“Ketenangan apa yang kau maksud? Bukankah kemewahan, kecantikan serta kekuasaan sudah kau miliki saat ini.”

DIAM! Lalu hembuskan.

‘Apakah maksud dari kalimat ini’ sementara diam adalah cara yang tepat untuk menjawab. Lalu? Ya lalu? Gadis ini terus menggelengkan kepalanya. Sungguh apa yang harus ia hembuskan.

“Benar nona, pergilah. Ada jurang penyiksaan yang akan kau dapati di sana. Mungkin kau akan merangkak, tertatih bahkan sampai mati lalu reinkarnasi baru bisa mengakhirinya.”

Dari buku kuno yang sempat di bacanya sebelum menuju gerbang penderitaan katanya mengatakan ‘seseorang akan menghasutmu, ia akan memberitahukan kebenaran tanpa tahu beribu kisah yang akan terjadi kelak dalam hidupmu’

Mungkin itu benar. Hanya akan ada penderitaan, kekecewaan lalu kesakitan yang akan ia dapatkan nanti setelah membukanya. Tapi kedepannya? Tidak ada yang tahu. Kecuali tuhanMu dan dirimulah yang melewatinya. Pada dasarnya kau hanya perlu berjuang, kalaupun sesuatu yang buruk siap menghadang sebuah jalan. Bukan berarti hal-hal indah yang direncanakan Tuhan tidak kau dapati. Hanya saja kau perlu berjalan yang salah terlebih dahulu.

Dwi SusianiĀ 

Bandarlampung, 26 Desember 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *