Nada Nada Rindu

pixabay.com

Malam ini tak ubahnya seperti malam sebelumnya. Tiga hari tiga malam Silvi merasakan dingin namun tak meriang. Rindu begitu terkatung membayangi pikiran dan jiwanya. Derasnya hujan malam ini meresap pada suasanan kehampaan. Semakin menambah rindu ini meronta-ronta. Entah kemana akan ia curahkan segenap rindu yang menggebu itu.
Silvi tak ingin terus terbungkam seperti ini. Silvi harus melakukan apapun yang entah itu dapat menjadi pelunas rasa rindunya, selain perjumpaan. Dedaunan di luar sana berdendang dengan rintik tangis hujan. Mungkin itu mengundangnya untuk bergembira, mungkin pula untuk bernyanyi. Menyuarakan luapan isi hati yang terbungkam dalam sendu.
Desir angin yang meniup bagai suara kekasihnya memanggil-manggil namanya. Silvi beranjak dari tempatnya, melangkah pada jendela yang rapat. Tangannya membuka jendela, melayangkan pandangan pada alam yang sedang diguyur rahmat. Hanya muka kecut yang ia hadirkan, sebab tak seorangpun yang hadir di luar sana. Silvi pun kembali pada sofa merah empuknya, dengan secangkir kopi dan sepiring pisang goreng di meja. Hidangan istimewa yang selalu menemani kala rintik hujan bernyanyi, tak butuh makanan mahal baginya.
“Mungkinkah kau di sana juga merindu padaku?” tanya Silvi pada dirinya sendiri.
Silvi buka smartphone, namun tak ada satupun tanda pesan chat masuk. Mungkin lagi sibuk, begitu pikirnya. Apa mungkin sibuk sampai berhari-hari, mengalahkan pegawai kantoran saja. Sama-sama kuliahnya, tugasnya juga sama. Silvi makin berpikir negatif bila saat-saat seperti ini. Ia melirik pada jam dinding yang merangkak pada angka sebelas. Sudah jam sebelas malam, mata cantik Silvi enggan diajak ke peraduan yang menawarkan kehangatan tilam putih dan bantal guling kenyamanan. Seketika wajah cantiknya menoreh senyum, tak perlu ambil pusing ataupun terlalu meratapi. Rindu itu memang sewaktu-waktu datang, terkadang sehari berjumpa pulangnya masih saja bicara soal rindu.
Gadis berusia dua puluh tahunan itu mengarahkan pandangan pada sebuah piano usang yang berada tepat di depan meja makan, dia sengaja meletakkannya di sana. Terkadang inspirasi bersyair datang di saat dia sedang asyik memanjakan perut yang meronta-ronta. Perutnya kali ini tak meminta untuk dimanjakan. Silvi melangkah menghampiri piano usang pemberian Almarhum Bapak Ali Ghufron, salah seorang guru kesenian di sekolahnya dulu.
“Lebih baik aku menyanyi. Rindu malam ini agaknya ingin berjumpa dengan alunan nada syahdu.” ujarnya sambil mulai menggerakkan jemari lentiknya pada piano usang peninggalan salah seorang guru terbaik di sekolahnya. Silvi memainkan lagu, meski bukan pemain piano profesional. Setidaknya nada-nada yang mengalun bisa mengobati kobaran kerinduan malam ini.
Silvi melirik pada kaca jendela, tampak pohon-pohon cemara di depan rumah melambai-lambai. Segera ia mainkan piano dan bernyanyi, hujan di luar ikut bersenandung mendengar alunan melodi syahdunya. Bahkan seisi rumah yang penuh perabotan sederhana ikut berdendang ria.
Bimbang aku sementara malam mulai datang
Hasratku ingin bercermin tapi
Cerminku pecah seribu
Ibarat bunga aku takut banyak kumbang yang hinggap
Aku tak ingin tangkaiku patah, aku tak ingin itu terjadi
Hanya dia yang ada di antara jantung hati
Tempat bermanja tempatnya rindu
Tempat curahan hati yang damai
Entah apa bagaikan kayu basah dimakan api
Api curiga api cemburu api kerinduan yang membara
Wahai angin kabarkan, melati di depan rumahku menantimu
Wahai angin kabarkan, melati menanti.

Yaa muqollibal qulub, tsabbit qolbi ‘ala diniik. Hanya itu yang selalu dia panjatkan, pada Sang ‘Azza wa Jalla yang selalu mencurahkan segenap kasih sayang pada hamba-Nya. Rindu ini ia pasrahkan dalam do’a, Allah Maha Pemurah.
“Biarlah rindu ini menggelora. Akan kusampaikan lewat do’a dan nada-nada syahduku, Sayang.” ujar Silvi seraya menghadirkan wajah kekasihnya. Pelupuk matanya yang indah menggambarkan kerinduan yang teramat dalam.

Alfat Wisnuwardana

Malang, 20 November 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *