Lampion Kakek

pixabay.com

Usia senja saatnya menikmati hasil kerja keras di waktu muda. Memperbanyak bekal untuk dibawa ke alam selanjutnya. Ya bukan berarti saat remaja hanya bersantai ria tanpa ibadah, sehingga nyawa di ujung tenggorokan baru taubat.
***
“Ini untukmu, bawa saja pulang.” Kakek menyodorkan lampion kertas berbentuk ikan kepada anak kecil di hadapannya.
“Gratis, Kek?” Tanya anak itu.
“Iya. Nanti kalau lampu di rumahmu padam pake saja lampion itu.”
“Horeeee, terimakasih ya Kek.” Teriaknya sambil berlalu meninggalkan toko Kakek.
“Sama-sama. Langsung pulang dan jangan keluyuran.” Entah bocah itu dengar atau tidak, Kakek berteriak lantang menasihatinya.
Ini bukan pertama kalinya aku melihat Kakek memberikan lampion buatannya dengan cuma-cuma. Apalagi kepada anak kecil. Kakek enggan menerima uang dari mereka. Bahkan Kakek begitu bahagia setelah bisa memberikan lampion itu secara gratis. Bukan ingin dipuji, Kakek melakukan itu ikhlas tanpa beban. Hanya saja terkadang aku tidak suka. Kakek membuat lampion itu dengan susah payah, belum lagi modal yang harus dikeluarkan. Lantas dengan mudahnya Kakek bagikan ke orang lain. Tapi yang aku heran hidup Kakek tak pernah kekurangan.
“Mengapa Kakek seringkali memberikan lampion itu secara gratis?” Akhirnya pertanyaan yang lama aku pendam keluar juga.
“Kakek senang.” Jawabnya singkat.
Ha, senang? Jawaban Kakek itu saja. Apa iya dengan hanya memberikan itu Kakek senang? Ah, jawabannya semakin membuatku penasaran.
“Maksud Kakek?”
“Bukankah anak-anak itu senang ketika Kakek memberikan mereka lampion tanpa bayar? Ya, kita mesti senang bukan melihat mereka senang? Ah, harusnya kau lebih paham soal itu, Jid.”
“Iya, Ajid paham Kek. Tapi setidaknya uang dari mereka kan bisa Kakek gunakan untuk keperluan Kakek.”
Kakek hanya senyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar pernyataanku barusan. Salahkah? Kurasa benar adanya. Toh uang itu juga hasil jerih payah Kakek. Bukan didapat dengan cara haram.
“Ada satu hal yang harus kau ketahui, Jid.”
“Satu hal?” Tanyaku
“Iya, satu hal. Mungkin sekarang kau belum merasakan indahnya berbagi. Karena kau sendiri jarang memberikan sebagian hartamu dengan alasan kau sendiri masih kekurangan. Sekarang Kakek mau bertanya, dalam bulan ini adakah rupiah yang kau sumbangkan ke orang lain? Atau adakah sisa makananmu kau berikan ke mereka yang membutuhkan?”
Pertanyaan Kakek membuatku berpikir lama. Memang dalam bulan ini bahkan sudah dua bulan aku tak pernah lagi memberikan sepeser pun uang kepada siapa pun yang membutuhkan. Bukan aku tak mau, hanya saja aku benar-benar lagi kanker alias kantong kering. Ya maklumlah anak sekolahan. Aku harus nyicil uang motor. Dan itu pun kadang aku masih minta tambah sama Kakek. Karena semenjak kedua orang tuaku tiada, Kakek lah tempatku mengadu. Ditambah lagi aku tipikal orang yang agak pemalas. Sepulang sekolah hanya berdiam di rumah dan boleh dihitung jari aku ikut menjualkan lampion Kakek ke pasar. Untung aku punya Kakek yang baik. Hehehe.
“Tidak pernah kan?” Tanya Kakek seakan tahu jawaban apa yang bakal aku lontarkan.
“Iya, Kek. Tapi kan Ajid tidak ada uang lebih. Kan Kakek tahu sendiri Ajid aja sering minta uang Kakek.”
“Tidak ada uang lebih atau tidak ada niat?” Tanya Kakek lagi.
Ya ampun pertanyaan Kakek kali ini membuatku terdiam. Ingin sekali aku membela diri, dengan mengatakan bahwa tidak ada yang bisa aku berikan. Tapi, ya sudahlah. Kakek tak akan paham dengan kondisiku.
“Kakek bukannya tak paham. Kamu yang tak paham arti dari hidup ini.”
Aduh, Kakek seakan bisa membaca pikiranku.
“Kamu dengar baik-baik. Sedekah itu bukan saat harta kita berlimpah saja. Kapan pun kita harus menyisihkan sebagian harta kita. Karena di sana ada hak orang lain yang mungkin tak kita sadari. Mengapa kau selalu merasa kekurangan? Mengapa kau katakan kalau kau benar-benar tidak ada sesuatu yang bisa kau berikan? Padahal kau masih bisa makan, masih sempat berleha menatap layar televisi. Masih sanggup mondar-mandir ke sana sini. Itu yang kau katakan tidak mampu? Kau hanya sedang terlena dengan kenikmatan dunia, sehingga lupa memandang ke bawah. Itulah yang membuatmu serba kekurangan. Ah, Kakek jadi ceramah kan.”
***
Airmataku menggenang di pelupuk dan seketika tumpah tak dapat kubendung.
“Bang Ajid kenapa nangis? Gak tega lampionnya jatuh ke tangan aku? Baaaaang! Bang Ajid! Bang!”
“Eh iya, Dek.” Teriakan bocah itu sontak membuyarkan lamunanku.
Aku hanya terkenang percakapanku dengan Kakek tiga bulan yang lalu, sebelum beliau meninggal. Saat sedang tidur siang dan Kakek tidur untuk selama-lamanya.
“Dari tadi aku nungguin lampionnya, tapi Bang Ajid kuat betul megangnya. Mana Bang Ajid ngelamun sambil terus ngeliat tuh lampion , laah tiba-tiba nangis. Aku teriak baru selesai deh ngelamunnya.” Celoteh anak itu kepadaku.
“Gak papa sayang. Ya udah ini lampionnya bawa pulang ya.”
“Yeeeeeeeee. Makasih Bang.”
Ah, memang benar kata Kakek dulu. Alangkah senangnya bisa berbagi dengan sesama. Justru dengan berbagi akan menambah harta kita. Baik di dunia mau pun di akhirat.
Bahagia sesungguhnya adalah ketika kita mampu berbagi dengan orang lain meski kita tau bahwa kita sendiri penuh kekurangan. Dibandingkan dengan mempunyai banyak harta namun, tak mampu berbagi sedikit pun.
Kakek memang tidak mewariskan harta berlimpah. Tapi, kebiasaan Kakek untuk berbagi dengan sesama itu warisan yang paling berharga yang aku dapatkan. Dan sejak saat itu aku tahu arti hidup yang sesungguhnya.
Terimakasih, Kek.
Oh ya, lampion-lampion Kakek berjejer rapi di sepanjang jalan. Menghiasi setiap sudut rumah. Penerang kala gelap menyerbu desa ini. Semoga menjadi penerang Kakek di sana juga. Aamiin.

End. 

Dho Hindun

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *