Secarik Senyum Untuk Ibu: Dari Pemulung Kecilmu

Tak ada Hari Ibu kemarin…
Waktuku; pagi, siang, dan sore kutembus untuk terbang di sudut kota
Takdir menyuruhku untuk mencintai kerasnya hidup
Dan melupakan bangku sekolah yang barangkali menawarkan kebahagiaan esok jika t’lah tiba

Tak ada Hari Ibu, hari ini…
Bagiku waktu malam adalah hariku bersamanya
Menghitung seberapa banyak keringat yang terjual hari ini
Dan mulai menata pertanyaan
ke mana setelah ini? merebahkan pikiran atau menangisi kelelahan?

pixabay.com

Tak ada Hari Ibu, esok hari…
Pagiku adalah kayuhan pertama melintasi pasang surutnya lautan manusia
Di bawah mentari atau terkadang disuguhi airmata Tuhan
Polusi sebagai kawan setia
Gubuk reot sebagai stasiun menuntaskan haus dan lapar

Aku di sana bersama Ibu yang setia

Hari Ibu hanya untuk mereka, sedangkan aku merangkai bunga impian untuk kemudian  kujual dan kubeli sebuah senyuman, dari Ibu.

Shofiyah 
Jember, 23 Desember 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *