Pesanan Ibu

Saat mereka sibuk merayu wanitanya. Untuk berfoto ria lalu disebarkan. Menabur kata penuhi dunia maya.

Sedang di sini aku hanya menatap gambar usang tergantung. Ada wanita berdiri dengan kerudung hitam bertengger di kepala. Hamparan bunga menghiasi bajunya. Ah, cantik.

Senyum tergurat di bibir. Mata berbinar senang. Cerah pekat melekat, solek wajah ayunya. Ah, makin cantik.

pixabay.com

Selembar gambar luruhkan selaksa kenangan. Rentetan cerita dahulu mulai menggenang. Rindu pun berkubang. Apa yang harus aku lakukan?

Kurayu saja pawana. Untuk membawa hasrat ini kepada wanitaku. Yang tengah berbaring di bawah langit tanah.

“Pawana, tolong katakan pada Ibu. Jangan cemburu dengan mereka yang menyebar foto wanitanya. Jangan marah bila aku tak sesibuk mereka. Mengucap selamat di tanggal dua puluh dua ini. Aku hanya ingin Ibu tau. Bahwa aku tak ingin semua sebatas hari ini. Maka, setiap hari aku hidangkan doa terbaik. Menghaturkan kasih lewat Dia yang Pengasih. Karena hanya cinta dan sayang-Nya yang mampu menghantarkan rasaku.”

Tenanglah di sana dalam dekapan-Nya.
Ini secuil doa pesananmu dulu, Bu.
Selebihnya cukuplah Dia yang tahu. Tak perlu aku beberkan pada semesta.

Dho Hindun

Jambi, 22 Desember 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *