Bidadari Senja

Kau menjatuhi netra ketika matahari meluncur turun menjemput senja

Kau ramu hening itu menjadi suatu getar yang indah, memabukkan
Senja bicara tanpa aksara, membawa kita menikmati kenangan yang perlahan terkikis dalam ingatan
Ada pancaran silau tiap kali ombak membelai kaki telanjangmu,
Senyum terbit melumpuhkan sayap-sayap camar yang terpaku pada pesona

Kau tuntun jemariku menyulam potongan-potongan kisah dari kampung halaman, hingga terselip rasa asing dalam dada
Hangat pancaran bulan, berpadu dengan dingin butiran salju yang kau cipta di atas telapakmu
Malam kau raup, hujan kau jadikan lautan

pixabay.com

Kita mesti usaikan singkat waktu yang sempat semesta anugerahkan, tanpa ada sesal tersisa
Hingga ketika fajar merangkak dengan seringai di sudut bibirnya, tak ada alasan bagi kita untuk terluka sebab waktu tak lagi ada menyelimuti kita dalam eksistensi yang sama

Tak pernah kusesali perjumpaan singkat ini
Kabut tubuhmu yang kian raib akan menjelma jadi bidadari senja, mendekap kebisuan yang memenjara petang

Mengingatkanku tentang damai semalam, kita nikmati bersama

Septi Nofia Sari 

Magelang, 21 Desember 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *