Berkah

Ia manusia biasa seperti pada umumnya. Makan, minum, dan tidur ketika malam bertandang. Beberapa orang menjulukinya sebagai sesosok manusia luar biasa. Sementara waktu berdesis bahwa ia tak memiliki apa-apa kecuali seutas senyum yang diobral percuma di jalan-jalan kampung.

Jika kau berjalan dua belas kilo meter sepanjang hari, tentu saja dahaga dan keringat bertempur menyiksamu, maka tidak dengannya, ia tidak menjadikan semua bulir keringat di tubuhnya sebagai simbol peperangan terhadap kehidupan, ia justru menjadikan mereka sebagai pondasi yang mengukuhkan kehidupan keluarganya. Siapa pun akan menatapnya miris, ia mendorong sepeda tua bututnya, menuruni dan mendaki lereng gunung menuju perkampungan tetangga. Tidak cuma-cuma mengisi waktu olahraga, ia melakukannya sebab memenuhi tanggungjawab sebagai seorang Ayah.

“Kenapa tidak pensiun dari pekerjaan itu, Pak?” seorang mahasiswa pernah mengajukan pertanyaan di bawah atap warung kelontong yang sudah tidak menampakkan kehidupan.

Lelaki itu tersenyum manis, memamerkan sederet gigi tidak rapinya. “Hidup merupakan perjuangan demi mendapatkan cinta, baik dari pemilik kerajaan langit, juga kerajaan duniawi.”

Jika kau pahami kalimat yang ia ungkapkan, kau mampu menebak bahwa orang tersebut adalah orang yang berpikir cerdas, sebagaimana kesimpulan mahasiswa.

Pemuda itu merekatkan ranselnya, mengembuskan napas perlahan. September hujan masih berderai di muka bumi, ia tak membawa jas hujan, terpaksa menyingkir ke tepian, berteduh di warung yang telah mati. Itulah pertama kalinya ia bertukar sapa dengan lelaki tua, hingga hari-hari selanjutnya. Ia sering melihat punggungnya mendorong sepeda di tanjakan, jemarinya menggenggam kuat-kuat sepedanya agar tidak terjun bebas di jalan turunan. Lelaki itu dijadikannya simbol perjuangan, namanya akan dikenang sebagai seorang pahlawan.

“Apa kau tidak pernah merasakan lelah, Pak?”

“Kenapa aku harus lelah, Nak? Setiap hari aku melihat senyum anak-anakku mekar, melihat mereka makan dan mampu bergerak di alam luar sesuai yang mereka harapkan dengan jerih payah keringatku, tentu saja aku tidak punya alasan untuk bermalas-malasan dengan kata lelah, Nak. Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, pernahkah kau melihat orangtuamu berhenti bekerja? Sekali pun mereka berwajah lesu?”

Pemuda itu diam, ia hanya tersenyum, melambaikan tangan lantas meninggalkannya sendirian.

Setiap hari, tidak pernah ia alpa menuntun stang sepedanya dengan penuh ketulusan. Ia menjadikan caping sebagai pelindungnya dari terik matahari. Jika langit meruntuhkan buliran air hujan, maka plastik keresek akan dipakainya untuk melindungi kepalanya. Seringkali kaos oblong kusam yang dikenakan, sandal jepit yang semakin menipis, juga celana panjang yang lutut kirinya robek, entah termakan tikus kelaparan, atau dimakan rentanya zaman. Pekerjaannya sederhana, mendorong sepeda dengan beban cairan di punggung sepeda yang diletakkan di dalam keranjang. Cairan-cairan itu penyemangat manusia-manusia yang diserang lelah, penyembuh penyakit orang kampung, pengusir nyeri di otot sebab bekerja.

Menyusuri jalan raya dari kampung ke kampung, memasuki gang-gang rumah warga, menjajakan cairan yang dibawa punggung sepeda. Cairan yang terbuat dari kunyit, jahe, daun papaya, temulawak, kencur yang dipadukan dengan beras, dan lain sebagainya. Tariklah sebuah kesimpulan tentang lelaki tua itu, kau tentu sudah paham bahwa ia adalah penjual jamu keliling.

Di zaman modern, ketika teknologi dan media masa melejit secepat kedipan mata, orang-orang telah memperagakan harta-harta berharga di tempat-tempat umum sebagai ajang pameran, ia masih setia di bawah sengatan terik mentari, dirundung pilunya langit kelabu, mendorong sepedanya demi menjajakan ramuan berkhasiat. Melangkah, meratapi jejak di atas aspal, pantang pulang sebelum kantong penuh dengan rupiah, meskipun sekadar keping receh orang-orang lemah.

Lelaki tua itu telah mendapatkan tempat di hati-hati penduduk kampung, nyaris lima kampung mengingat namanya, bahkan jika diberi kesempatan takdir akan membuatkannya tugu monumen untuk mengabadikan jasanya membantu masyarakat pedesaan mengusir lesu juga linu. Meski engkau menatapnya menyedihkan sepanjang hari, namun penduduk kampung tidak memandangnya sebelah sisi, mereka justru menaruh hormat pada raut wajahnya yang mengeriput, ia mendapati gelar baru. Lelaki hebat.

Pemuda itu belajar dari semangatnya. Ia bukannya orang yang malas dengan rutinitas di kampusnya. Ia juga bukan orang yang meninggalkan syukur di dalam kubangan kehidupan hedonis apalagi matrealis, langkah nadinya dibiarkan mengalir apa adanya. Pagi bangun, bermain-main ke markas tongkrong, siang berangkat kuliah, sore kumpul bersama teman, menghabiskan waktu di kafe-kafe perkotaan, mencicip kopi-kopi, memperbincangkan gadis seksi yang diincar banyak mata keranjang.         Secara ajaib, lelaki tua itu merubah jadwal hitamnya.

Apakah ia menjadi lebih baik dari sebelumnya? Tidak, ia justru menjadi lebih buruk, jarang masuk ke kampus, bimbingan skripsi tidak diindahkan. Suatu hari ia duduk di taman kampus, menyatukan kenangan masa lalu dengan perjuangan yang akan dirintisnya di masa depan. Ia menyandarkan tubuhnya di punggung bangku taman. Dapat kau lihat beberapa mahasiswa lalu-lalang di jalan kecil, juga dengan jelas kau mampu merekam beberapa dari mereka yang tongkrong memutari air mancur. Bunga kertas memayungi wajah-wajah pemeluk harapan masa hadapan. Dari penongkrong, ia menjadi pelamun di taman kampus.

“Orangtuaku tidak semenyedihkan  lelaki tua itu, aku tinggal duduk manis, masa depan sudah jelas, menjadi pewaris kekayaan keluarga, bahkan tidak lulus wisuda pun tidak masalah.” Gumamnya  sewaktu berangkat kuliah. “Sayangnya, apakah di masa mendatang aku akan memahami makna perjuangan sepertinya? Ibu dan Ayahku bukan tipikal orang yang mau hujan-hujanan dan panas-panasan, mereka menumpangi mobil, pelayan pribadi, yang mereka pikirkan adalah mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya,  sementara lelaki tua itu? Kalau satu gelas jamu seharga seribu lima ratus rupiah? Berapa ribu yang ia dapatkan sehari? Apakah ia mampu mencukupi kebutuhan anak dan istri? Ah, sudah kupastikan pendidikan anaknya tentu rendah, itu menyedihkan sekali.”

“Kenapa kau masih berdiri di sini, Nak?”

Pemuda itu sengaja tidak melanjutkan perjalanan ke kampus. Ia berhenti di warung kelontong yang tidak berpenghuni, memarkir sepeda motornya, satu jam lamanya menunggu kedatangan lelaki tua, ia mengharap senyum manis keluar menentramkan jiwanya yang sungsang sebab tidak tahan dengan kata menunggu, ia ingin menyulap keringat lelah penjual jamu menjadi hidangan lezat menanti senja rebah di ufuk Timur, sayang, harapannya retak, mendung sepertinya akan dijadikannya kambing hitam untuk mengalahkan kalimat barusan. Alam memang tampak berkabung. Ia tidak sedang menangis, sayangnya mentari sedang berselingkuh dengan kegelapan.

“Sebentar lagi hujan, seperti biasanya, Pak. Aku tidak membawa jas hujan,”

“Belum hujan, Nak. Baru mendung,”

“Nanti di tengah-tengah jalan pasti akan hujan deras, lebih baik aku sedia payung sebelum hujan turun, anggap saja aku sedang berteduh sebelum hujan turun,”

“Kau sedang berkelit, Nak. Orangtuamu bahkan membiarkan punggung mereka diguyur hujan, kepala dipanggang matahari, kau? Hujan belum turun sudah membuat alasan atas nama hujan?’

“Orangtuaku tidak seperti itu, Pak. Mereka hidup senang dan penuh dengan kecukupan.”

Lelaki tua mengembuskan napas. Ia melepas tudung kepalanya, mengibaskan di depan muka usai memaarkir sepedanya. Botol-botol jamu masih meninggalkan setengah cairan. Perjalanan belum pendek, ada tiga kampung lagi yang menunggu ramuan kuatnya.

“Kalau begitu apa yang kau berikan untuk mereka? Mentang-mentang hidupmu nyaman, kau punya kekuasaan untuk bermalas-malasan? Bisa jadi masa depanmu tidak semanis kehidupan orangtuamu, jangan sampai Tuhan memberimu azab, murka karena kebiasaan burukmu yang mengabaikan hal positif, kau akan hidup susah, dan tidak mampu berbuat apa-apa, sebab dari kecil kau hidup dalam kesenangan,” kalimat Lelaki tua itu menghujam ke palung hatinya yang paling dalam. Ia telah air liurnya. Hendak menyanggah, namun tidak ada kalimat tepat yang dapat dirangkai pikirannya.

“Berangkatlah belajar, jangan belok-belok ke tempat-tempat tidak penting. Kau tahu betapa susahnya diriku menyekolahkan ketiga anak-anakku? Jangan kau lukai aku dengan sikapmu yang seperti itu, Nak. Hal itu membuatku berpikir negatif kepada mereka, mungkinkah mereka juga enggan belajar sepertimu?”

“Kelas berapa?”

“Yang paling kecil masih duduk di bangku dasar, yang satu kelas tiga SMA, yang satunya…”
“Aku berangkat kuliah, Pak.”

Ia belum mendengarkan nasib pendidikan anak pertama lelaki tua.

***

Lagi, ia duduk di bangku taman kampus, membiarkan jasadnya dikerubungi gerimis. Mahasiswa berteduh di perpustakaan, di lorong-lorong kampus, bergurau di kantin, sebagian masuk kelas masing-masing, ia termenung dengan kesendiriannya, menyadari kehidupan linunya di rumah. Adakah jamu yang mampu menyembuhkan linu perasaannya? Seperti kisah orang-orang kaya pada umumnya, apa saja memang dapat diraih dalam sekejab mata, namun ia kesepian. Jangan salahkan dirinya jika terjun di dunia luar mencari keramaian, menghamburkan uang karena memang itu yang dimilikinya, berkumpul dengan teman-teman, berceloteh asal-asalan, menanggapi persoalan manusia-manusia yang tidak penting, justru menganggap hal berat menjadi ringan, semisal kuliah! Ia tidak menganggap itu akan memengaruhi kehidupannya kelak.

“Hujan, kau mau sakit untuk dijadikan alasan berkelit dari dosen pembimbing skrikpsimu?” Wanita berjilbab abu-abu menyapanya, ia menegakkan payung, tersenyum manis kepadanya, “ayo ke perpustakan lalu temui dosenmu, ia sudah datang.”

“Erin! Kenapa kau belajar Ilmu Ekonomi? Kau ingin bekerja di kantor kelak? Rin, tak perlu aku lulus kuliah, aku sudah bisa menjadi presdirmu,” selera humornya tidak lucu, gadis yang dipanggilnya Erin hanya tersenyum sinis, mengembuskan napasnya.

“Aku bukan hanya belajar Ilmu Ekonomi, Fa! Ilmu agama, sosial, alam pun aku kupas pelan-pelan.”

“Untuk apa? Apakah semua itu akan berguna bagi masa depanmu? Bukankah cukup kau bekerja makan dan minum? Semua manusia pada dasarnya hanya membutuhkan makan dan minum, rumah mewah kuanggap makanan, mobil mewah kuanggap makanan, keluarga juga kuaggap makanan, minumannya jalan-jalan, bahagia, lelah, lantas kembali lagi mencari makan keesokan harinya.”

“Itu dirimu, Alfa! Tidak denganku yang dari kecil hidup susah,”

“Kau hidup susah? Bukankah kau punya mobil? Kuamati kau juga jarang dipanggil karena kekurangan biaya,”

Erin tersenyum. Ia menyeimbangkan gagang payung. Gerimis hinggap di rambut Alfa, namun ia tidak peduli.

“Aku tidak ingin bercerita panjang tentang hidupku, Fa! Namun coba kau tafsirkan sendiri, andaikan dirimu gagal belajar, dari mana kau akan membangun istana cinta keluarga? Ralat dari mana kelak di masa depanmu akan mencari makan? Hidup memang tidak membutuhkan banyak teori, namun ia perlu teori dasar, kau harus memupuk otakmu dengan ilmu agama, bubuhi aspek sosiologi, rangkum kiat-kiat mendidik anak, lantas akhirnya kau harus memecahkan pokok terpenting ‘makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.’ Akan kau dapatkan ilmu tersebut dari mana? Jika kesempatan belajar itu kau sia-siakan? Seperti merekakah? Yang menikah dini lantas cerai berkali-kali? Anaklah yang menjadi korban, kedewasaan tidak tertanam, selingkuh dengan sembarang pasangan. Itulah kehidupan realis. Agama tinggal nama di dada. Siapa yang akan menyelamatkan generasi jikalau kau sendiri hanya duduk di kafe-kafe malam?”

“Apakah makan serumit itu, Rin?”

“Buktikan saja di masa depanmu!”

“Bolehkah aku menikah denganmu? Setidaknya untuk menjauhi hal negatif, jika aku terjatuh lagi maka kau bisa kujadikan sandaran.”

“Ayahku mungkin tidak akan membiarkanku menikah dengan orang yang hanya mengandalkan warisan rahim keluarganya. Aku ke perpustakaan dulu,”

Aish, jawabanmu serius! Aku juga tidak akan menikah denganmu! Aku hanya bercanda!”

Erin meninggalkannya diamuk gerimis. Taman hening. Tak seorang pun mahasiswa yang mau bermain-main dengan gerimis yang berubah menjadi hujan kecuali dirinya, dirinya yang malang. Erin? Siapakah Erin, mengapa sedekat itu dengannya? Peduli dengan kalimat panjang untuk menasehatinya? Bahkan meluangkan waktu mencarinya di taman? Kau tahu? Mereka adalah teman satu jurusan. Bidang mereka sama. Orangtua Alfa menyuruhnya belajar Ilmu Ekonomi sebagai bekal masa depannya menjalankan perusahaan.

***

Tahun berakhir, sebagian mahasiswa menganggap tahun berakhir. Dalam tanda kutib, ‘tahun pahit mengerjakan skripsi’ wajah mereka beberapa bulan tegang di hadapan layar komputer, bersungut-sungut ketika mencari referensi bacaan, bermalas-malasan menganalisis lapangan. Terbayar lunas hari itu. Ada beberapaa orang yang berwajah gelap, namun banyak yang riang, seperti Erin. Toga dikenakannya, ia mendapat predikat Cum Laude. Ia sangat manis dengan riasan salon di wajahnya. Entah sepagi apa ia pergi ke perias wajah, merengek didandani untuk merayakan keluusannya. Kawan, jika kau lihat sekitar, maka mahasiswa-mahasiswa terlihat memesona, wajahnya ranum, manis-manis, tampan-tampan, apalagi yang singgah di atas podium, rektor mengalungkan penghargaan, memberikan ijazah, menyalaminya bangga.

Prosesi wisuda usai.

Erin menghampiri kedua orangtuanya, memeluk hangat, melelehkan airmata di bahu ringkih ayahnya. Alfa melihat dari kejauhan, ada sesak yang mengganjal ulu hatinya. Ada ketakjuban yang membungkam bibirnya, ada hormat yang membuat langkahnya tak mau bergerak. Ia mematung, merasa dirinya hina sebab melalaikan kesempatan, kedua orangtuanya menggeleng-gelengkan kepala, berceloteh atas dasar kecewa. Ia mengabaikan, fokus pada Erin dan kedua orangtuanya.

“Hidupmu sudah senang! Apa-apa tercukupi! Bagaimana mungkin kau tidak lulus, Fa? Tugasmu hanya belajar, tak perlu kau perpusingkan biaya, uang jajan dan tempat tinggal! Belajar dan belajar! Kurang apalagi?”

“Bagaimana kau kalah dengan anak penjual jamu? Ia bahkan mendapatkan predikat manis, kau sungguh memalukan harga diri keluarga, Fa!”

Lelaki tua itu mengecup pipi putrinya. Menangis haru karena bangga.

“Bagaimana lelaki tua itu mampu menyekolahkan anaknya, Yah?”

“Itu karena pekerjaannya berkah. Mungkin Ayah harus belajar darinya, agar otakmu tidak lagi sembrono! Kau sangat-sangat memalukan, Fa! Ayah akan menarik kartu kredit dan tidak memberimu uang jajan. Cari biaya sendiri untuk skripsimu tahun depan!”

“Berkah?”

-Selesai-

Magelang, 11 November 2017.

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *