Perahu Kertas

Serasa aku sedang berada di pusaran baskom yang sangat luas, dimana cakrawala berbentuk lingkaran penuh dengan langit sebagai tutupnya. Perahuku terombang-ambing di atas lautan lepas, kadang digebah angin, bahkan terlempar jauh, beruntung tidak sampai terbalik.

Aku tak akan surut meski air laut pasang. Aku tak bakal mundur meski gulungan ombak menerjang. Dan aku tak mungkin berhenti walau karang menghadang. Niatku sudah bulat. Aku akan mencari Bapak demi Umma. Tak ada yang bisa menghentikanku selain Dia yang menggenggam nyawaku.

Lima belas hari sejak meninggalkan pantai, aku masih belum menemukan daratan. Sejauh mata memandang, hanya cakrawala yang tertangkap mata. Lingkaran itu tak bosan-bosan menjadi terminal bagi terbit dan tenggelamnya matahari. Seolah ia sedang menguji keseriusanku untuk melaluinya.

Sebelum berlayar, aku teringat dua tulisan tangan Bapak yang kuanggap sebagai pesan. Ia menuliskannya pada buku lusuh. Kemudian buku tersebut Umma berikan kepadaku. Entah kepada siapa pesan itu Bapak tujukan. Kuduga, itu hanya sebuah catatan untuk dirinya sendiri.

meninggalkan pantai

mengabaikan ombak

menerjang karang

membelah lautan

 

kau harus kenali cakrawala

sebelum melakukannya

 

Setelah membacanya, kertas itu aku jadikan perahu. Perahu itulah yang sekarang membawaku hingga ke titik ini. Entah di mana sekarang posisiku. Yang pasti, aku yakin bisa melewati cakrawala, menuju sebuah kepulauan yang terkenal dengan sebutan Nusantara.

Perahu kertas, satu-satunya seni melipat yang aku tahu. Waktu aku berusia 10 tahun, Bapak pernah mengajariku cara membuatnya.

“Di Indonesia, setiap anak bisa membuat perahu dari kertas. Dulu Kakek mengajarkannya kepada Bapak. Sekarang Bapak mengajarkannya kepadamu.”

“Indonesia itu di mana?”

“Indonesia sangat jauh dari sini, tetapi orang-orangnya sangat dekat dengan hatimu, Umma, dan warga Palestina pada umumnya.”

“Sangat dekat bagaimana, Pak?”

Kala itu, aku yang kadang masih mengompol dan suka merengek, belum bisa menangkap maksud Bapak.

Beruntung Umma tanggap. Ia segera memelukku sambil menjelaskan. “Sedekat kamu dan Umma!”

Setelah besar, aku baru paham sedekat apa Indonesia dan Palestina. Bukan Bapak atau Umma yang menjelaskannya, tetapi mengetahui sendiri dengan indera yang kupunya. Aku melihat saudara-saudara Bapak berbondong-bondong membantu kami. Mereka meninggalkan keluarga demi menolong kami dari kelaparan, membangun pos-pos kesehatan, juga mendirikan tenda-tenda pengungsian.

Aku sering mendengar tetanggaku bercerita bahwa orang-orang Indonesia kerap melakukan protes keras kepada negara-negara pro laknatullah Israel, penjajah dan zionis yang sering menzalimi kami. Selain pemerintahnya giat berdiplomasi dengan negara-negara lain untuk membela kami, warganya juga sering menyuarakan bagi kemerdekaan tanah air kami, berdemo di depan kedutaan Amerika Serikat, bahkan menggelar aksi bela Palestina di sebuah tugu kebanggaan mereka yang dihadiri ratusan ribu bahkan jutaan orang.

Dan aku pun merasakan betapa persaudaraan ini sangat dijunjung tinggi, dipertahankan, meski secara personal kami tak saling mengenal. Aku bisa mengatakannya karena Bapak adalah orang Indonesia. Belasan tahun ia berada di Palestina, mempertaruhkan nyawa demi mendukung perjuangan kami, membesarkan hati kami, dan merasakan penderitaan kami.

“Ia menangis melihat kami menangis. Ia dan teman-temannya tak akan makan sebelum bantuan yang mereka bawa cukup buat kami,” kata Umma mengenang Bapak.

“Seperti apa wajah Bapak sekarang ya, Umma?” Aku sudah agak lupa wajah Bapak. Yang kuingat wajahnya sangat berbeda dengan umumnya bapak teman-teman sekelasku.

Mata Umma berkaca-kaca. Tampaknya susah sekali baginya untuk menanahan agar kristal di bola matanya tidak mencair. “Kalau kau bercermin, seperti itulah wajahnya. Hidungnya pesek sepertimu. Kulitnya sawo matang. Ia lelaki paling baik di dunia!”

“Aku bangga memiliki hidung pesek, Umma!” kataku membesarkan hati Umma.

Umma terkekeh sambil menyeka air mata.

“Jangan menangis, Umma!” Ibu jariku bermaksud menyeka air pada pipi Umma, tetapi ia malah meremas jemariku, lantas membenamkannya pada dadaku. “Dalam darahmu mengalir jiwa seorang syuhada.”

“Apakah Bapak sudah mati?”

Umma menggeleng. “Umma tidak tahu. Semoga saja ia masih hidup agar bisa terus membaktikan diri kepada seorang perempuan yang telah melahirkannya.”

Jiddah?”

“Ia menyebutnya Nenek. Itu bahasa Indonesia untuk kata Jiddah

“Nenek?”

Ibu mengangguk, lantas memelukku. Kurasakan telingaku hangat oleh air mata.

Gulungan ombak setinggi dua meter menghantam perahu kertas yang kutumpangi. Wajahku tertampar air laut. Seluruh tubuhku basah. Aku tersadar dari lamunan.

Kulihat bintang berkelip-kelip. Langit sangat cerah. Bulan sabit mengambang, terselimuti kabut tipis. Sementara perahu kertasku terus terseret, mengikuti arah angin.

Kurapatkan jaket kumal yang dulu sering dipakai Bapak dalam setiap aksi kemanusiaan. Jaket berwarna hijau ini telah menjadi saksi betapa mulia orang-orang Indonesia kepada kami.

Aku tak pernah meragukan ketulusan para relawan Indonesia dalam membantu warga Palestina. Namun, jiwa mudaku tak kuasa menyembunyikan rasa penasaran, kenapa mereka tak kenal lelah memperjuangkan nasib kami.

“Indonesia dan Palestina adalah saudara,” jawab Umma ketika aku menanyakannya. “Jangan ragukan itu!”

“Iya, Umma. Sesama muslim memang bersaudara. Tetapi tak semua orang Palestina beragama Islam. Begitu juga para relawan Indonesia yang berada di sini. Mereka dari berbagai agama dan latar belakang.”

“Tidak harus menjadi muslim untuk membantu sesamanya. Agama lain juga mengajarkan cinta kasih dan solidaritas.”

Jawaban diplomatis Umma belum memuaskanku. Aku mencari jawaban lain, langsung dari orang Indonesia.

“Ketika Proklamator kami menyatakan kemerdekaan Indonesia. Ada dua negara yang pertama kali mengakuinya. Salah satunya adalah Palestina.” Suparno, salah seorang relawan dari Indonesia menjawab pertanyaanku.

“Hanya mengakui. Apa pentingnya?”

Suparno menatapku lekat-lekat. “Secara de facto, Indonesia sudah merdeka. Tetapi secara de jure harus mendapatkan pengakuan dari negara lain. Dan negaramu satu dari dua negara yang pertama kali menyatakan pengakuannya.”

“Jadi, itu semacam balas budi?”

Suparno tersenyum. “Jangan diterjemahkan secara kaku. Kebaikan kalian tidak akan pernah bisa kami balas. Hanya Allah yang bisa membalasnya. Kami hanya mengharap ridho-Nya dengan melakukan aksi kemanusiaan kepada bangsa yang sudah menganggap kami saudara. Barangkali, jika kami bernasib seperti Palestina, kalian akan melakukan hal yang sama.”

Aku terharu mendengarnya. Kekagumanku kepada Indonesia menjadi lebih luas. Sebelumnya aku mengagumi bangsa itu hanya karena dalam tubuhku mengalir darah lelaki Indonesia, tetapi lebih dari itu. Indonesia adalah sebuah bangsa besar karena di dalamnya terdapat orang-orang berhati besar.

Maka itu aku heran dengan penuturan Bapak yang sedikit bertolak belakang dengan kenyataan yang kulihat. Masih jelas dalam ingatanku ketika aku banyak bertanya kepadanya saat sedang mengajariku cara membuat perahu kertas.

“Kenapa orang-orang Indonesia mengajari anak-anaknya membuat perahu kertas?” tanyaku waktu itu.

“Entahlah! Yang jelas Indonesia adalah negara kepulauan, sehingga perahu adalah benda yang mudah kami temukan. Nenek moyang kami seorang pelaut. Ada lagunya, kapan-kapan Bapak ajarkan.”

“Ajarkan sekarang!”

“Sekarang kamu belajar membuat perahunya dulu.”

Bapak melipat-lipat kertas, menjadikannya sebuah perahu kecil. Setelah itu ia mengapungkannya di atas baskom berisi air. Aku senang bukan kepalang. Teman-temanku belum pernah melihatnya. Aku yang pertama kali.

“Perahu itu bisa berjalan di laut?”

Bapak menggeleng. “Kau harus membuat perahu betulan agar bisa mengarungi laut dengan digerakkan mesin berbahan bakar solar.”

“Solar itu apa?”

“Solar itu bahan bakar yang akan menggerakkan mesin perahu.”

“Seperti apa bentuknya?”

Ayah tampak berpikir keras. “Kau lihat truk-truk orang Israel itu? Mesinnya digerakkan oleh solar.”

Aku masih bingung.

Umma yang sedang memasak di dapur menimpali. “Jangan sebut zionis itu di rumah ini!”

Ayah garuk-garuk kepala. “Tapi truk kami lebih hebat dari truk laknatullah itu!”

Aku mengerjap, tertarik. Segala sesuatu yang lebih baik dari Zionis laknatullah itu membuatku bersemangat. “Benarkah?”

“Truk-truk tanki pembawa solar di negara Bapak bisa kencing!”

“Supirnya?”

“Bukan hanya supirnya, tetapi juga tankinya.”

Umma tertawa, begitu pula aku.

Ayah semakin bersemangat menceritakannya. “Solar itu adalah bahan bakar yang akan diperuntukkan kepada orang-orang miskin. Namun di tengah jalan, sang supir menjual beberapa liter kepada penadah. Ia mencurinya.”

Umma mengelus dada. “Astaghfirullahaladzim!”

Ayah kembali garuk-garuk kepala. “Solar bisa kencing itu bukan hal aneh. Yang lebih aneh lagi, di sana uang bisa disunat!”

Umma membekapkan telapak tangan di mulutnya.

Aku semakin tertarik mendengarnya. “Ceritakan, Bapak!”

Bapak melirik Umma sekilas, lantas membisikkan sesuatu ke telingaku. “Uang bantuan untuk orang-orang miskin diambil sebagian oleh oknum untuk dirinya sendiri.”

“Oknum itu apa?”

“Oknum itu pencuri.”

Umma menegur Bapak. “Jangan membuka aib!”

Aku tidak mengerti, kenapa Umma menganggap kencing dan sunat sebagai aib. Namun ada yang lebih membuatku tidak mengerti lagi ketika beberapa  hari setelahnya, ayah bercerita tentang lelaki berdaster.

“Ketua organisasi yang mengirim kami ke Palestina adalah orang yang selalu mengenakan gamis, seperti yang dikenakan oleh kebanyakan orang timur tengah.”

Oh iya?”

“Kami memanggilnya dengan sebutan habib. Ia dan pengikutnya diolok-olok sebagai lelaki berdaster. Selain itu, mereka juga dianggap radikal karena selalu memberantas kemungkaran dengan cara yang dianggap tidak santun. Soal cara, itu masih menjadi perdebatan, yang pasti mereka bermaksud baik.”

“Radikal itu apa?”

“Radikal itu kekerasan! Mereka dianggap perusak.”

Oh begitu?”

“Padahal setahuku, mereka giat melakukan aksi kemanusiaan, terjun langsung ke lokasi bencana meski tak pernah diliput media. Mereka juga mengirimkan relawan ke Palestina. Bapak salah satunya.”

“Bencana itu apa?”

“Bencana itu musibah, seperti banjir, gempa, dan lain-lain.”

Aku semakin kagum dengan Bapak. Aku juga kagum dengan lelaki berdaster yang pernah ia ceritakan dulu. Namaku juga diambil dari nama lelaki berdaster itu, selain tentu saja karena ia mengharapkan kelak aku bisa meneladani akhlak Rasulullah. Muhammad, itulah nama yang Bapak berikan, menggunakan ejaan Indonesia. Di Palestina ejaannya menjadi Mohammed. Aku ingin ke Indonesia untuk menemui mereka. Itu hanya tujuan sampingan. Tujuan sesungguhnya adalah menemui Bapak.

Perahu kertas yang kutumpangi terus berjalan mengikuti arah angin. Langit masih cerah. Bintang masih berkelip-kelip. Bulan sabit terhalang kabut. Sebentar lagi fajar menyingsing.

Kuambil secarik kertas lain yang telah kusiapkan sebagai pengganti perahu yang kutumpangi. Kertas ini berisi catatan yang dulu pernah Bapak tulis. Sebelum aku menjadikannya perahu, aku membaca lagi tulisannya.

Celupkan jarimu pada lautan

Berapa tetes tersisa?

 

Pahamilah!

 

Kelak kau mengerti

Kenapa kutinggalkan air fana

Menuju samudra abadi

 

Hatiku bergetar membacanya. Sungguh dalam makna yang tersirat. Meski mungkin persepsiku berbeda dengan yang dimaksud Bapak, setidaknya aku tahu, ia sedang memberi alasan kenapa meninggalkan kami.

“Pulanglah, Sahab! Kau harus memenuhi panggilan ibu. Beliau sering sakit-sakitan bukan?” desak Umma kepada Bapak. “Ia membutuhkan anak lelakinya!”

“Tapi kalian juga membutuhkanku!” Bapak melirikku dan Umma bergantian. “Perjuanganku juga belum selesai di sini!

Aku diam saja, tak mengerti arah pembicaraan mereka.

“Perjuangan anak lelaki yang sesungguhnya adalah dengan berbakti kepada kedua orangtua. Pulanglah, di sana tempatmu berjihad!” Umma mengelus rambut Bapak, seperti yang sering ia lakukan kepadaku setiap kali memberi nasehat.

“Tapi bagaimana dengan Muhammad?” Bapak melirikku, memandangku sedih.

“Ia akan baik-baik saja.” Umma meyakinkan Bapak. “Allah akan menjaga kami, seperti kau menjaga ibu. Insya Allah!”

Airmataku menetes mengingat kejadian tujuh tahun lalu. Itu adalah kali terakhir kulihat wajah Bapak. Besoknya ia sudah pergi sebelum aku bangun tidur. Aku menangis bukan karena sedih, tetapi bangga kepada kedua orangtuaku. Umma rela ditinggal lelaki yang disayanginya demi nenek. Bapak juga kuat dan tabah meninggalkan kami demi memenuhi panggilan ibunya.

Sambil sesenggukan, aku melipat-lipat kertas, membentuknya menjadi perahu. Setelah jadi, aku mengapungkannya di sebelah perahu kertas yang kutumpangi, lantas berpindah ke sana.

Perahu lamaku terseret ombak. Semakin lama semakin samar dari pandanganku. Kutatap cakrawala timur, arah angin menuntun perahu kertasku ke arah sana.

“Muhammad, jika Umma tak sempat melihat kedatangan Bapak, mintakanlah ridho Bapak untuk Umma. Berlayarlah ke Indonesia dengan cinta yang akan kutiupkan kepada dua lembar kertas dalam buku ini. Sampaikan salam Umma kepada Nenek.

Itu adalah kata-kata terakhir Umma. Ia mengucapkannya beberapa jam sebelum rudal Israel membombardir Gazza. Aku selamat, meski harus menyaksikan tubuh perempuan yang paling mulia itu tertimbun bangunan rumah.

 

Akhmad Al Hasni

Kendal, 18 Desember 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *