I Wannabe

pixabay.com

Namaku Ghibran Hardikusuma (25 tahun), si jangkung bertubuh ideal dengan tinggi 171 cm dan berat badan 66 kg. Wajah indo tulen kulit putih. Rambut hitam lurus dengan mata berwarna hitam. Hidupku selalu diatur sama orangtua layaknya dikekang dalam jeruji besi. Apa pun yang kulakukan selalu salah di mata mereka. Juga hidupku jauh berbeda dari orang-orang yang bisa hidup normal, bebas melakukan apa pun yang diinginkan tanpa dipaksa. Kalau aku? Bayangkan saja bergaul pada orang lain pun selalu dibatasi. Aku tak suka seperti itu. Ingin memberontak dalam hati, tapi takut dikatakan anak durhaka pada orangtua. Meskipun aku anak semata wayang dari keluarga Hardikusuma yang memiliki banyak perusahaan terkenal di Jakarta. Sayangnya kediktatoran keluarga menjadi penghalang agar aku bisa melihat dunia luar. Kini hidupku hanya berkutat pada pekerjaan dan rumah semata. Aku muak!
Aku lulusan sarjana komunikasi yang menyandang predikat cumlaude di universitas Oxford. Wow… Cool abis deh! Ah… Biasa saja kali. Bagaimanapun aku tak pernah bangga dengan kesuksesanku selama ini. What’s wrong? Percuma saja mendapat kebahagiaan materi semata, tapi tak pernah bisa menemukan kebahagiaan sejati. Bisa bergaul bersama teman-teman tanpa memandang strata sosial. Juga jarang kudapatkan kasih sayang orangtua. Karena mereka begitu terlena mengejar materi sampai lupa memikirkan diriku yang mereka anggap sebagai boneka. Aku sadar apa yang telah mereka lakukan selama ini demi kebahagiaanku. Hingga aku sukses sampai sekarang. Juga tersadar bahwa usiaku memang sudah tak layak mendapat kasih sayang mereka. Karena kasih sayang hanya milik mereka yang berusia anak-anak doang. Namun pernahkah mereka sedikit saja memahami apa yang kurasakan selama ini? Gak kan!
Aku begitu iri melihat kebahagiaan orang lain. Rasanya ingin sekali bertukar posisi dengan mereka yang hidupnya sempurna meski dalam keterbatasan. Hidup bahagia apa adanya membuat orang lain mengerti arti mensyukuri hidup. Itu yang tak pernah kudapatkan selama ini. Terlebih lagi Andini Saraswati (23 tahun), sahabat curcol dekatku di sekolah menengah atas. Wanita sederhana penuh bahagia yang hidup pas-pasan. Orangnya cantik tinggi semampai dengan tinggi 167 cm dan berat 62 kg. Wajah indo tulen kulit sawo matang. Rambut panjang lurus dengan mata berwarna cokelat. Kegigihannya membantu orangtua menjadi prioritas utama walaupun dia bukanlah anak sulung, melainkan bungsu. What? Bukannya anak bungsu itu super manja?
Andini selalu ada untukku. Bukan berarti selalu ada 24 jam nonstop ya. Bagiku dia sahabat terbaik yang super duper the best deh. Tak salah aku memiliki sahabat seperti itu. Beda halnya sahabat zaman now yang kabur entah ke mana saat lagi dibutuhkan banget, eh malah datang saat tak dibutuhkan. Gak kebalik tuh! Ibaratnya jailangkung gitu. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Ngeri banget kan! Gak banget deh punya sahabat yang selalu bermain jailangkung. Upss… kok main jailangkung gitu! Takut tahu!
Sudah lama rasanya aku tak pernah berjumpa sama Andini. Entah di mana keberadaannya selama ini. Lagian aku tak boleh negative thinking dulu. Karena bisa jadi Andini memiliki kesibukan tersendiri. Memang tanpa kita sadari sejak manusia telah menginjak usia diatas 20an, rasa persahabatan untuk bisa kumpul bareng tak sama seperti dulu. Entah apa yang salah. Apalagi mereka begitu mudah melupakan persahabatan yang telah lama terjalin kuat, eh merenggang akibat berbagai faktor. Di antaranya kesibukan kerja dan keluarga. Pekerjaan membuat mereka tak pernah bisa meluangkan waktu untuk berkumpul bersama teman-teman. Maklumlah berkarir menjadi prioritas utama. Tapi aku tak begitu kok. Meski sibuk dengan pekerjaan kantor yang super padat, masih bisa kuluangkan waktu sejenak untuk teman-teman kantor sekedar having fun di Weekend. Ini boro-boro mau ngajakin ngumpul, sekedar temu sapa saja di jalan sombongnya bukan main. Teman macam apa itu! Belum lagi mereka yang sudah berkeluarga, malah pamer kemesraan gitu agar seluruh dunia tahu mereka bahagia dengan posting foto ke berbagai sosial media. Kan bagi jomblo akut seperti diriku dilanda kegalauan dong!
Hidupku jauh di atas normal. Bagaimana tidak kebahagiaan materi yang menyelimuti seakan nightmare yang tak pernah bisa berhenti mengikutiku. Kebanyakan orang menganggap diriku bahagia, paling sempurna dengan bergelimang materi dan keturunan anak terpandang pula. Namun apa buktinya? Hidupku yang sempurna materi justru lebih terpuruk oleh keadaan ini. Memang dari segi fisik luar aku bisa meminimalisir setiap kesedihan yang mengganjal pikiran. Dengan selalu berpura-pura bahagia di hadapan orang lain. Agar terlihat kuat dan kokoh bagai karang di lautan. Karena malu banget dong kalau mereka tahu aku ada masalah. Pastinya mereka berpikir aku suka mengeluh tentunya. Makanya setiap ada masalah selalu kupendam sendiri. Why not?
Banyak yang telah terlewatkan dalam hidupku. Apalagi sejak kecil hidupku dikekang. Dikekang belajar tanpa bermain bersama teman. Karena kata ibu aku tak boleh terlalu kecapean. Lah apa hubungannya coba? Bagaimanapun aku berhak dong menentukan jalan hidupku seperti apa. Justru malah orangtua tak pernah mengerti pintaku. Juga keras kepala pula. Dengan mengatakan bahwa mereka lebih tahu segalanya yang terbaik untukku. Tanpa sadar masa kecil dan remajaku hilang begitu saja. Makanya usiaku yang terbilang sudah cukup untuk menikah, justru sifatku lebih manja kekanak-kanakan. Kata orang sih puber telat. Emang ada gitu? Orang-orang selalu menganggapku lelaki aneh tatkala berkumpul bersama teman-teman kantor. Dengan selalu buat humor tak masuk akal demi menghibur mereka. Agar bisa mengalihkan pembicaraan dari dua hal yang tak pernah kusuka, yakni pekerjaan dan keluarga. Emang salah kalau hidup butuh hiburan sesaat? Gak kan!
Saat aku pulang menuju ke rumah karena saking sakit hati sama teman yang selalu membicarakan pekerjaan dan keluarga, tanpa sadar aku melihat seseorang yang wajahnya mirip banget denganku sedang naik motor butut yang gak banget. Penampilannya begitu urakan pula. Beda denganku yang selalu peduli penampilan. Ya namanya kerja kantoran totalitas penampilan sangat diutamakan. Saking penasarannya aku buntuti orang itu. Hingga membawaku pada rumahku sendiri. Nah lho, ada apa ini?
Aku melihat dari jauh sepertinya orang itu ingin berjumpa sama mama dan papa. Sampai kudengar percakapan antara mereka.
“Mama dan Papa tak pernah adil padaku. Tega menitipkanku sama binatu. Hingga kutahu sebuah kebenaran bahwa aku anak dari keluarga ini,” ungkap lelaki itu.
“Mama dan Papa sangat sayang padamu Ghilbran. Kami ada alasan kenapa kami menitipkanmu selama ini. Itu semua demi adikmu.”
Ghilbran namanya. Wah namanya sangat mirip denganku. Jadi tersipu malu akunya. Sudah wajahku mirip, namanya juga. Gimana gak bangga, kan?
“Adik? Sejak kapan aku punya adik?” tanyanya bingung.
“Sebenarnya kamu punya saudara kembar selama ini.”
Aku benar-benar terkejut atas penuturan orangtuaku bahwa aku memiliki saudara kembar selama ini. Teganya mereka menyembunyikan rahasia sebesar ini. Hingga aku tak pernah tahu keberadaan saudara kembarku yang baru kutahu kebenarannya ada di hadapanku.
“Oh… Jadi Kalian lebih sayang padanya ketimbang aku sendiri?” Ghilbran marah.
“Bukan Nak. Kami sayang sekali padamu. Cuma..”
“Cuma aku anak sulung. Meskipun begitu aku juga butuh kasih sayang sama seperti adikku. Kenapa kalian pilih kasih?” Ghilbran makin marah.
“Sebenarnya adikmu menderita jantung bocor sejak kecil dan umurnya sudah tak lama lagi. Perhatian kami selalu ada untuknya. Makanya mama titipkan kamu bersama binatu agar kamu tak boleh tahu kebenarannya,” ungkapnya.
“Kalian tega padaku dan adikku. Kalian pembohong!” Ghilbran marah sambil meninggalkan orangtuanya.
Sungguh kebenaran menyakitkan bagiku, setelah terkuak kebenaran lainnya bahwa aku sedang mengidap jantung bocor. Ternyata inilah alasannya kenapa orangtua selalu mengekang diriku agar tak pernah kecapean dalam melakukan aktivitas normal seperti orang lainnya. Begitu lamanya penderitaan yang kujalani selama ini dengan kesabaran menerima takdir yang selalu mempermainkan nasibku, justru kini Allah tak berlaku adil lagi. Baru saja aku menemukan saudara kembarku yang telah lama menghilang, justru aku diuji dengan penyakit yang kuderita dan umurku tak lama lagi. Bagaimana mungkin aku bisa menerima kenyataan ini?
Ghilbran langsung pergi meninggalkan orangtuanya dengan kondisi berlinang air mata setelah tahu kebenaran itu dan bersedih karena adiknya berpenyakitan, sedangkan aku berusaha mengejarnya untuk bisa berjumpa setelah sekian lama tak bersua karena kebohongan orangtua. Alhasil musibah datang tanpa diduga. Ghilbran yang tengah naik motor tiba-tiba dari kejauhan ada mobil melaju kencang menabrak dirinya. Membuat tubuh Ghilbran terpental jauh. Aku berteriak histeris melihat kejadian naas itu. Hingga jantungku teramat sakit. Lalu aku pingsan di tepi jalan.
Warga segera menolong Ghilbran dan diriku yang terkapar sakit. Lalu menelpon kedua orangtuaku untuk menyampaikan kabar buruk. Ghilbran mengalami kondisi sangat kritis, sedangkan diriku terbaring lemah karena penyakitku ini. Saking khawatir pada kondisi abang tercinta, aku ingin menjenguknya. Saat menuju ruangan, tiba-tiba aku melihat Andini di depan pintu menatap Ghilbran. Tampak ada raut wajah bahagia melihat kondisi Ghilbran sedang berjuang melawan maut. Aku tak mengerti apa hubungannya antara Ghilbran dan Andini. Hingga sebuah kebenaran terdengar di telingaku.
“Mampus kau Ghibran. Kini dendamku terbalaskan. Kalau saja keluargamu tak membuat keluargaku menderita, aku takkan menabrakmu di jalan raya tadi,” ungkap Andini
Aku segera menghampiri Andini untuk menjelaskan apa maksudnya berkata demikian.
“Andini, aku ingin penjelasan darimu, apa maksudmu tadi?” Tanyaku penasaran.
“Kamu siapa? Kenapa mirip dengan Ghibran?” Tanya Andini bingung.
“Orang yang kamu tabrak adalah Ghilbran, saudara kembarku.”
“Oh… Jadi kamu sudah tahu semuanya? Sebenarnya aku tak pernah sudi menjadi sahabatmu karena keluargamu telah membuat keluargaku menderita. Keluargamu telah merampas tanah milik kami. Hingga hidup kami melarat. Maka dari itu aku pura-pura baik padamu demi membalaskan dendam,” ungkapnya.
“Teganya kamu seperti itu. Aku tak menyangka kamu musuh dalam selimut.”
“Lantas kamu mau laporkan aku pada pihak berwajib?” Tanya Andini sambil mengambil sesuatu di kantong celananya yang ternyata sebilah pisau.
“Kamu apa-apaan Andini, lepaskan pisau di tanganmu.”
Tiba-tiba orangtuaku datang ke rumah sakit. Mereka melihat langsung kejadian saat aku diancam Andini pakai pisau di tangannya. Saat aku lengah, Andini menancapkan pisau ke tubuhku. Hingga tubuhku tercecer darah segar. Andini kabur begitu saja. Untunglah ada satpam yang berjaga melihat kejadian itu. Lalu menangkap Andini dan dibawa ke kantor polisi.
Aku terbaring lemah setelah ditusuk oleh sebilah pisau dari Andini. Membuatku sulit untuk bisa berjuang melawan maut. Dokter mengatakan pada orangtuaku bahwa organ hati Ghilbran mengalami kerusakan parah setelah tubuhnya terpental akibat kecelakaan. Menyebabkan harapan hidup Ghilbran tipis. Membuat dokter tak tahu bagaimana cara menyelamatkannya, terkecuali jika ada yang menjadi pendonor hati buat Ghilbran. Lalu aku menyuruh suster memanggil mama dan papa datang ke ruanganku untuk menyampaikan sebuah pesan terakhir.
“Mama… papa. Mungkin hidupku sudah tak lama lagi. Apalagi jantungku sudah tak kuat bertahan seperti dulu. Maka aku benar-benar minta maaf karena selama ini salah paham. Dengan mengatakan kalian tak pernah peduli pada kebahagiaanku. Padahal kalian telah banyak berikanku kebahagiaan yang tak pernah bisa didapatkan oleh orang lain. Sebelum aku pergi meninggalkan dunia ini, izinkan aku mendonorkan hatiku pada Ghilbran. Kelak jika aku telah tiada, kalian bisa menyayangiku lewat Ghilbran. Ghilbran sudah banyak menderita dalam hidupnya. Sudah sepantasnya ia dapatkan kebahagiaan ini. Aku mohon wujudkan keinginan terakhirku ini demi Ghilbran, abang tercintaku,” pintaku sambil menitikkan air mata.
“Baiklah Ghibran. Papa dan mama akan penuhi permintaanmu ini.”
Suasana haru pilu menyelimuti papa dan mama saat melihatku terbaring lemah seakan begitu berat melepaskan kepergianku. Hingga napasku mulai pendek dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir saat orangtua memelukku untuk terakhir kalinya. Seketika mereka menangis histeris memecah heningnya suasana rumah sakit.
Ghilbran selamat dari maut karena hati Ghibran telah bersemayam dalam tubuhnya. Kini ia mendapatkan haknya yang selama ini telah hilang untuk merasakan kehangatan tinggal bersama orangtua tercinta, dan menggantikan posisi Ghibran sebagai pemilik perusahaan. Hanya saja Ghilbran masih dirundung kesedihan mendalam, karena belum bisa menerima kepergian adik tercinta yang telah baik padanya. Hingga sosok bayangan putih menyilaukan menghampiri dirinya. Ternyata itu Ghibran.
“Jangan bersedih atas kepergianku. Hapuslah air matamu,” Ghibran menghapus air mata abangnya.
“Aku tak pernah berjumpa padamu Dik. Kamu adalah adik terhebat bagiku. Andai saja aku tahu kalau aku punya saudara kembar, aku akan selalu menjagamu,” tutur Ghilbran sambil menangis.
“Jangan sesali apa yang sudah terjadi. Allah punya rencana di balik semua ini. Jangan pernah salahkan Allah atas keadaan ini. Walaupun mama dan papa telah berbohong, jangan pernah sekali pun membenci mereka. Karena mereka adalah orangtua kita.”
“Abang janji takkan membenci mereka lagi Dik,” Ghilbran menoleh ke adiknya, tapi bayangan itu telah menghilang.
Ghilbran menjalani amanah yang diberikan adiknya untuk akur pada kedua orangtua. Akhirnya Ghilbran meminta maaf pada mama dan papa atas ucapannya yang telah menyakitkan mereka. Mama dan papanya juga minta maaf pada Ghilbran yang telah menelantarkannya sama binatu. Kini mereka pun akur. Diselimuti rasa bahagia dan bersyukur pada Allah.
Setelah setahun lamanya kepergian Ghibran, perusahaan yang dijalani Ghilbran berkembang pesat. Padahal Ghilbran hanya tamatan sekolah menengah atas. Namun kecerdasannya mengelola perusahaan membuat semua orang takjub padanya. Keinginan terbesarnya agar bisa membahagiakan orangtuanya di usia senja. Berbagi pada kaum dhuafa yang membutuhkan sebagai wujud syukur atas pencapaian kesuksesan selama ini. Juga melunasi hutang piutang orang-orang yang terlilit hutang dalam hidup mereka. Ia lakukan itu semua demi menjadi orang yang bermanfaat di dunia dan akhirat. “Thank you Allah for my life better. I promise to do the best something in this life,” ucap Ghilbran di hatinya.

The End 

Mata Elang

16 Desember 2017

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *