Hanya Satu

pixabay.com

cahaya bulan menyusup dari balik jendela
menyelimuti lelapmu seperti pelukan ibu
pada malam-malam lalu
saat kau merengek meminta susu
dalam mimpimu ibu merajut helai-helai rindu
tersendu oleh ingatan akan tangis kecilmu
kini langitnya hanya segunduk buana
tanpa cahaya
baju putihnya telah usang dimakan zaman
tersebab gigil senantiasa bertandang
ia pun menyerana dalam kesunyian

“Hanya satu, Anakku,” lirihnya.

doamu. 

Liara Divya 
Karawang, 18 Desember 2017

Puisi ini kupersembahkan untuk sahabatku Agusti Hendrayani Fransiska

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *