Cerita  yang  Tidak  Lucu

 

Salam  sejahtera bagi  kita  semua  yang  senantiasa  bernapas  dengan  hidung kembang-kempisnya. Semoga  kita  selalu  dalam  keadaan  begini-begini saja, ya  jelas  tidak  akan  ada  perubahan kalau  kita  tidak  melakukan  tindakan. Jadi, jangan  marah  jika  aku  mengatakan ‘semoga  kita  selalu  dalam  keadaan  begini-begini saja’. Maka  dari  itu, mari kita  bersama  membuat  perubahan, kok  jadi  kaya  partai  ya, maaf  tapi  ini  sungguhan, kita  harus  memulai  semuanya  dari  dalam  diri  kita.

Baiklah, aku  kembali lagi  setelah  sekian  lama  engkau  menanti, cerita ini  masih  sama  lempengnya  seperti yang  sebelum-sebelumnya. Kawan, selamat  membaca  ceritaku ya, Dara  and  The  Explorer  siap  berbagi  cerita  semoga  kawan  semua  tidak  kecewa.

Di  suatu  hari  sabtu  yang  tidak  begitu  cerah, langit  kelabu menemani  langkah  perjalanan  tipis-tipisku dan  teman-teman. Rian, Adit  dan  Aina  kali  ini  yang  akan  mengisi  cerita. Mereka  tetap  orang yang  sama  dengan  ceritaku sebelumnya, hanya  saja  nama  itu  kusamarkan. Eh  tidak, kalau  samarkan  tidak  kelihatan  ya, namanya aku  ubah.

Siang  itu, pukul dua  tepatnya, Rian  dan  Adit  datang  ke  rumahku  setelah  sebelumnya membuat  janji. Tapi  toh kami  tidak  menentukan hendak  ke  mana, niatnya  hanya  ingin  menemui  Aina. Maklum  saja, si  Rian  sedang  melakukan pendekatan  dengan  Aina. Maklum  saja, gadis  itu  memang  cantik dan  dianugerahi  paras  seperti  Shireen  Sungkar. Dan  bila  orang-orang mengatakan hal  ini  padanya, ia  langsung  marah. Entahlah, Aina  itu  memang  rendah  hati  orangnya. Bukan  sepertiku yang  rendah  tinggi  badannya. Silakan  dipikir  sendiri.

“Langsung  ke  rumah  Aina  aja  ya, tapi jangan  bilang-bilang dia  kalau  mau  ke  sana.” kata  Rian.

“Hah? Terus?” tanyaku  heran.

“Udahlah  tenang  ikuti  aku  aja. Berangkat  agak  nanti ya?” dan  Rian  masih  juga  melanjutkan. “Biar  nunggu  hujan, kan  ngedrama  dikitlah. Biar  Aina  berpikir, wah  ya  ampun  perjuangannya sampai  segitunya.” Kali  ini  Rian  sembari memasang  raut  sok  kerennya.

“Ada  gitu  ya  ngajak keluar  nunggu  hujan,” Adit  geleng-geleng kepala  dengan  kecepatan maksimal.

Aku  sendiri  hanya  bisa mendeham  dan  memaklumi kegilaan Rian. Sebegitu  jatuh  hatinya  pada  Aina  sampai  pernah  ia  melakukan hal-hal gila. Ia  sengaja  lewat berkali-kali di  depan  tempat  Aina  bekerja  hanya  untuk mencari  satpam  atau  penunggunya. Untuk  apa? Untuk  menitipkan susu  ultraviolet dan  cilok  dan  diserahkan  pada  Aina. Lantas  ia  berkata  pada  satpam  atau  penunggu itu, “Tolong  sampaikan  sama  Aina, ini  dari  Upin  kembarannya  Ipin.”

Dan  pernah  lagi, suatu  ketika, ada  tukang  bangunan  sedang  mengecat  tempat  kerja  Aina, dengan  hati-hati Rian  dekati  tukang  bangunan  itu. Katanya, “Mas, jujur  aja  ya, saya  mau  minta  tolong  tapi  benar-benar nggak  bisa  kasih  apa-apa buat  sampeyan, tapi  ini  demi  hatiku  mas. Please!”

Tukang  bangunan itu  menurut  saja, ia  dititipi  makanan  takoyaki  untuk  diserahkan  pada  Aina  dan  diminta  menyampaikan  bahwa  makanan  itu  dari  batman. Sama  dengan  sebelumnya bukan  triknya? Tidak, tukang  cat  itu  jelas  tidak  tahu  siapa  nama  gadis  yang  dimaksud Rian, jadi  dengan  enteng Rian  bilang, “Gadis  itu  tinggi, wajahnya  kaya  Shiren  Sungkar  dan  namanya  Jainem.”

Benar  saja, tukang  bangunan  itu  masuk  ke  dalam  dan  mencari  orang  yang  bernama  Jainem. Aina  yang  sadar bahwa  itu  adalah  sebutan  yang  biasa  dipakai  Rian  untuk  dirinya  pun  tertawa ngakak.

Kedua  temanku  itu  sama-sama bercerita padaku  sesuai  versi  masing-masing. Dan  sebagai  orang  tengah, rasa  baperku  ini  kututupi  dengan  ledakan  tawa. Padahal  aslinya, nelangsa.

Ah, sudah  yuk  lanjut. Gerimis  sedikit  riuh  dan  dengan  nekat, kami  pergi  ke  rumah  Aina. Bisa  ditebak  kan  bagaimana  reaksi Aina  saat  melihat  kami  datang? Wah, luar  biasa? Dia  terbelalak, menjerit  sambil  loncat-loncat, kenapa  nggak  sekalian  salto sih, Na?  Batinku. Hmm, Aina  ini  beruntung  sekali  ya  dapat  kejutan  dari  Rian. Dan  aku  dan  Adit  yang  jadi  kambingnya.

“Heh, kalian  datang  kok  nggak  bilang-bilang sih!” pekik  Aina  saat  kami  sudah  masuk  ke  dalam  rumahnya.

Wah, mataku langsung  tertuju pada  toples  di  meja, isinya  usus  goreng. Sedikit curi-curi pandang  ke  arah  toples itu  dan  berdoa  semoga  tuan  rumah  segera mempersilakan  makan.

“Nganterin Adit, Na. Dia  kangen  kamu  katanya,” Rian  menjawab  dengan  santainya sementara  Adit  spontan  menimpuk  bahu  temannya  itu.

“Jangan  dengerin  Na, mau-maunya  Rian  aja, hmm,” kataku setengah  melirik  ke  arah  toples.

Doaku  terkabul, oh, demi  putera  duyung, akhirnya  Aina  mempersilakan  kami  makan  hidangan  itu  dan  membuatkan  teh  manis  hangat.

“Na, makanannya  tak  jauhin ya,” Rian  mengambil  toples  itu  dan  diletakkan di  seberang  meja. Jauh  dari  jangkauanku. “Dara  nggak  kenal  habisnya, Na.”

Kalian  tahu  apa  yang  kulakukan? Seperti biasa, memberengut. Ngambek  dan  melirik  tajam  pada  Rian  sementara  dia  hanya  tertawa. Ya, ngenesnya  diriku  ini.

Lama  di  sana  dan  gerimis  berangsur  reda, kami  merasa  bosan  di  rumah. “Keluar  yuk!” Ajak  Aina.

“Aku  ini  keluar  Na, kamu  aja  yang  masih  di  rumah,” kataku meledek.

“Laiya Na, ini  kita  lho  keluar  main  ke  rumahmu, hahaha.”

Dan  pada  akhirnya kami  sepakat  untuk  berjalan-jalan. Tapi  itu  merupakan  sebuah  kebingungan  karena  kami  belum  menentukan  tempatnya.

“Gini  aja, kita  jalan-jalan ke  rumah  sakit  aja  gimana?” usul  Adit. Jelas  Aku  dan  Aina  terbengong-bengong.

“Nah, setuju Dit. Ide  bagus, kita  jalan-jalan keliling  rumah  sakit. Masuk  ruangan-ruangan lihat  orang  sakit. Seru  ya, anti-mainstream  banget.” Rian  yang  sama  gilanya  mengiyakan.

“Heh, ngapain jalan-jalan kok  ke  RS. Please, deh!” nada  bicaraku  memelas.

“Lha  mau  ke  mana  Ra?” Rian  bertanya  padaku.

“Manut. Enaknya  ke  mana  Na?” aku  bertanya pada  Aina.

“Manut, Ra. Anak  dua  ini  ngajaknya  ke  mana?” Aina  mengedikkan  mata  pada  Adit  dan  Rian. Keduanya  sama-sama menjawab, “Manut.”

“Oke  fix! Manut  semua  dan  nggak  usah berangkat.” kataku  mengambil  keputusan.

“Ke Puskemas  aja  gimana?” Rian  kembali memberi  usul  dengan  wajah  tidak  berdosanya.

“Ya  Allah… Bisa  nggak  kasih  saran  yang  beneran  gitu. Serius  lah!” Aina  mulai  jengkel.

“Pikir  nanti, penting  kita  keluar  dulu. Sambil  dipikir  di  jalan,” usulku.

“Nggak  baik  Ra  mikir  di  jalan, nanti nabrak  orang.” Ya  Allah  jawaban  Rian  ini  ingin  membuatku  khilaf  membunuhnya.

 

°°°

Setelah  diputuskan, kami  bersiap  pergi  ke  tempat  yang  dituju. Agak  sedikit  naik  ke  daerah  pegunungan. Jalan  yang  ditempuh pun  sedikit  menanjak  dan  berkelok-kelok. Rian  membonceng Aina  sedang  aku  bersama  Adit.

“Mbak, motornya  nggak  kuat  Mbak  buat  sampai ke  atas,” kata  Adit  yang  saat  itu  jalanan  sudah  sampai  di kelokan  tajam.

“…,”

“Mbak, beneran  nggak  kuat!”

“…,” aku  diam  saja  karena  tahu  dia  hanya  akan  menghina  berat  badanku  saja.

“Mbak, nanti kalau  pas  jalan  naik  kamu  turun  ya, Mbak. Jalan  sampai atas  ya!”

“…,” nah  lho, puaskan aku  cuekkin!

“Mbak, jangan  diem  aja. Nggak  kuat  Mbak motornya.”

“Dit, Dit, pusing  ya? Kita  udah  lewati  tanjakan  sama  kelokan  Dit. Ente  kalau  mau  bilang  ane  berat  ya  ngomong  aja  langsung!”

Benarkan? Adit  terbahak-bahak. Dasar, kusumpahi  kau  jadi  dedek  gemes  brengosan. Eh, itu  bukan  sumpah  karena  memang  dia  itu  brengosan  dan  usianya  paling  muda  di  antara  kami.

Di  tempat ini, akhirnya  kami  berkumpul. Rencana  diputuskan, kami  pergi  ke daerah  pegunungan itu. Ya  lebih  naik  sedikit, biasanya  menjadi  tempat  ngopi  anak-anak. Tapi  bukan  kopi  yang  aku, Aina  dan  Rian  pesan, kami  memesan  cokelat  hangat  sementara Adit  memesan  kopi  pahit.

“Aku  senang  kita  bisa  kumpul kaya  gini. Selalu  ada  waktu  ya  buat  kita  kumpul,” Aina  memulai  pembicaraan.

“Lagian  ya  Na, aku  nggak  suka  kok  jadi  anak  sok  sibuk. Diajak  ngopi  aja  alasannya nggak  ada  waktu. Nggak  ada  waktu.” Rian  menyeruput  cokelatnya. “Padahal, yang  pejabat aja, tuh  anggota  dewan  sempetin  tidur  pas  lagi  rapat. Nah  kita, bukan  apa-apa aja  sok-sokan  bilang  nggak  ada  waktu. Ya  nggak  sih?”

Aku  yang  sedari  tadi  mendengarkan jadi  membenarkan perkataan  Rian. Sesibuk-sibuknya pejabat  yang  sedang  rapat, beliau-beliau masih  menyempatkan  diri  tidur. Sedangkan kita? Hmmm, bukan  apa-apa tapi  merasa  selalu  sibuk  padahal  bisa  saja  kita  bisa  menyempatkan waktu  tersebut. Ini  hanya  sebuah  perumpaan  ya. Jangan  diambil  hati, nanti  aku  hidup pakai  apa  kalau  hatiku  diambil. Hmmm…

Alhamdulillah, sudah  sampai  di  akhir  cerita. Ini  hanya  sebuah  catatan  kecil  perjalanan  tak  berarti. Tapi  ya, aku  senang  menuliskannya. Dan  aku  harap  Kawan  semua  tidak  bosan. Salam  Dari  Dara  D… Dan  bukan  Dara  namanya  kalau  tidak  selfie. Ini  kuberi  sedikit  oleh-oleh untuk  kalian  ya.

 

Kharisma  De  Kiyara

Magetan, 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *