Celoteh Sang Kumbang

Lama sudah bulan-bulan semi dinanti oleh sayap sang kumbang
menjelajahi ladang nurani yang tertanami oleh bunga-bunga asa
Meski kemilau nirwana masih saja terdekap oleh mendung pekat yang merisaukan
Kesetiaannya menanti kelahiran mentari dari rahim sang fajar patut dipuji

Rentetan narasi yang dihiasi diksi-diksi indah menjelma menjadi bait-bait doa yang mengangkasa dan membelai jiwa murni sang bidadari
Namun kemilau sinar mentari masih saja bersembunyi
Sampai kini, sang kumbang hanya mampu menari meski terbatasi oleh mendungnya sanubari
Lalu berkata. “aku hanya hamba yang berteduh dalam kata SEMOGA, berpasrah diri dalam titah ilahi”

Ibnu jayyid
Singhasari, 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *