RAIN V

 

Hening. Itu yang terjadi sejak lima belas menit terakhir aku duduk di sini. Seseorang di hadapanku juga tampaknya belum menemukan kalimat yang pas untuk memulai pembicaraan. Pun aku, yang datang ke tempat ini dengan setengah hati juga tidak berniat mengatakan apa pun. Hanya helaan napas yang saling bergantian keluar dari mulut kami berdua, menandakan bahwa di ruangan ini ada dua orang manusia yang masih menghirup udara. Aku hanya menunduk, menatap kedua tangan yang saling bertautan. Sesekali aku melirik seorang pengawal yang berdiri tegap di depan pintu, menghadap ke arah lain dengan ekspresi datar.

 

“Rain.”

 

Aku spontan mendongak. Ya, hanya satu kata itu yang keluar pelan dari mulut Ayah. Tanpa berniat menjawab, aku malah mengamati wajah Ayah saat ini. Hatiku seperti tercubit melihat bagaimana kondisi Ayah, yang sangat jauh berbeda dari dua bulan yang lalu saat kami bertiga masih berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama. Tahun ini umur Ayah tiga puluh delapan. Masih sangat muda, kan? Dan wajah Ayah sebenarnya tergolong awet muda, karena itu dulu saat masih SMA banyak sekali teman yang menganggap Ayah adalah kakak laki-lakiku, bukan ayahku. Lalu saat ini melihat wajah Ayah yang tampak lebih tua sepuluh tahun dari umurnya, aku merasa miris.

 

Bagaimana tidak tampak tua kalau keadaan Ayah sangat jauh dari kata baik-baik saja alias kacau sekali? Ada lingkaran hitam di sekitar kedua matanya. Rambutnya sudah memanjang sampai bawah telinga, dan acak-acakan. Rahangnya yang sangat tirus mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, sesuatu yang jarang sekali terlihat dari Ayah selama aku hidup dengannya karena Ayah memang termasuk laki-laki perfeksionis yang rutin bercukur seminggu sekali. Dan terakhir postur tubuhnya yang lebih kurus, sudah menjelaskan berat badannya yang menurun drastis. Kacau sekali. Menyedihkan. Hatiku terluka.

 

“Kalian baik-baik saja kan?” Ayah bersuara lagi. Aku mendongak, memicingkan mata pada Ayah.

 

“Menurut Ayah sendiri bagaimana?” tanyaku dengan suara serak. Ayah tampak terkejut dengan tanggapanku yang malah balik bertanya.

 

“Maaf,” ucap Ayah lirih.

 

“Setelah semuanya menjadi seperti ini, apa Rain dan Adek bisa baik-baik saja?”

 

“Maaf.”

 

“Untuk apa Ayah minta maaf?”

 

“Kalian begini karena Ayah.”

 

Aku memejamkan mata sejenak, “Kenapa harus minta maaf saat keadaan Ayah sudah sangat buruk begini?”

 

“Maafkan A–”

 

“Tidak usah minta maaf, Rain tidak suka!” potongku tegas.

 

Ayah terkejut dengan ucapanku, sama seperti aku yang juga terkejut karena kembali lepas emosi dan meninggikan suara pada ayahku sendiri untuk pertama kali. Dadaku terasa sesak, dan tidak bisa lagi menahan isak tangis untuk tidak keluar. Kututup wajahku dengan kedua tangan, dan aku mulai sesenggukan. Biar saja Ayah melihatku lemah seperti ini. Suruh siapa Ayah melakukan ini padaku. Suruh siapa Ayah membuatku benci dan mendatanginya setengah hati, dengan rangkaian makian yang sudah kupersiapkan dari rumah. Salah siapa Ayah membuatku terluka dan tidak bisa berkata-kata karena kondisinya yang sangat menyedihkan? Salah siapa Ayah terus meminta maaf seolah-olah tak ada kata-kata lain yang bisa diucapkan? Salah siapa dunia kami menjadi hancur seperti ini. Salah siapa?!

 

Dadaku bergetar karena tangis yang amat kencang. Kurasakan tepukan-tepukan pelan di bahu, dan aku bisa merasakan tangan Ayah di sana. Aku tidak tahu kapan tepatnya jarak mulai tercipta antara kami berdua hingga aku pun lupa kapan terakhir kali aku menangis di depannya. Jauh dari lubuk hatiku, aku rindu pelukan Ayah saat aku merasa sedih dan terluka. Dulu Ayah akan merangkul bahuku dan menggumamkan kata-kata menenangkan tiap kali aku menangis. Dulu Ayah akan selalu melakukan apa saja hanya demi menerbitkan seutas senyum lagi di bibirku. Tapi itu dulu, saat Ayah belum berubah menjadi tak tersentuh. Dan sekarang yang bisa Ayah lakukan saat aku menangis di depannya hanya menepuk bahuku, tanpa kata. Kenapa harus se-menyedihkan ini hubungan kami?

 

Aku mengusap kasar kedua pipiku yang basah, lalu mulai menarik-hembuskan napas hingga napasku lebih normal. Setelah itu kutatap wajah Ayah yang kini tampak berkali-kali lebih sendu sehabis aku menangis.

 

“Boleh Rain tanya satu hal?” tanyaku, berusaha tenang. Ayah menghela napas berat, kemudian mengangguk.

 

“Tentu saja,” ucap Ayah. Aku menarik napas panjang sebelum menatap Ayah kembali.

 

“Apa Ayah benar-benar melakukan apa yang dituduhkan banyak orang pada Ayah?” tanyaku pelan.

 

Sudah kukatakan bukan kalau aku masih punya sedikit harapan tentang Ayah yang sama sekali tidak bersalah, dan mungkin saja hanya dijebak? Aku ingin harapan itu menjadi kenyataan, dan memberi kesempatan agar hidup kami berubah normal seperti semula. Tapi Ayah tidak langsung menjawab. Aku menilik ekspresinya, namun tatapan Ayah malah menerawang ke luar jendela.

 

“Apa Ayah memang melakukan itu? Tidak, kan? Itu tidak benar, kan? Ayah hanya difitnah saja, kan? Tolong katakan pada Rain kalau Ayah tidak bersalah. Tolong, Yah.” aku menggenggam tangan dingin Ayah, memandangnya penuh harap.

 

Ayah membalas tatapanku, dan menggenggam tanganku erat. Dia menatapku sendu, dan aku benci tatapan seperti itu. Aku ingin kilat percaya diri pada tatapan Ayah. Aku ingin Ayah meyakinkanku bahwa dia tidak bersalah, dan memintaku untuk mempercayainya. Bukan seperti ini.

 

“Ayah minta maaf, Rain.” Aku mendengus pelan. Lagi-lagi kata itu. Bukan itu yang aku inginkan. Aku ingin keyakinan Ayah.

 

“Ayah, Rain mohon sekali lagi. Tolong Ayah katakan kalau itu tidak benar,” pintaku masih tetap menggenggam tangannya. Tapi yang kedapatkan hanya helaan napas berat Ayah. Kepalanya menunduk, tangannya bergetar di genggamanku.

 

“Ayah memang melakukan itu. Maaf.” Ayah berbisik, dengan bibir bergetar.

 

Aku tertawa hambar tanpa suara. Sebanyak apa pun aku berharap semua yang kualami dalam dua bulan ini hanya sebuah kebohongan, tapi itu tidak merubah segalanya. Sebesar apa pun aku menginginkan untuk bangun dari mimpi yang teramat buruk ini, tidak akan bisa mengubah kenyataan bahwa ini memang nyata. Aku harus benar-benar percaya bahwa aku bukanlah tokoh utama dalam novel-novel happy ending yang keluarganya adalah orang baik-baik,  yang jika masalah menimpanya, itu karena disebabkan orang-orang yang tak suka pada kehidupan bahagianya. Ribuan kali aku berdoa pada malam-malam penuh kesepian berharap ayahku bukan penjahat, nyatanya Tuhan sama sekali tidak akan mengabulkan doaku. Ayahku memang bersalah. Itu kenyataannya.

 

Dengan gemetar, kulepaskan genggaman tanganku. Aku menatap Ayah dengan ekspresi datar, tanpa emosi seperti yang kutunjukkan beberapa menit yang lalu. Aku bangkit berdiri, mengalihkan pandangan dari laki-laki yang menyumbangkan separuh darah pada tubuhku ini.

 

“Ayah tidak usah khawatir dengan keadaan kami berdua. Rain akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Adek baik-baik saja, walaupun tanpa Ayah. Rain pulang dulu.” aku tak peduli suaraku berubah dingin di telinga Ayah.

 

“Besok sidang terakhir Ayah. Rain tidak perlu datang. Maafkan Ayah.” Ayah bersuara saat dua langkah lagi aku mencapai pintu.

Aku menerawang ke atas, menghalau air yang menggenang di pelupuk mata. Kugigit bibit kuat-kuat, menahan agar tak menangis lagi. Teringat akan sesuatu, aku berbalik dan mendekati Ayah yang masih terduduk lesu. Kukeluarkan dua buah kotak makan dari tas selempang, dan kutaruh tepat di samping kedua tangan Ayah yang saling bertautan di atas meja.

 

“Ini makanan kesukaan Ayah. Tadi Rain sempat membuatnya di rumah.” aku menunggu tanggapan Ayah namun Ayah malah semakin menundukkan kepalanya. Aku menghela napas untuk kesekian kalinya.

 

“Rain pulang, Ayah.” setelah mengucapkan itu, aku langsung berjalan cepat keluar dari ruangan besuk yang menyesakkan itu. Tak peduli tatapan bingung para polisi yang bertugas menjaga rutan itu, aku terus berjalan melewati mereka tanpa suara. Hingga sampai di depan gedung itu, langkahku terhenti karena seseorang memanggil namaku.

 

“Harusnya Om tidak usah meminta Rain datang kalau hanya untuk dikecewakan begini,” ucapku pelan pada laki-laki paruh baya yang sudah berdiri di depanku ini. Dia adalah teman Ayah, sekaligus pengacaranya.

 

“Setidaknya kamu akan tahu kalau ayah kamu sama sekali tidak mengelak dari kesalahannya. Dia tidak sejahat itu, Rain.” Om Ridwan berkata dengan tenang. Aku menghembuskan napas kasar, kemudian mendongak menatap langit yang mulai diselimuti awan hitam.

 

“Ayah tidak akan sejahat itu kalau Ayah tidak melakukan hal yang membuat putri-putrinya kecewa, Om.” aku membalas tatapan Om Ridwan yang juga tengah menatapku iba.

 

“Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, Nak.”

 

“Tidak untuk sekarang, mungkin nanti. Rain pulang, Om. Terima kasih sudah bersedia mendampingi Ayah sejauh ini. Rain tidak bisa datang ke persidangan besok seperti permintaan Om. Maaf mengecewakan Om,” ucapku sebelum benar-benar pergi meninggalkan laki-laki itu mematung menatap kepergianku.

 

***

 

Aku masih duduk di halte, tapi mengabaikan beberapa bus yang sempat lewat. Langit benar-benar menangis dengan sepenuh hati, menemaniku yang juga tengah menangis. Meski aku terus saja memaki kesal pada diri sendiri karena tak bisa menahan air mata, tetap saja tak menghentikan aliran airnya di kedua pipiku. Kelopak mataku terasa amat perih, namun itu tak seberapa dibanding rasa perih yang hatiku rasakan. Kecewa itu menyakitkan. Kecewa itu melukai.

 

“Ibu…” aku berucap lirih di sela-sela isak tangis yang keluar. Entah sudah berapa kali aku memanggil Ibu, berharap Ibu datang di balik tirai hujan yang menderas.

 

Rasanya sakit sekali menerima kenyataan bahwa Ayah mengakui perbuatannya yang memakan uang rakyat. Hal yang sangat haram, yang dulu sering kukecam lewat artikel-artikel yang kutulis dan dipajang di majalah dinding sekolah. Aku tidak pernah menyangka ayahku sendiri melakukan hal laknat itu, bahkan aku diberi makan dengan hasil itu. Aku benar-benar merasa kotor. Hatiku yang sudah hancur dua bulan ini, sekarang makin hancur berkeping-keping hingga kepingannya menusuk ulu hati.

 

“Mbak! Mbak gila, ya?!”

 

Pertanyaan kasar itu membuat kedua telapak tangan yang menutupi wajah terlepas. Aku mendongakkan wajah, mendapati seorang laki-laki sebayaku berdiri sambil berkacak pinggang beberapa meter di depanku. Tubuhnya menjulang tinggi, diguyur tangis langit dengan bebas. Rambutnya tampak lepek karena basah. Titik-titik air mengaliri wajahnya yang menampakkan ekspresi tegas dan galak.

 

“Hei, Mbak! Ditanya malah bengong!” dia berseru, membuatku sedikit terlonjak.

 

Aku hanya memandangnya bingung. Memangnya apa yang dia tanyakan? Pertanyaan bahwa aku gila? Apa aku harus menjawab pertanyaan seperti itu?

 

“Wah benar-benar ini perempuan! Gila beneran ya, Mbak?!” dia bertanya lagi, membuatku kesal.

 

“Kalau saya gila memangnya kenapa? Bukan urusan kamu!” jawabku ketus. Aku juga tidak tahu dapat dari mana kata-kata ketus seperti itu.

 

“Ya urusanku lah! Mbak nggak lihat orang-orang itu takut nunggu bis di sini karena ada Mbak yang nangis nggak jelas? Mereka jadi naik angkot!” dia menunjuk orang-orang yang baru saja naik angkutan di seberang jalan. “Bisnya jadi sepi dan aku nggak bisa dapat uang banyak!”

 

Aku mengamati penampilannya sejenak. Sepertinya dia adalah pengamen.

 

“Dan gara-gara Mbak, adik-adikku harus ngamen di restoran milik orang sombong itu!” dia menunjuk sebuah restoran tak jauh dari sini, yang cukup ramai. Dan lagi-lagi aku mengikuti arah telunjuknya.

 

“Huh! Padahal sudah hujan begini harusnya kita sudah sampai rumah.” sekarang dia bergumam sendiri, sambil meraup wajahnya yang basah.

 

“Woy Mbak! Ngomong dong! Tuli, ya?!”

 

Aku memejamkan mata sejenak, mengatur emosi yang bahkan sebelum laki-laki ini datang sudah naik ke ubun-ubun.

 

“Jadi mau kamu apa?” tanyaku dengan suara serak karena terlalu lama menangis.

 

Dia mengerjabkan mata, kemudian mendengus keras sambil tetap berkacak pinggang. “Aku beritahu ya, Mbak. Kalau mau nangis, jangan di tempat umum. Bikin orang lain nggak nyaman, tau? Lagipula apa sih masalahnya sampai nangis-nangis seperti orang gila begini? Paling-paling juga putus sama pacarnya. Atau diselingkuhi? Atau cinta bertepuk sebelah tangan? Cih! Begitu saja sudah nangis!”

 

“Apa pun masalah saya, itu bukan urusan kamu. Memangnya kamu tahu apa soal hidup? Jangan sok tahu!” sungguh ini pertama kalinya aku membentak orang lain.

 

Dia tertawa sarkastik, namun langsung terhenti saat dua orang anak kecil memanggilnya ‘Bang’ sambil berlari ke arahnya. Perhatianku langsung tertuju pada dua anak laki-laki yang juga basah kuyup itu. Penampilan mereka jauh dari kata baik, bahkan terkesan kumuh. Apalagi ditambah baju kusut dan rambut awut-awutan yang sudah memanjang sampai leher, sungguh membuatku iba.

 

“Cuma dapat uang sedikit, Bang.” anak yang badannya lebih kurus dari yang satunya menyerahkan bungkusan plastik pada laki-laki itu. Anak yang satunya lagi ikut menyerahkan bungkusan yang sepertinya berisi uang itu. Laki-laki itu segera mengantongi kedua bungkusan itu ke saku jaketnya, sementara kedua anak itu tampak tidak masalah berdiri di bawah hujan seperti itu.

 

Nggak apa-apalah dari pada nggak dapat sama sekali. Tadi diusir Koh Jian, nggak?” balas laki-laki itu.

 

Nggak Bang. Koh Jian lagi sibuk gosipin koruptor yang lagi terkenal-terkenalnya itu, sama Mbak kasir. Mereka nggak tahu mungkin kalau kita ngamen di sana.” anak yang kurus menjawab.

 

“Koruptor? Si Indra Janaka itu? Haha, maling itu memang pantas dipenjara. Semoga saja besok hakim kasih hukuman berat sama dia, kalau bisa sekalian dihukum seumur hidup, deh. Ikhlas aku. Dan kusumpahi juga hidup anak-anak nggak bakal tenang!” ucapnya lalu tertawa keras, diikuti dua anak laki-laki yang ikut tertawa.

 

Mereka tidak tahu, ada hati yang tengah remuk mendengar umpatan laki-laki itu. Telingaku masih cukup normal untuk mendengar sumpah penuh kebencian itu. Ya, siapa yang tidak benci pada koruptor? Apalagi orang-orang kalangan bawah yang menamakan diri mereka sebagai korban yang paling tertindas, akan membenci sang koruptor setengah mati.

 

Pandanganku memburam lagi akibat air mata yang berkumpul di pelupuk mata. Kucengkeram tepian bangku yang kududuki. Rasanya kepalaku akan meledak mendengar kata koruptor dan koruptor. Bahuku naik-turun akibat emosi yang memuncak, sementara bibir kugigit kuat-kuat agar isak tangis itu tak keluar di depan ketiga orang yang tak kukenal ini. Akhirnya yang bisa kulakukan hanya membuka mata lebar-lebar, berusaha tak berkedip agar air mata tak jatuh.

 

“Hei, Mbak! Kenapa melotot begitu? Nggak suka aku nyumpahin si Indra? Memang kamu siapanya dia? Anaknya?” pertanyaan bernada meremehkan itu membuatku langsung mengusap kasar pipiku yang kembali basah.

 

Kedua tanganku terkepal erat, emosiku semakin naik. Aku lantas bangkit berdiri, menatap laki-laki yang tersenyum sinis serta dua anak laki-laki yang menatapku bingung.

 

“Iya, saya anaknya Indra Janaka. Kenapa kalau saya anaknya? Kamu mau apa? Mau menyumpahi saya? Asal kamu tahu, tanpa kamu sumpahi pun hidup saya sudah tidak tenang!” cercaku sebelum berlari pergi menjauh dari mereka, menerobos hujan yang masih cukup deras.

 

Meski aku suka hujan, tapi biasanya aku menghindari pakaianku basah olehnya. Tapi kali ini aku tidak peduli. Biar saja hujan ini membasah-kuyupkan bajuku, meluruhkan segala beban yang menghimpit dada. Ah, kenapa tak ada orang yang mau mengerti perasaan kami? Kenapa orang-orang selalu berpikir bahwa anak seorang koruptor harus mendapatkan hukuman yang sama dengan hukuman yang didapatkan orang tua mereka? Apa mereka tidak berpikir bahwa kami –anak-anak para koruptor– kebanyakan tidak tahu menahu tentang apa yang dilakukan oleh orang tuanya? Apa mereka tidak berpikir bahwa sanksi sosial yang diterima kami bisa saja menggilakan kami? Sungguh aku benci takdir ini.

 

***

Bersambung…

 

Oleh: Septi Nofia Sari

Magelang, 15 Desember 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *