RAIN IV

 

Matahari sudah beranjak turun saat aku sampai di tempat Ibu beristirahat untuk terakhir kalinya. Langit yang seharian ini cerah ceria, kali ini tak nampak menjingga namun malah lebih ke warna hitam. Mendung menyelimuti wajahnya, membuatnya hampir menangis lagi. Suara cicit burung yang berpulang ke peraduan mereka, tak menyurutkan langkahku menemui Ibu. Ada kerinduan yang teramat besar, hingga aku memutuskan untuk pergi tanpa memberitahu Kinan yang masih mengurung diri di kamarnya. Namun aku tidak perlu khawatir karena aku sudah pamit dengan Bibi.

 

Indriyani. Nama itu yang terukir pada batu pipih di depanku. Nama yang menentramkan hati, membuatku rindu untuk memeluk tubuh hangatnya. Ah, seandainya Ibu tahu betapa aku ingin sekali bertemu dengannya dan menumpahkan segala beban yang memenuhi dadaku hingga sesak. Andai Ibu tahu bahwa aku mulai muak dengan hidup yang kujalani tanpanya. Andai Ibu juga tahu kalau kepergiannya telah membawa sekeping hatiku yang lain, menjadikannya tak utuh lagi. Aku ingin Ibu tahu bahwa aku sangat kecewa pada Ayah. Amat sangat kecewa hingga rasanya mau mati saja. Aku tidak sanggup menghadapi ini lagi. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki hidup yang sudah dihancurkan oleh Ayah. Aku tidak tahu bagaimana harus membuat Kinan merasa bahagia kembali. Aku ingin melarikan diri namun seperti ada sesuatu yang kuat mencengkeram erat hingga aku tak bisa melangkah pergi.

 

Aku menghela napas berat sambil menatap sendu batu nisan itu kemudian mengusapnya lembut, sebelum mulai mencabuti rumput-rumput yang tumbuh di atas gundukan tanah itu. Setelah bersih, kutaburkan kelopak bunga mawar yang sengaja kubawa dari rumah. Lalu kulantunkan ayat-ayat sebagai kiriman agar Allah memberikan tempat terindah untuknya di alam sana, sebagai tempat Ibu menanti kedatangan kami suatu hari nanti. Ah, jika saja ini adalah drama maka mungkin aku akan berbicara panjang lebar di depan nisan Ibu dan menangis tersedu-sedu. Jika saja ini drama, maka aku ingin meraung-raung meminta Ibu kembali dan membantuku. Jika saja ini adalah drama, maka aku akan meminta sang sutradara untuk menghentikan adegan menyedihkan ini. Sayang, aku belum segila itu untuk berbicara sendiri di depan sebuah makam. Hidup ini bukan drama, meski yang kualami memang sedrama itu. Tapi menjaga kewarasan adalah sebuah keharusan, bukan?

 

***

Butir-butir hujan mulai lebat saat aku sudah berada di dalam bus yang akan mengantarkanku menuju jalan pulang. Kali ini aku duduk di bangku paling belakang, dan di dekat jendela seperti biasa. Embun yang menitik di kaca jendela seolah melambai-lambai memintaku untuk menyentuhnya, dan aku tidak bisa menolak. Ada gelenyar menyenangkan tiap kali telapak tanganku menyentuh kaca yang berembun itu, dinginnya mengaliri nadi membuat sebagian hatiku menghangat. Sesuatu yang dingin di luar bisa merambatkan sebuah kehangatan di dalam. Aneh, bukan?

 

Dua orang gadis remaja yang baru masuk menyita perhatianku. Mereka saling bercanda, membicarakan artis idola mereka dengan wajah berbinar. Mereka seperti sepasang sahabat yang saling menyayangi. Orang-orang yang melihat mereka pasti akan merasa iri karena keakraban mereka tampak seperti sahabat sejati. Ah, sahabat. Sebulan yang lalu aku masih mempercayai adanya ikatan kuat antar sahabat. Saling menyayangi dan mencintai, melindungi dengan segenap tenaga agar sang sahabat tidak merasakan luka. Berjanji saling menggenggam tangan, melangkah menerobos kelamnya dunia yang kejam. Tapi itu sebulan yang lalu, sebelum hujan datang bergandengan dengan angin topan. Kini bagiku kata ‘sahabat’ hanyalah omong kosong. Sebuah hubungan yang dibuat hanya karena terlarut oleh kasih sayang semu. Rasa sayang yang muncul di saat sedang berbahagia, namun akan terhempas begitu saja jika sudah mengalami duka. Tak ada sahabat sejati di dunia, kecuali Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Hanya mereka sahabat sejati yang benar-benar hakiki di dunia. Setelahnya? Bullshit!

 

Kau tak pernah lelah

Sebagai penopang dalam hidupku

 

Aku tersentak dan mengalihkan pandangan dari kedua remaja itu, ke arah seorang anak kecil yang bernyanyi sambil memetik gitar kecil. Suara seraknya amat manis dan membuatku terpesona. Namun lirik lagu yang dibawakan olehnya tiba-tiba menggetarkan hatiku. Ingin rasanya aku menangis, saat wajah Ayah melintas di kepala. Bukan hanya aku, namun setiap orang aku yakin pasti akan tergetar jika mendengar lagu ini. Memori-memori masa kecil bersama Ayah berputar-putar seperti adegan per adegan yang mampu mengiris ulu hati.

 

“Putri kecil Ayah belajar apa hari ini di sekolah?” tanya Ayah suatu senja yang cerah. Aku sedang di halaman belakang sambil mewarnai gambar yang kubuat sebelumnya.

 

“Tadi Rain belajar menggambar kupu-kupu, Yah. Miss Elli bilang kupu-kupu Rain cantik. Lihat deh Yah,” aku menunjukkan gambarku yang baru diwarnai sebagian. Ayah mengamatinya sejenak sebelum tersenyum dan menghujaniku dengan ciuman-ciuman di pipi gembilku.

 

“Wah, Tuan Puteri memang pintar menggambar.”

 

“Tentu saja. Tuan Puterinya siapa dulu?” Ibu tiba-tiba menimbrung, duduk di samping kiriku sambil mendekapku erat.

 

“Tuan Puteri Ayah, dong.” Ayah menjawab dengan cepat dan tampak bangga.

 

“Tuan Puteri Ibu, dong.” Ibu tak mau kalah. Aku bangkit dan menatap jahil mereka berdua.

 

“Rain itu Tuan Puterinya pangeran hujan. Kan kata Ibu, Rain adalah Puteri hujan.”

 

“Tidak boleh, Rain tetap Tuan Puteri Ayah!” balas Ayah membuatku tertawa terbahak-bahak.

 

“Rain tidak suka Ayah jadi pangeran hujan. Ayah kumisan soalnya haha!” Ayah cemberut tidak suka, lalu bangkit dan mengejarku yang sudah lari ke sana kemari menghindarinya.

 

Masa-masa yang bahagia dan penuh tawa ceria. Sayangnya sudah lewat. Itu hanyalah sekeping kenangan di usiaku yang menginjak angka enam, saat keluargaku merupakan keluarga kecil yang bahagia. Namun satu per satu kebahagiaan itu raib sudah. Ibu yang menjadi ratuku, sudah pergi meninggalkan luka yang tergores amat dalam. Dan Ayah semakin berubah menjadi orang yang tak tersentuh sejak ratunya pergi.

 

Aku hanya memanggilmu / Ayah

Di saat ku kehilangan / arah

Aku hanya mengingatmu / Ayah

Di saat ku tlah jauh darimu

 

Lagi-lagi aku tersenyum kecut. Lagu itu kontras sekali dengan apa yang kualami sekarang. Kata orang, seorang anak perempuan akan sangat dekat dengan ayahnya. Aku percaya itu, sebelum Ibu pergi. Dulu aku memang amat dekat dengan Ayah, tapi seiring gerimis datang ke kehidupan kami seolah ada jarak yang kian membentang antara aku dan Ayah. Pun Kinan, yang jauh sekali dari kemungkinan untuk bisa bermanja-manja dengan Ayah. Karena itu Kinan hanya bisa bersikap manja padaku atau Bibi. Ayah sangat sibuk, terlebih lagi setelah ikut serta dalam partai politik. Kasih sayang Ayah hanya sebatas fisik dan materi, hatinya seperti tak pernah turut serta. Lalu apakah lagu itu cocok untuk menggambarkan Ayah? Tidak.

 

***

 

Langit mulai mengeringkan air matanya, saat aku sudah sampai di depan rumah. Berjalan memasuki gerbang rumah, aku dibuat terkejut oleh suara seseorang yang terdengar sangat keras di beranda rumah. Aku segera berlari, mencari tahu apa yang terjadi saat seketika hatiku dilanda cemas. Dan benar saja, mataku terbelalak saat melihat Kinan menangis terisak di pelukan Bibi sementara dua orang Ibu dan beberapa anak kecil mengerubunginya.

 

“Setelah jadi anak maling, kamu mau jadi preman juga?!” Aku terkejut bukan main mendengar ucapan kasar yang keluar dari mulut seorang wanita yang kukenal sebagai tetanggaku ini.

 

“Tolong jangan bicara kasar, Mbak Tina.” tampak Bibi berbicara dengan sabar, tapi Mbak Tina malah berdecih sinis.

 

“Justru anak ini yang kasar sama Didit!” Mbak Tina membalas dengan setengah berteriak.

 

“Bibi, ada apa?” aku segera bertanya, karena tak tahan lagi melihat Kinan ditunjuk-tunjuk seperti itu.

 

“Oh, ini kakaknya sudah pulang rupanya.”

 

Aku menoleh pada Mbak Tina yang barusan menyahut, “Tolong jelaskan apa yang terjadi, Mbak?”

 

“Kamu mau tahu apa yang terjadi? Adikmu ini!” Mbak Tina menunjuk hidung Kinan, “Dia sudah memukuli Didit sampai lebam-lebam begini!”

 

Aku menatap anak Mbak Tina yang bernama Didit itu. Lengan kirinya memang agak membiru, dan sepertinya anak berusia sepuluh tahun itu habis menangis.

 

“Adikmu itu lebih pantas disebut preman!” wanita di sebelah Mbak Tina yang kutahu bernama Bu Riska, ikut bicara kasar.

 

“Tolong jangan bicara seperti itu pada adik saya, Bu.” aku berucap pelan, berusaha menepis rasa tersinggung akibat ucapan mereka tentang Kinan yang saat ini makin terisak di pelukan Bibi.

 

“Memang apa lagi sebutan yang pantas untuk anak perempuan yang kasar seperti adikmu itu?!” seru Mbak Tina.

 

Aku menarik-hembuskan napas, kemudian memilih berbalik menatap Kinan. Kuusap kepalanya hingga dia mendongak, dan beralih memelukku erat. Dapat kurasakan tubuhnya yang bergetar karena terlalu kencang menangis.

 

“Benar apa yang Mbak Tina bilang, Dek?” tanyaku lembut sambil mengusap punggungnya. Kinan tidak menjawab, semakin menangis.

 

“Jangan dimanja lah adikmu itu, Rain. Bisa ngelunjak dia!”

 

“Tolong, Mbak. Saya yang tahu bagaimana menghadapi adik saya ini,” jawabku mencoba sesabar mungkin. Tampak Mbak Tina dan Bu Riska berdecak keras tapi aku mengabaikannya.

 

“Dek, jawab Mbak ya. Adek benar memukul Didit?” tanyaku lagi. Kinan akhirnya mengangguk pelan.

 

“Kenapa?” Kinan menggeleng sambil sesenggukan. “Adek percaya kan kalau Mbak tidak akan marah-marah kalau alasan Adek jelas?”

 

Kinan mengangguk, lalu mengangkat kepalanya. Wajah mungil adikku itu tampak sembab, membuatku spontan meringis menahan sesak di dada.

 

“Didit sama teman-temannya yang mulai, Mbak. Mereka lempari Kinan pakai batu. Mereka bilang Kinan anak maling.” Kinan menjawab di sela-sela isak tangisnya.

 

“Loh memang benar, kan? Kalian itu memang anak maling!” Mbak Tina menyahut membuat Kinan sontak berbalik dan menatap tajam kedua ibu-ibu itu.

 

“Kinan bukan maling!” teriak Kinan tepat di depan mereka. Matanya menatap tajam, meski berlinang air mata.

 

“Memang bukan, tapi bapak kamu yang maling!” Mbak Tina membalas.

 

“Itu bukan salah Kinan. Kenapa Didit melempari Kinan? Kinan tidak salah apa-apa!”

 

“Ya kamu salah karena sudah makan uang yang dimaling ayah kamu. Ibuku yang bilang begitu. Benar kan, Bu?” Didit ikut bicara sambil meminta pembelaan ibunya. Aku menatap tak percaya anak itu.

 

“Tapi Kinan tidak tahu kalau Ayah korupsi!” balas Kinan sengit. Aku menggigit bibir, baru kali ini aku mendengar Kinan berbicara sekeras itu.

 

“Itu hasilnya memanjakan anak, Rain. Kamu kan sudah dewasa, harusnya kamu bisa mengajari adikmu itu untuk bersikap sopan sama orang yang lebih tua. Jangan mentang-mentang bekas orang kaya jadi dia bisa kasar seperti preman!” aku hanya bisa menggigit bibir menahan dadaku yang hampir meledak karena ucapan demi ucapan wanita itu.

 

“Dek, sudah ya. Minta maaf sama Didit, kamu sudah buat dia luka. Itu tidak baik.” aku mengusap punggung Kinan, namun Kinan berontak.

 

“Kinan tidak salah, Mbak!” Kinan menatapku marah, “Kinan tidak mau minta maaf karena mereka yang mulai dulu. Kinan cuma mau duduk sendiri di taman tapi mereka malah mengata-ngatai Kinan sambil melempar batu. Kinan tidak mengganggu mereka, tapi mereka yang ganggu dulu. Harusnya mereka yang minta maaf sama Kinan!”

 

“Dek, minta maaf itu bukan berarti kamu sal–”

 

“Tidak!” bentak Kinan.

 

“Dek, dengarkan Mbak dulu–”

 

“Kinan tidak salah apa-apa. Kinan bukan maling. Kenapa mereka selalu mengatai Kinan begitu? Kinan benci Ayah. Kinan tidak suka punya Ayah koruptor seperti Indra! Gara-gara dia, Kinan jadi diejek di sekolah dan Kinan tidak bisa berangkat sekolah lagi. Gara-gara dia, Kinan tidak punya teman lagi. Semua orang benci Kinan. Kinan juga benci Ibu karena Ibu meninggalkan Kinan setelah melahirkan Kinan. Ibu jahat. Harusnya Ibu tidak melahirkan Kinan kalau Kinan hanya akan menderita seperti ini. Kinan benci semuanya. KINAN BENCI!” setelah mengucapkan itu dengan keras, Kinan langsung berlari masuk ke kamarnya. Aku menatap punggung Kinan dengan mulut terkatup dan kedua tangan terkepal. Sakit sekali mendengar unek-unek yang selama ini terpendam di hatinya. Kinanku terluka.

 

“Memang susah ya menghadapi anak kurang didikan!”

 

“CUKUP, MBAK!” aku berteriak dan berbalik menatap tajam Mbak Tina yang masih bisa-bisanya berkata kasar setelah mendengar ungkapan hati Kinan. Aku tak tahan lagi menahan semua ini. Kuusap sudut mataku yang berair.

 

“Tolong, cukup. Saya tahu kalau ayah kami memang bersalah. Tapi tidak bisakah kalian tidak menyakiti hati kami seperti ini? Kami juga menderita. Apa yang Ayah kami lakukan memang salah besar, tapi apa kami pantas ikut dihakimi seperti ini?” aku menatap mereka yang mungkin terperangah mendengar ucapanku.

 

“Rain, tenanglah Nak.” Bibi yang masih ada di sampingku, mencoba menenangkan. Namun terlambat, aku butuh orang untuk menampung segala keluh kesah yang ingin kulampiaskan.

 

“Bi, tolong susul Adek.” aku berucap lirih pada Bibi yang dibalas Bibi dengan anggukan pelan sebelum mengusap lenganku dan masuk ke dalam rumah. Aku kembali menatap datar kedua wanita di depanku.

 

“Ayah kami koruptor, saya tidak bisa mengelak. Tapi kenapa kami juga harus dapat hukuman? Kami hanya anak, Mbak. Kami tidak tahu apa-apa, tapi kenapa harus merasakan seperti ini seolah keluarga kami memang komplotan penjahat? Kalau disuruh memilih, kami juga tidak mau punya Ayah seorang koruptor. Tapi memang apa yang bisa saya dan Kinan lakukan, Mbak? Sebagai orang yang lebih tua, tolong beritahu saya apa yang harus saya lakukan agar kalian tidak menghukum kami seperti ini?” Hati kecilku mencibir, mengatai bahwa aku tak pantas bercita-cita sebagai seorang psikolog karena menenangkan emosi sendiri saja tidak bisa.

 

“Kenyataannya kamu dan adikmu itu juga memakan uang hasil curian bapakmu itu!”

 

“Musibah bisa saja terjadi sama siapa saja, kan? Lalu bagaimana kalau suami Mbak Tina tiba-tiba melakukan hal seperti apa yang ayah saya lakukan? Apa Mbak rela diperlakukan seperti ini juga? Apa Mbak rela Didit dikatai sebagai anak maling? Apa Mbak akan kuat ditinggalkan semua orang terdekat karena kesalahan yang tidak Mbak perbuat? Jawab!” aku menatap wanita itu dengan bahu naik turun menahan emosi. Air mataku sudah mengalir tanpa permisi, membuatku makin lemah saja!

 

“Kami cuma seorang anak, Mbak. Kalau kalian menamakan diri kalian sebagai korban tak langsung ayah saya, lalu saya dan Kinan ini apa? Apa kami bukan korban juga? Kami menderita, Mbak. Tidak perlu kalian menghujat kami bahkan sampai meracuni pikiran anak-anak kalian hanya untuk menghukum kami pun, kami sudah cukup terhukum. Kami juga bisa gila, Mbak!” mereka diam saja menanggapi cercaan demi cercaan yang kulontarkan. Pandanganku memburam karena air mata yang menggantung di pelupuk mata.

 

“Hidup Kinan sudah terlalu menderita. Mbak Tina juga tahu pasti kalau Ibu sudah meninggal, hingga Mbak tega mengatakan Kinan kurang didikan. Tapi apa Mbak pikir Kinan bisa bersikap sekasar itu kalau kalian tidak menyudutkan dia? Kinan masih sangat kecil untuk menerima kekasaran kalian semua. Seharusnya kalian sebagai orang dewasa bisa sedikit memahami perasaan Kinan. Kalau memang kalian mau menghukum, tolong hukum saya saja jangan Kinan. Ayah kami ditahan, semua harta disita, teman-teman kami menjauh, apa lagi yang mau kalian usik dari hidup kami? Kalau kalian mau menghukum, saya saja jangan Kinan. Dia masih terlalu kecil untuk memahami kata-kata kasar kalian.” aku menghembuskan napas berat, mengalihkan pandangan dari mereka yang sudah bungkam. Melirik lengan Didit yang membiru, aku mencoba mengontrol emosi. Lalu aku menoleh kembali pada Mbak Tina.

 

“Saya mewakili Kinan, minta maaf karena sudah memukul Didit. Biar bagaimana pun Kinan tetap salah. Tidak seharusnya dia bersikap kasar pada anak yang lebih muda dari dia. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Mbak bisa periksakan luka anak Mbak ke dokter, insya Allah saya bisa mengganti biaya periksanya.” ucapku sambil mengeluarkan dua lembar uang lima puluhan ribu, dan menaruhnya di genggaman Mbak Tina dengan paksa.

 

Mbak Tina menatapku tak percaya, namun aku sudah terlalu lelah untuk menanggapinya. Aku tidak peduli mereka berpikir aku menilai segalanya dengan uang. Aku membeli maafnya dengan materi. Aku sungguh tidak mau tahu. Toh sebelum ini mereka sudah terlanjur berpikir buruk tentang kami, bukan?

 

Aku membalikkan badan, membenturkan pelan kepalaku ke daun pintu. Air mata kembali mengalir, dan aku yang sejatinya cengeng sudah tak kuat lagi untuk menahan isakan ini lebih lama lagi. Aku bahkan tidak menyangka akan bisa bersikap tidak sopan kepada tetanggaku itu. Sungguh, selama ini aku selalu berusaha untuk bertutur kata lembut. Sama sekali aku tidak pernah meninggikan nada bicara pada orang lain, karena Ibu memang mengajariku seperti itu. Tapi sekarang aku kehilangan kesopanan. Rasanya kepalaku akan meledak saat ini juga. Tatapan Kinan yang menyiratkan luka yang amat dalam kembali terngiang di kepala. Hatiku teriris mengingat betapa terlukanya Kinan saat ini.

 

“Mbak Rain.”

 

Aku berbalik saat suara laki-laki memanggil namaku. Dan ternyata tetangga-tetanggaku itu sudah pergi, berganti dengan kehadiran Mas Satya dan Mbak Ani yang membuatku mengerutkan kening. Mereka berdua adalah pegawai Ayah di minimarket, dan tidak biasanya mereka datang ke rumah. Tiba-tiba aku merasa sangat cemas.

 

“Mbak Rain baik-baik saja?” pertanyaan Mas Satya membuatku sedikit tergeragap.

 

“I-iya, Mas. Mari masuk dulu,” ajakku sambil membuka pintu lebar-lebar, mengingat mungkin kedatangan mereka karena sesuatu hal yang penting.

 

“Tidak usah, Mbak. Kami hanya mau memberitahu kalau…,” Mbak Ani menggantung kalimatnya, dan itu membuatku makin cemas.

 

“Ada apa, Mbak?” tanyaku.

 

“Mbak Rain yang sabar ya,” ucap Mbak Ani sambil mengusap lenganku.

 

“Sabar kenapa, Mbak? Sebenarnya kalian mau memberitahu apa?” tanyaku tidak sabar.

 

“Begini Mbak,” Mas Satya melirik Mbak Ani kemudian menghela napas berat, “Minimarket ludes terbakar. Ada orang tidak dikenal yang melempar banyak sekali bom botol, dan kami tidak bisa menyelamatkan minimarket Pak Indra.”

 

Aku langsung terduduk lemas di lantai. Jantungku rasanya berhenti berdetak. Langit dengan teganya runtuh di atas kepalaku. Planet-planet berhamburan, memberantakkan duniaku. Mataku berkunang-kunang saat pening mendera dengan kejamnya. Ibu, Rain harus bagaimana?

 

***

Bersambung…

Oleh: Septi Nofia Sari

Magelang, 12 Desember 2017

 

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *