PERMINTAAN TERAKHIR

“Santailah, Brigadir! Satu batang rokok akan membuat anda rileks. Tak perlu sungkan.”

Kalau bukan penegak hukum, aku ingin melempar asbak ke muka tengik Dory. Gaya tengilnya membuat selera humorku hilang. Menghadapi orang brengsek sepertinya harus pintar-pintar mengendalikan diri.

“Sepertinya ada hal penting, Brigadir?” Dory memijat-mijat rokoknya.

“Penting buat anda, bukan buat saya.”

Dory terkekeh. Ia mencelup telunjuk ke dalam cangkir. Telunjuknya berlumuran ampas kopi hitam. Ia membaluri rokok dengan kopi tersebut, lantas menyulutnya.

“Saya pikir, kabar tewasnya pesaing anda sudah sampai dengan terang ke rumah ini.” Aku memerhatikan mimik Dory. Ekspresinya datar.

“Saya kehilangan rival berat.” Dory mengepulkan asap rokok di udara. “Pilkada tahun depan akan sangat hambar tanpanya, mengingat incumbent sudah tak bisa mencalonkan lagi.”

“Tapi pilkada bukan soal rasa bukan? Bagi saya itu semacam kontes kecantikan, tidak perlu jantan untuk memenangkannya.”

“Jika semua penegak hukum melek politik seperti anda. Orang seperti saya bisa pensiun dini dari panggung politik.”

Manis sekali ucapan Dory, sindiran dibalas sindiran. Sungguh ini kasus menarik buatku. Aku sedang berbincang-bincang dengan terduga pelaku pembunuhan berantai dalam keadaan santai.

Belum cukup bukti bagi tim kami untuk menjerat Dory sebagai tersangka. Keterangan dari beberapa saksi masih sebatas menjelaskan kronologi kematian korban. Tidak ada jejak yang ditinggalkan pelaku. Hasil forensik pun lebih mengindikasikan korban mati dengan bunuh diri. Namun, bagi seorang penyidik sepertiku, data-data saja tidak cukup. Aku harus menggunakan intuisi.

“Kebetulan anda datang. Saya ingin menanyakan perkembangan kasus kematian Jian, sopir pribadi saya.” Dori menatap saya tajam.

Aku menjadi gamang. Dugaan Dory terlibat dalam kasus pembunuhan menjadi bias karena tatapan matanya saat menanyakan kasus tersebut sangat meyakinkan. Jika terlibat, ia tak akan berani menatapku setajam itu.

“Kami sudah mendapatkan titik terang. Namun karena ini masih dalam tahap penyidikan, mohon maaf saya tidak bisa menjelaskannya. Nantilah kalau kami sudah menetapkan tersangkanya.” Berbohong kepada pembohong tetaplah tidak bisa dibenarkan. Sebagai penegak hukum juga aku tidak boleh melakukannya. Namun sebagai penyidik aku tidak boleh terbawa arus sandiwara terduga pelaku pembunuhan berantai. Aku harus melawannya.

“Syukurlah! Saya mengapresiasi kerja keras tim anda.” Dory mengambil ponsel dari atas meja. “Almarhum Jian pernah menunjukan sms kepada saya. Ia mengirimkan screenshot-nya kepada saya, dua hari sebelum meninggal. Barangkali ini berguna bagi anda.”

“Baik, kirimkan kepada saya gambarnya.”

***

“Sebagai sopir, kamu tidak punya kewenangan menjawab pertanyaan wartawan!” hardik Dory. “Jangan ulangi lagi!”

“Iya, maafkan kebodohan saya. Saya janji tidak akan mengulanginya.” Jian melirik spion dalam, memasang ekspresi rasa bersalah.

Toyota Alphard melaju dengan kecepatan tinggi di jalan tol. Jian memutar stir ke kanan, menempatkan mobil ke lajur cepat. Dengan lincah ia menyalip beberapa truk, kemudian kembali ke lajur sebelah kiri. Di jok belakang, Dory sedang memantau berita politik dari tabletnya.

“Elektabilitas Jondan semakin meningkat saja,” keluh Dory.

Jondan adalah rival terberat Dory dalam pilkada tahun depan. Persaingan mereka di dunia politik ibarat pertarungan el clasico antara Real Madrid melawan Barcelona. Dalam dua kontes pemilu legislatif, Jondan dan Dory saling mengalahkan.

Tahun depan, pada kontes pilkada, Jondan dan Dory kembali bersaing untuk memperebutkan kursi orang nomor satu di kabupaten. Hampir semua poling menempatkan mereka sebagai dua besar kandidat yang paling tinggi elektabilitasnya.

“Masih ada waktu satu tahunan, Pak!” sahut Jian, berusaha menjilat dengan berlagak menghibur.

“Kamu sering bertemu dengan Jondan?” tanya Dory.

“Tidak terlalu sering, hanya beberapa kali saja.” Jian melirik spion dalam. “Dia selalu menang dalam taruhan bola.”

“Berapa nominal tertinggi yang pernah ia pertaruhkan?”

“Setengah milyar, Pak!”

Dory mengangkat alisnya. “Kamu berani bertaruh dengannya? Kamu juga sering menang bukan? Prediksimu sering akurat!”

Jian terkekeh. “Saya hanya bertaruh recehan saja Pak, tidak pernah sampai satu juta.”

Dory menaikan sepasang bola matanya, memikirkan sesuatu. Selang beberapa detik kemudian wajahnya mendadak cerah. “Kamu tantang dia bertaruh. Uangnya dari saya. Hasilnya fifty-fifty. Berani?”

Jian mengatupkan bibir atas dengan bibir bawah, kemudian mengerjap. “Bapak serius?”

***

 

Angkat topi buatmu, Dory. Cantik dan brilian permainanmu! Satu anak panah dua sasaran, sebuah kemahiran tingkat tinggi darimu yang harus kuakui. Pasti sekarang kau sedang menghitung uang itu sambil menyeringai jahat.

Bukan uang satu milyar yang kusesalkan. Aku tak perlu merasa kehilangan atas uang itu. Toh, itu uang suap dari beberapa pengusaha. Aku tidak mendapatkannya dengan banyak keringat. Yang kusesalkan adalah cara licikmu membunuh karakterku.

Sekarang penyidik sedang intens mencari barang bukti agar bisa menjeratku sebagai tersangka. Mereka curiga, aku membunuh sopir pribadimu dengan motif dendam karena kalah taruhan. Memang aku tidak terlalu panik menyikapi kasus itu. Aku tidak merasa bersalah. Aku punya alibi.

Tetapi, kabar yang berkembang di masyarakat membuatku tidak bisa tidur dua hari belakangan ini. Isu itu menjadi liar. Sebagian orang percaya aku pelakunya, sisanya tidak peduli. Elektabilitasku merosot tajam. Apakah kau puas?

Aku memang busuk, Dory. Aku suka makan uang rakyat. Aku lelaki hidung belang, suka berjudi, dan pembohong yang handal. Tetapi, aku tak pernah berani menghilangkan nyawa, membunuh kecoa saja aku tak tega.

Kenapa kau tega melakukan perbuatan keji itu? Demi pilkada kau membunuh orang yang telah setia mendampingimu selama bertahun-tahun. Dengan uangmu kau memang mudah saja menyantuni janda dan anak yatimnya, tetapi pernahkah kau bayangkan bagaimana sedihnya mereka kehilangan orang yang mereka sayangi?

***

 

Semua keinginan anda akan terwujud. No hoax. Buktikan sendiri. Ketik Reg Permintaan, kirim ke 51781.

Kau baru saja membuka sebuah pesan singkat. Awalnya kau mengabaikannya, sama seperti sms-sms penguras pulsa sebelumnya. Namun pikiranmu sedang kalut. Hatimu sedang gelisah. Logikamu sedang kacau, sehingga pesan itu tiba-tiba saja tampak menarik. Kau berpikir tidak apalah membuang beberapa puluh ribu pulsa, yang penting kau bisa sedikit teralihkan dari beban berat.

Besok vonis dakwaan pembunuhan akan dibacakan. Posisimu sedang sulit. Fakta persidangan menyudutkanmu. Alibimu dimentahkan oleh keterangan para saksi palsu. Kau sedang menjadi korban konspirasi. Kau sedang difitnah melakukan pembunuhan yang tak pernah kau lakukan.

Semua berawal dari taruhan pertandingan sepak bola antara Real Madrid melawan Barcelona pada sebuah kafe yang menggelar nonton siaran langsung bareng. Seorang lelaki kurus bernama Jian, tiba-tiba saja menghampirimu sambil menunjukkan segepok uang tunai senilai 1 milyar. Penampilannya tidak meyakinkan. Wajahnya tampak bodoh, mengatakan kepadamu bahwa ia bertaruh untuk kemenangan Barcelona. Padahal klub Catalan tersebut sedang terpuruk. Beberapa pemain pilarnya mengalami cidera.

Seharusnya kau tidak meladeninya, tetapi melihat uang 1 milyar membuatmu tergiur, apalagi kau merasa yakin Real Madrid akan menang. Selain bertindak sebagai tuan rumah, los blancos juga sedang dalam tren positif. Semua bandar judi mengunggulkannya. Di atas kertas klub idolamu itu akan menang. Namun sepak bola dimainkan di atas rumput, bukan di atas kertas. Kau kalah taruhan!

Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga, ketumpahan cat pula, seperti itulah nasibmu. Setelah kehilangan uang 1 milyar, kau harus menghadapi tuntutan jaksa atas dakwaan membunuh Jian dengan motif dendam. Kau tak habis pikir kenapa, Jian tiba-tiba mati sehari setelah menerima uang darimu.

Jika dinyatakan bersalah, kau tidak hanya akan menghabiskan sisa hidupmu di dalam penjara, tetapi juga akan membuat keluargamu hancur. Istrimu bisa berpaling ke lelaki lain. Anak-anakmu akan mengalami depresi, menanggung malu sebagi anak seorang pembunuh.

Kau mengetik pesan: reg permintaan, kemudian mengirimkannya ke nomor 51781. Beberapa detik kemudian, sebuah balasan muncul.

Terima kasih telah menggunakan layanan ini. Permintaan anda sedang kami proses.

Kau tersenyum masam, sedikit merasa terhibur.

Besoknya permintaanmu benar-benar terkabulkan. Majelis hakim menyatakan kau tidak bersalah. Kau langsung bersujud syukur.

***

 

Kami menemukan keterkaitan antara kasus kematian Jian dengan kematian Jondan. Kedua korban tewas secara mendadak, diduga keduanya sama-sama keracunan. Kami juga menemukan sebuah sms yang isi pesan dan pengirimnya sama pada kedua ponsel korban. Dari riwayat pesan, keduanya sama-sama membalas pesan tersebut.

Sejauh ini kami belum bisa menyimpulkan secara pasti keterkaitan kedua pesan tersebut dengan kasus kematian para korban, namun kami terus mendalaminya. Kasus ini memang rumit. Dulu kami menduga Jian tewas terbunuh oleh Jondan, tetapi belakangan Jondan juga tewas dengan cara yang sama. Hasil forensik mengindikasikan kedua korban bunuh diri. Kematian mereka diakibatakan oleh gagalnya fungsi jantung dan hati. Kemungkinan besar mereka meminum racun yang sama.

Kami akan terus mengembangkan kasus. Ada satu nama yang layak diselidiki karena memiliki hubungan dengan para korban, yaitu Dory. Ia adalah majikan Jian. Ia juga sedang berseteru dengan Jondan.

***

 

Kupelototi gambar hasil screenshot pada layar ponsel. Semakin memikirkannya, semakin pusing kepalaku. Gambar tersebut diambil Jian, lalu dikirimkannya kepada Dory, dua hari sebelum meninggal.

Gambar tersebut merekam layar yang sedang menampilkan sebuah isi sms berlangganan:

Semua keinginan anda akan terwujud. No hoax. Buktikan sendiri. Ketik Reg Permintaan, kirim ke 51781.

Apa motif Jian mengirimkannya kepada Dory? Apa hubungannya dengan kasus kematiannya? Apakah itu sebuah pesan tersirat? Atau ini hanya olok-olok saja? Kuabaikan pertanyaan terakhir, karena kuanggap mustahil. Entahlah, aku mulai mengantuk.

Tring! Sebuah ide baru saja mendarat di benakku. Kenapa tidak aku coba saja mengirimkan sms seperti yang tertera di screenshot tersebut? Barangkali saja ada petunjuk yang bisa kudapatkan.

Setengah iseng, setengah berharap, aku mengirimkan sms seperti yang tertera pada screenshot tersebut. Tak berselang lama, aku mendapatkan balasan.

Terima kasih telah menggunakan layanan ini. Permintaan anda sedang kami proses.

Aku terkekeh membaca isi pesan balasan tersebut. Ada-ada saja. Aku bahkan belum menyebutkan keinginanku. Menarik dan cukup menghibur!

Mendadak kantuk semakin sulit kutahan. Kepalaku terasa berat. Mataku sulit sekali kucegah agar tidak terpejam. Kurasakan tubuhku limbung ke belakang. Kemudian secara perlahan kesadaranku hilang.

“Selamat datang, Anak Adam!”

Aku terkesiap. Kubuka mata. Telah berdiri di hadapanku sesosok lelaki menyeramkan. Di mana aku? Kenapa semua tampak remang?

“Kau berada di alam sakaratul maut!

“Kamu siapa?” Aku merasa ngeri melihat penampilannya. Rambutnya panjang, tergerai sampai ke lutut. Wajahnya menyeramkan. Kulitnya hitam semua. Tak ada warna putih pada dirinya.

“Aku makhluk yang menyesatkanmu!”

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Sejauh mata memandang tak ada objek yang bisa kutangkap selain sosok menyeramkan tersebut.

“Makhluk-makhluk seperti kalian itulah yang akan menjadi teman kami. Manusia banyak permintaan. Kalian serakah. Kebutuhan kalian sudah dicukupi Tuhan tetapi masih merasa kurang. Kalian memang tak pantas untuk dihormati. Oleh karena itulah nenek moyang kami enggan bersujud kepada bapak kalian.”

“Aku tidak meminta apa-apa darimu!”

“Kamu menginginkan kasus yang sedang kamu tangani segera terungkap. Aku akan mengungkapkan siapa pembunuh Jian dan Jondan yang sebenarnya. Kamu siap mendengarnya?”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”

“Aku iblis! Jika cerdas, kamu bisa membaca nomor 51781 dengan memutar ponselmu 180 derajat. Sayang kamu tidak terlalu cerdas.”

“Aku tidak akan meminta apa pun darimu.”

“Kamu tidak ingin tahu siapa pembunuh Jian dan Jondan?”

“Kamulah yang membunuh mereka. Kamu yang mengirim sms kepada mereka. Kamu menuruti keinginan mereka dengan kompensasi nyawa.”

“Kamu tidak sebodoh yang kukira ternyata. Aku tidak hanya membunuh mereka, tapi juga mendapatkan pengikut baru. Mereka akan bersamaku di neraka.”

“Pergi kau! Aku tak sudi mengikutimu!”

 

 

Akhmad Al Hasni

Kendal, 14 Desember 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *