Gadis Dalam Koran

Astoge pete!” Reflek tubuh Stevi terjengkang, akibat menghindari seekor kecoa yang tiba-tiba menerjang, tadi ketika membuka lemari. Binatang yang menurutnya paling menjijikan itu nyaris menabrak hidung peseknya.

Jika bukan Papa yang menyuruh, ia malas membersihkan gudang. Ruangan ini rencananya akan dijadikan salon oleh Mama. Lokasinya berada di ujung depan rumah, berhadapan langsung dengan jalan raya, cukup strategis untuk dijadikan tempat usaha.

“Kamu bantu Mama bersihkan gudang besok, mau direnovasi buat membuka usaha. Zaman sekarang, semua harus dimanfaatkan dengan baik, Stevi.” ujar Mama, tadi malam. “Kalau cuma mengandalkan gaji papamu, mana cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Papa terlalu jujur. Teman-teman sekantornya sudah banyak yang punya mobil, rumahnya bagus-bagus, padahal gaji mereka tidak lebih banyak dari Papa.”

“Kenapa tidak menyuruh orang saja, Mam?”

“Jangan membantah! Kalau bisa dikerjakan sendiri, kenapa harus membayar orang? Kita harus berhemat, Stevi.”

Sebenarnya Stevi keberatan, tetapi gadis berusia 17 tahun itu tak berani menunjukannya karena tiba-tiba Papa keluar dari dalam kamar, mendekatinya.

“Anak Papa yang cantik dan rajin, turuti kata-kata Mama ya, Sayang?” bujuk Papa.

Papa seorang lelaki menyenangkan dan penuh perhatian. Tak pernah sekalipun ia main tangan dalam mendidik anak. Kata-katanya santun namun berwiba. Ia mendidik keluarganya dengan keteladanan.

Stevi sangat menghormati dan menyayangi Papa. Maka itulah, meski ia malas membersihkan gudang yang pengap, berdebu dan penuh binatang menjijikan, ia tetap melakukannya. Semua demi Papa, bukan demi Mama yang sangat cerewet dan suka mengatur-atur.

Stevi mengambil napas dalam-dalam sebelum meneruskan pekerjaan untuk mengeluarkan semua isi lemari,  Ia harus mengumpulkan semua keberanian, agar tidak mudah panik jika ada lagi kecoa yang tiba-tiba keluar. Pelan-pelan tangannya menyibak daun pintu. Setelah memastikan aman, ia mengeluarkan satu-persatu isi lemari. Tak ada barang berharga di dalamnya, hanya baju-baju yang sudah tak terpakai.

Stevi mengumpulkan baju-baju tersebut ke dalam sebuah kardus. Lemari sudah kosong, hanya menyisakan satu eksemplar koran. Dengan hati-hati ia mengambil koran tersebut. Dilihatnya tanggal koran: 25 September 1999. Ia sempat membaca headline yang bertajuk Semanggi Berdarah Lagi.

“Aku belum lahir saat koran ini terbit,” gumamnya. Ia penasaran, ingin tahu berita apa saja yang sedang hangat pada waktu itu. Sambil menahan napas agar hidungnya tidak mengirup debu, ia membuka lipatan koran.

Astoge pete!” pekik Stevi kaget. Tubuhnya terjengkang. Wajahnya pias. Kedua bola matanya seperti mau keluar. Tubuhnya mematung. Ia takut luar biasa. Bukan kecoa yang membuatnya kaget, namun sebuah sosok tiba-tiba keluar dari dalam koran.

Sosok itu adalah seorang gadis berkemeja warna kuning yang tampak kotor. Celana hitamnya sobek-sobek tepat pada bagian kedua lutut. Wajah manisnya ternoda oleh bercak-bercak darah. Pelipis kananya robek. Keadaanya sangat mengenaskan.

“Siapa kamu?” tanya Stevi sambil mengatur napas, masih terkejut. Ia beringsut, menjauhi gadis yang ia perkirakan usianya lebih tua beberapa tahun darinya..

“Terima kasih sudah mengeluarkan aku.” Gadis yang baru keluar dari dalam koran tersenyum senang. Ia membetulkan kemeja dan celana yang posisinya sedikit berantakan. “Namaku Risma!”

“Kenapa bisa berada di dalam lemari?”

Risma kembali mengulas senyum. “Aku terperangkap dalam koran. Nanti aku ceritakan. Boleh aku meminta tisu?” Ia mengusap darah yang membasahi alis kanannya.

Stevi menatap Risma ragu.

“Jangan takut, aku bukan orang jahat.” Risma berusaha meyakinkan. Ia duduk bersila, mengabaikan wajah Stevi yang masih pucat.

Stevi terus beringsut, menjauhi Risma. Ia masih belum bisa memercayai apa yang dilihatnya. “Kamu bukan penunggu lemari itu kan?”

Risma tersenyum simpul. “Aku manusia sepertimu. Jangan takut. Aku akan pergi dari sini. Aku rindu rumah. Keluargaku pasti panik mencariku.”

“Rumah kamu di mana?”

Alih-alih menjawab, Risma meraih koran yang teronggok di sebelahnya, lantas melipatnya. “Koran ini harus tetap terlipat. Kalau tidak, mereka akan ikut keluar.”

“Mereka siapa? Jangan menakut-nakutiku!”

“Politisi busuk dan beberapa residivis yang masuk dalam DPO!”

“Kamu aneh!”

“Ada seorang politisi yang terperangkap dalam koran ini karena kesalahannya sendiri. Ia membayar wartawan untuk memberitakan hal-hal baik tentangnya supaya orang-orang terkesan. Ia melakukan itu untuk menutupi kebobrokannya pada masa orde baru. Ia sedang membangun opini, menutupi semua kesalahannya pada masa lalu.”

Stevi tak mengerti maksud Risma. Lagi pula, ia tak peduli. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar, kemudian melupakan kejadian yang menurutnya tidak masuk akal ini. Ia tak akan menceritakannya kepada siapa pun. Tak akan ada yang memercayainya.

“Ada juga beberapa penjahat yang sudah keluar masuk penjara. Mereka sedang dicari pihak yang berwajib karena telah melakukan tindak kriminal. Untungnya mereka berada di halaman yang berbeda denganku.”

“Ini tidak masuk akal!”

Risma menatap Stevi sambil mengencangkan hijabnya. “Aku tak memintamu untuk percaya. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.”

“Kalau begitu pergilah!” Stevi mengusir Risma. Wajahnya masih diliputi ketakutan.

“Baiklah.” Risma bangkit. Tubuhnya serasa remuk. Ia berjalan tertatih menuju pintu kamar.

***

“Mas akan memilih partai apa?” tanya Risma sambil menggelayut manja pada bahu Zain.

Zain tersenyum masam. Ia malas menjawab pertanyaan Risma. Politik adalah topik yang sangat tidak menarik baginya. Sialnya, topik itu selalu dilontarkan kekasihnya. Alih-alih mendapatkan suasana romantis, ia terjebak pada kebosanan.

Sejak menjadi mahasiswa, Risma lebih sering membahas tentang isu reformasi. Zain kesal mendengarnya, namun ia berusaha menjaga perasaan kekasihnya, mendengar ocehannya sampai telinganya terasa panas.

Padahal, Zain mengajak jalan-jalan Risma untuk mengobati kerinduan. Selama ini ia selalu bersabar meskipun waktu Risma lebih banyak untuk demo bersama teman-teman sekampusnya ketimbang berdua-duaan dengannya.

Risma salah satu pengurus BEM di kampusnya. Kegiatannya pada badan eksekutif mahasiswa itu secara perlahan membuatnya tampak berubah di mata Zain. Zain seperti menemukan sosok yang berbeda pada gadis yang sudah dipacarinya sejak tiga tahun lalu itu.

“Aku tak akan memaksakan pilihanku. Mas boleh memilih apa saja yang penting jangan partai pendukung status quo.”

“Aku memilih kamu saja!” ujar Zain asal-asalan. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia benci mendengar istilah status quo.

Aih, so sweet!” Risma mengangkat kepala, lantas menatap Zain dengan sorot berbunga-bunga.

“Aku hanya akan memilihmu, Lis!”

“Lis?” Dahi Risma berkerut.

Zain terkesiap. Ia sadar baru saja menyebut nama gadis lain. Serta-merta ia mengutuk diri sendiri, kenapa bisa sampai keceplosan.

“Lis siapa? Apa yang Mas maksud itu Lisa? Gadis sipit yang sering caper itu? Jawab Mas!” Risma mengguncang-guncang bahu Zain.

“Jangan berprasangka yang bukan-bukan!” Zain terpaksa menghardik Risma untuk menutupi kegugupannya.

Risma menatap Zain kecewa. Ia kaget melihat sikap kasar Zain. Hatinya terguncang. Sebelumnya ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini.

“Maafkan aku, Ris!” Zain menyesal. “Aku tak bermaksud begitu. Aku sedang kesal karena kamu selalu membahas soal politik. Kamu banyak berubah. Aku seperti tak mengenalmu. Aku rindu dengan keluguanmu, sifat manjamu, dan perhatian-perhatian kecilmu yang selalu membuatku merasa berarti.”

“Kenapa Mas baru mengatakannya sekarang?” Risma mendengus kecewa.

Zain bungkam, menundukkan kepala. Ia menyadari kekeliruannya. Seharusnya ia memang berterus terang kepada Risma sejak pertama kali merasakan perubahan gadis itu.

Mata Risma berkaca-kaca. “Kenapa Mas lebih memilih mencari kenyamanan di tempat lain?”

Zain mendongak, terkejut dengan pertanyaan Risma.

“Aku selalu memercayaimu, Mas. Aku selalu menutup telinga setiap kali ada yang memberitahuku Mas sering jalan dengan Lisa. Aku selalu menutup mata saat tak sengaja memergokimu sedang berduaan dengannya. Hatiku selalu berprasangka baik, bahwa Mas hanya menganggapnya teman kerja, tidak lebih dari itu. Tetapi mendengar Mas menyebut namanya membuat hatiku sakit.” Air mata Risma mengalir.

“Maafkan aku, Ris!” Zain meraih telapak tangan Risma.

“Aku kecewa denganmu, Mas!” Risma mengibaskan tangan Zain, lantas pergi menanggung sakit hati dan cemburu.

***

 

“Jangan melamun, Risma! Pegang erat tanganku!” Seorang mahasiswa berjas kuning menegur Risma yang sejak tadi memasang wajah muram. Ia salah satu koordinator lapangan pada aksi yang sedang berlangsung. “Jangan jauh-jauh dariku!”

Lautan mahasiswa menyemut di bawah jembatan Semanggi. Mereka menyuarakan penolakan terhadap rencana diberlakukannya sebuah undang-undang yang dianggap akan memberi peran besar kepada miiter melakukan tindakan yang bisa menghambat proses reformasi.

Risma terus bergerak mengikuti arus barisan pendemo. Tubuhnya terombang-ambing, terseret, terdesak oleh teman-temannya sendiri. Tidak seperti biasanya, kali ini ia tidak begitu antusias untuk menyuarakan tuntutan. Pikirannya sedang kalut. Hatinya sedang sakit. Ia baru saja putus dengan Zain.

Dorr!

Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan. Lautan pendemo kocar-kacir.

“Menunduk! Jangan ada yang keluar dari barisan!” Koordinator lapangan berteriak menggunakan megaphone.

“Ada yang tertembak!”

“Semuanya menunduk!”

“Risma, menunduklah!”

Risma terkesiap. Ia baru menyadari ada yang tidak beres. Samar-samar, tadi ia mendengar sebuah letusan senjata. Ia segera menunduk, menangkupkan sepasang telapak tangan di atas kepala. dalam keadaan panik, barisan lautan pendemo menjadi kocar-kacir. Mereka bergerak tanpa tahu arah, saling tabrak, dan saling injak.

Sebuah kaki tiba-tiba mendarat di punggung Risma. Gadis itu mengaduh, mencoba menyingkirkan kaki tersebut, namun sikapnya malah membuat orang yang menginjaknya terjatuh menimpanya. Ia memekik tertahan, tak kuat menahan tindihan. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menghalau tubuh yang menindihnya. Namun tenaganya lemah. Ia belum sarapan sejak berangkat dari rumah.

Keadaan semakin kacau. Lautan pendemo bubar dengan sendirinya. Sementara Risma terus berjuang melepaskan diri dari situasi sulit. Nahas, para pendemo yang berada di depannya bergerak mundur. Alih-alih keluar dari tekanan, ia semakin terjepit.

Tak kuat menahan beban membuat tubuh Risma terjermbab. Wajahnya mencium aspal. Ia masih terus mencoba melepaskan diri dari tekanan. Saat kepalanya menoleh ke kanan, sebuah kilatan lampu menerpa wajahnya. Seketika, ia menghilang. Tubuh yang berada di atasnya berdebam di aspal.

***

 

Risma melangkah menuju pintu kamar. Semua yang tertangkap matanya serasa bergoyang-goyang. Kepalanya pusing. Matanya berkunang-kunang. Ia memejamkan mata sambil mencengkeram gagang pintu agar tidak limbung.

“Siapa kamu?”

Mendengar suara, Risma membuka mata. Di depan pintu telah berdiri perempuan berusia 39 tahun. Ia adalah mamanya Stevi. Ia merasa tidak asing dengan wajah itu. Namun pikirannya sedang tidak fokus.

“Siapa dia, Stevie?” Mama bertanya sambil mengernyit, mencoba mengingat-ingat sesuatu.

Stevie tidak tahu harus menjawab apa. Ia takut dimarahi Mama.

“Ada apa, Mam?” Tiba-tiba Papa muncul. Ia berdiri di sebelah Mama, menatap Risma dengan pandangan tidak mengerti. Wajah itu tidak asing baginya, sebuah wajah yang dulu sering bermain-main dalam benaknya, sesosok gadis yang dinyatakan hilang selama 18 tahun. Wajahnya masih sama seperti ketika terakhir kali bertemu dengannya. “Risma?”

“Mas Zain?”

 

Akhmad Al Hasni

Kendal, 13 Desember 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *