Dunia Razmus dan Vitenze

Ponsel di atas meja bergetar. Sebuah panggilan video membuyarkan lamunan Razmus. Ia terkesiap, menengok layar ponsel pintarnya. Vitenze!

Bagi cowok normal, mendapatkan panggilan video dari cewek secantik Vitenze pasti sesuatu yang menggembirakan, tapi itu tak berlaku bagi Razmus. Meskipun masih tergolong cowok normal, namun ia tetap saja merasa gelisah. Keringat dingin mendadak membanjiri tengkuknya. Dahinya mengembun. Hidungnya kembang-kempis. Napasnya terengah-engah. Jantungnya berdetak kencang, tak kalah kencang dari getaran lututnya.

Pasrah, Razmus memelototi layar ponsel pintarnya. Ia tak tahu, harus merasa senang, takut, atau senang sekaligus takut? Ini gara-gara rasa minder lebih menguasai akalnya, ketimbang menuruti perasaannya. Jauh dalam lubuk hatinya, ia ingin berbicara dengan Vitenze, menyapa gadis itu dengan kelakar-kelakar puitis, ngobrol ngalor-ngidul tanpa topik yang jelas, sambil sesekali membayangkan bisa mengelus tahi lalat di ujung hidung gadis itu yang di foto tampak menggemaskan.

Di dunia maya, Razmus bisa betah semalaman ngobrol dengan Vitenze. Ngobrol yang dimaksud adalah percakapan teks semata. Ia tak pernah berani bicara dengan suara, apalagi video call. Melakukannya sama saja akan membunuh karakter yang telah susah payah ia bangun selama beberapa tahun.

Razmus tak jelek sebenarnya, malah tampak fotogenis. Di foto-foto, ia  kelihatan  lebih  cakep dari aslinya, bahkan tanpa edit sekalipun. Itu anugrah alam yang sangat ia syukuri.

Faktanya, Razmus telah menjadi idola di dunia maya. Akun instagram-nya memiliki pengikut lebih dari 10K, mayoritas cewek-cewek zaman now, sebagian lagi perempuan-perempuan yang foto profil dan postingannya diduga bukan punya sendiri, dan sisanya dari golongan mahmud abas alias mamah muda anak baru satu, yang tampak seperti anak SMA berkat bantuan aplikasi.

Postur tubuh Razmus juga atletis. Kata neneknya, ia kalung usus, kalau diterjemahkan secara bebas maksudnya ia pantas mengenakan baju model apa saja. Maka tak heran jika foto-foto yang ia upload selalu viral. Ia bisa disebut sebagai selebgram kelas keripik singkong, murah meriah dan mudah didapatkan.

Selain fisik oke, Razmus pandai merangkai kata, dari mulai quotes, puisi, sampai cerpen-cerpen humor. Statusnya di facebook dihujani like dan dibanjiri komentar.

Di media sosial, Razmus bisa dengan mudah merayu para cewek beraliran baperisme, membuat mereka kelepek-kelepek oleh kata-kata mautnya. Bahkan cewek-cewek kalangan jutekisme pun bisa cepat akrab dengannya. Golongan ini memang tidak mudah mempan oleh modus gombalan, tetapi bisa terkesan oleh banyolan-banyolan yang bisa membuat mereka tertawa terguling-guling. Ia piawai menciptakan suasana menyenangkan.

Sayang, semua itu hanya bisa terjadi di dunia maya. Di dunia nyata, Razmus sosok pendiam, penganut paham kuperisme, dan mengidap penyakit minder akut. Jangankan berbicara dengan dengan cewek cantik, bertemu dengan nenek-nenek sebelah rumah pun ia grogi. Bagaimana kalau ia berbicara dengan Vitenze?

Razmus menyeka keringat di dahi. Ia bergidik membayangkan seandainya menerima panggilan video dari Vitenze. Tidak hanya mati kutu, ia juga bisa semaput!

Panggilan video dari Vitenze berhenti. Ia mengelus dada yang basah oleh keringat. Sungguh luar biasa efek dari rasa minder. Ia berdoa semoga gadis itu tidak melakukannya lagi.

Di gang lain, masih satu komplek perumahan dengan Razmus, Vitenze sedang kesal pada dirinya sendiri gara-gara salah sentuh. Ia bermaksud melakukan panggilan suara kepada Razmus, tetapi karena buru-buru, ia menyentuh icon video call. Beruntung cowok pujaannya itu belum sempat menerimanya.

Vitenze hanya ingin mendengar suara Razmus. Ia penasaran seperti apakah sosok cowok yang selama ini telah membuat hidupnya terasa berarti.

Keadaan Vitenze tidak lebih baik dari Razmus. Ia hanya berani menerima panggilan suara. Jika mendapatkan video call, ia akan menolaknya. Ia tak berani menunjukan wajah aslinya. Meskipun tidak terbilang jelek, tetapi ia terlanjur mengunggah foto-foto cantik bukan miliknya.

Vitenze seorang asisten rumah tangga pada sebuah keluarga kaya. Rumah itu selalu kosong. Tuan dan Nyonya sering keluar kota. Gadis semata wayang sang majikan juga jarang pulang. Ia punya banyak waktu untuk eksis di dunia maya. Selepas menyelesaikan tugas rutin seperti menyapu, mengepel, mencuci baju, menjemur dan memasak, ia bisa santai melakukan hobinya yaitu memencet jerawat sambil chatting dengan beberapa gebetan.

Vitenze memiliki beberapa gebetan, di antaranya yang paling membuatnya selalu berbunga-bunga adalah Razmus. Cowok itu selalu memujinya, melontarkan kata-kata yang sanggup menutupi akalnya, meskipun itu hanya sebuah percakapan teks. Ia sampai berkhayal, seolah-olah sedang menjadi nyonya di rumah majikannya.

Nama asli Vitenze adalah Rukmini. Ia menggunakan nama samaran karena tidak pede, juga karena nama yang diberikan kedua orang tuanya itu sekilas terdengar seperti jenis baju yang mempertontonkan paha perempuan.

Dengan nama samaran itu, Rukmini alias Vitenze mulai bergerilya menjaring cowok-cowok ganteng. Salah satu yang membuatnya betah berlama-lama di dunia maya adalah Razmus.

Rukmini belum tahu jika Razmus sebenarnya kuper dan minder. Ia juga belum tahu kalau cowok idolanya itu tidak menggunakan nama sebenarnya. Razmus adalah singkatan dari kedua orangtuanya: Razikin dan Musdalipah. Sementara cowok itu juga belum tahu kalau foto-fotonya berasal dari sebuah flashdisk yang ia temukan di tempat sampah. Foto-foto itu milik anak majikannya yang tidak pernah eksis di dunia maya.

 

 

Akhmad Al Hasni

Kendal, 15 Desember 2017

Didedikasikan untuk anak perempuanku di dunia maya, Shofiyah.

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *