Di Sebuah Pagi Yang Purba, Gadis Kecil Menangis Meminta Kelahirannya Ditunda

Untuk: Darah Mimpi

Untuk apa kau mengekalkan sesuatu yang sudah mati,
Atau bahkan yang belum sempat dilahirkan.
Di sebuah pagi yang purba,
dua malaikat berdebat menenangkan tangis gadis di tepi telaga.
Puluhan harapan, doa-doa,
Mantra,
Hingga kidung dinyanyikan.

pixabay.com

Lentera senja meredup-lambatkan cahayanya,
Seorang Ibu bersenandung, menunda sebuah kelahiran,
Hingga senja tiba, burung-burung lekas mengerubung,
Kunang-kunang bersiap menyalakan cahaya,
Dan langit mulai menghitam.
Bintang-bintang mulai terbit,
Bulan lekas berangkat kerja.
Namun di sore kelahiran itu,
Senja memutuskan melambat,
Menunggu sebuah kelahiran.

Meja redaktur sibuk,
Kepalanya dipenuhi laporan-laporan,
Berita-berita bertebaran,
Puisi berserakan di mana-mana.

Kau tentu akan mengingat hari itu,
Hari seorang gadis lahir,
Di sebuah kota yang telah mati,
dihantam seribu puisi.

Sapta Arif
Surakarta, Desember 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *