Berlian Dalam Lumpur

 

“Bagaimana dengan kerjasama bisnis berlian itu Pak?” tanya seorang klien penuh harap.

“Nanti Saya pikirkan lagi,” singkatnya.

“Saya butuh kepastian, karena perusahaan sangat bergantung pada Anda.”

“Saya yang lebih tahu dari Anda, karena saya pemilik perusahaan ini,” tegasnya.

“Baiklah Pak.”

Ngakunya pemilik perusahaan, kok ngomongnya begitu ya? Nah ini namanya pemimpin yang tegas. Jangan kamu cepat ambil kesimpulan dengan negative thinking dulu. Sekilas tampak begitu egois. Mementingkan diri sendiri. Namun sikap ketegasan sangat dibutuhkan demi kemajuan perusahaan. Lantas apa jadinya tanpa ada sikap tegas bagi pemilik perusahaan? Pastinya akan terombang ambing alias plin plan tak jelas. Ke mana arah angin, ke situlah tujuannya. Emang kamu mau seperti itu? Idihh nggak banget dah.

Perusahaan berlian menjadi sorotan dalam mengembangkan usaha. Tak heran semua orang menginginkan berlian berkualitas tinggi dengan harga jual menjanjikan. Seperti perusahaan berlian satu ini yang dijalankan oleh pengusaha sukses lulusan sarjana teknik Kimia di Universitas Oxford yang kerap dipanggil perfect boss, bernama Ghilman Nugroho (25 tahun), si cowok jangkung berpostur tubuh ideal, berwajah indo berkulit putih. Rambut hitam lurus dengan mata berwarna hitam. Dikatakan perfect karena baginya tak boleh ada sedikit pun kesalahan yang terjadi. Wah teliti banget dong! So pasti. Karena ketelitian sangat dibutuhkan untuk meminimalisir setiap kesalahan agar tak berdampak buruk bagi perusahaan. Perusahaannya telah mendulang keuntungan menggiurkan. Bagaimana tidak caranya menjalankan bisnis dengan ide brilliant, membuat kliennya bertekuk lutut ingin melakukan kerjasama padanya. Maklum saja lulusan sarjana luar negeri dong. Ya gak! Kamu kalau tamatan sarjana, pastinya dihargai oleh orang lain. Beda halnya tamatan sekolah sembilan tahun atau dua belas tahun masih belum ada apa-apanya. Ya bisa dibilang masih kudet soal ilmu dan wawasan. Bagaimana lagi kenyataan hidup telah terjadi seperti itu. Bahkan tamatan sarjana saja selalu teristimewa di mata masyarakat. Enak banget ya, sudah tamatan sarjana, lulusan kuliah di luar negeri, habis itu bisnisnya berkembang pesat, siapa sih yang tak mau hidup seperti itu?

Ghilman sosok pengusaha berwibawa dan tegas pada kliennya. Juga tak cepat merasa puas setelah sukses. Baginya sukses tak sebatas terhadap pencapaian, melainkan proses yang dijalani. Bayangkan saja usaha bisnis berlian ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu berdarah-darah yang dilaluinya dengan jalan berlika liku sarat beronak duri. Modal besar sangatlah dibutuhkan agar usahanya berkembang pesat. Maka ia selalu berusaha menabung dan memenangkan olimpiade Kimia dengan hadiah rupiah begitu besar selama kuliah. Cukup nantinya membangun usaha yang dirintis dari nol. Wow, cool banget! Ah gak jugalah, biasa saja kok. Karena namanya manusia jika sudah berada di atas, pasti berlaku sombong. Bagai kacang lupa pada kulitnya. Begitulah Ghilman. Kesuksesan membuatnya melayang di awan. Tanpa peduli pada orang lain. Menganggap tak butuh bantuan orang lain. Padahal sejatinya manusia butuh bantuan orang lain, kan?

Sungguh ironis rasanya sifat manusia. Pencapaian kesuksesan menjadikannya buta bahwa ada orang lain yang menolongnya. Justru tak dianggap sama sekali. Ghilman sangat menginginkan hal lebih lagi. Agar perusahaannya berkembang pesat sampai ke mancanegara. Maka tak ada kata putus asa dalam kamus hidupnya. Tetap berusaha walau tak pernah melaksanakan urusan akhirat. Karena dunia sedang berada dalam hatinya. Lantas siapakah yang akan menyadarkannya di tengah kecanduan dunia, dengan menempatkan dunia berada dalam genggaman tangan?

Tak ada yang salah dengan Ghilman. Sangat lumrah tentunya manusia berusaha untuk bekerja. Namun tak harus melupakan urusan akhirat juga, kan! Jika dunia saja dikejar tanpa melibatkan Allah dalam segala urusan, apa jadinya hidup ini! Hanyalah sia-sia belaka. Karena belum tentu Allah ridha pada kita. Tak hanya Ghilman mengalami demikian. Telah banyak manusia di dunia ini yang lupa pada jati dirinya. Melupakan Allah yang telah berikan nikmat-Nya pada kita. Hingga tanpa sadar dunia tak lagi berada dalam genggaman, justru di dalam hati. Waduh gawat dong! Mirisnya lagi saat manusia gagal mencapai apa yang diinginkan, hidup menjadi stres berakhir tak waras. Tak salah banyak orang tak waras di jalanan yang ketawa ketiwi sendiri. Akibat selalu memikirkan dunia tanpa melibatkan urusan kita pada Allah.

Ghilman tetap berusaha mengembangkan usahanya. Dengan melakukan pembaruan. Mencari berlian-berlian langka yang tak pernah ditemukan orang lain. Karena itu menjadi senjata pamungkas agar terkenal di mata dunia. Hingga pencarian membawanya pada daerah tengah hutan dipenuhi lumpur hidup yang siap menelan korban. Mengerikan sekali ya. Mana ada yang mau ke sana. Namun Ghilman tak ambil resiko. Dengan mencari berlian langka yang telah ditunjuki oleh temannya.

Sesampainya di hutan, tampak cahaya hijau menyilaukan menuju ke langit. Rasa penasaran membuatnya untuk pergi ke sana. Lalu tanpa sadar setelah sampai ke tempat tujuan, kakinya terinjak lumpur hidup. Berusaha mengeluarkan diri, tetapi segala usaha tak berhasil dilakukan. Hingga membuatnya tenggelam. Selamatkah dirinya setelah tenggelam dalam lumpur hidup?

Ternyata oh ternyata keajaiban terjadi. Tubuhnya naik ke permukaan lumpur dengan sendirinya atas bantuan cahaya hijau berasal dari dalam lumpur. Tubuh Ghilman dipinggirkan ke tepi lumpur. Ghilman akhirnya tersadar. Sentak terkejut setelah tahu dirinya tak berada di lumpur lagi. Lalu didapatinya sebuah berlian seukuran kepalan tangan berwarna hijau keemasan dalam saku bajunya. Bahagia alang kepalang tentunya. Tanpa pikir panjang dibawanya berlian itu menuju ke kota. Agar dipamerkan nantinya ke berbagai klien pentingnya.

Malam pun tiba. Ghilman terus memandangi penemuannya sore itu. Karena selalu memancarkan keindahan warna hijau keemasan yang bikin takjub mata. Lalu kejadian di luar nalar terjadi. Berlian yang selalu memancarkan cahayanya mendadak berubah menjadi sosok wanita cantik berpakaian seperti di negeri dongeng. Ghilman terkejut setengah mati dan ketakutan.

“Kamu siapa?” Tanya Ghilman.

“Namaku Berlian. Ini di mana ya?” Tanyanya.

“Ini rumahku lah,” singkatnya.

“Kenapa aku bisa ada di sini? Harusnya aku berada di tempat tinggalku.”

Ghilman diam membisu. Ia seolah tak ingin memberi tahu kebenaran bahwa dirinya yang telah membawanya ke rumah. Karena kalau tahu bahwa Berlian tinggal di hutan berlumpur, pastinya akan kembali ke sana. Otomatis Ghilman gagal untuk jalankan bisnisnya memamerkan berlian kepada kliennya.

“Aku menemukanmu di belakang rumah dekat gudang,” jawabnya bohong.

“Oh ya, Aku ingin berendam. Ada kolam gak di rumahmu?” tanya Berlian.

“Ada kok. Sini aku tunjukkan.”

Ghilman menunjukkan kolam renang rumahnya. Saat Berlian menceburkan diri ke kolam, tubuhnya yang manusia tak bisa berubah wujud menjadi berlian kembali.

“Ini air apa? Aku ingin kembali ke wujudku semula,” ucap Berlian nada marah.

“Air kolam jernih. Emang kenapa?” tanyanya heran.

“Aku sepertinya tak terbiasa dengan air ini. Lebih baik aku harus pergi dari sini.”

Ghilman mencoba untuk mencegat Berlian pergi. Dengan berusaha membujuk Berlian tinggal bersamanya. Akhirnya dengan tipu daya Ghilman, Berlian masih mau menetap di rumah.

Keesokan harinya. Ghilman akan berangkat ke kantor. Saking terkejutnya di meja makan telah tersedia makanan dan minuman yang serba lezat. Ternyata Berlian yang memasak makanan. Namun bukan dengan cara yang dilakukan manusia umumnya, melainkan dengan kekuatan ajaibnya. Membuat segalanya makin mudah. Ghilman merasa bahagia ada yang memperhatikannya selama ini. Padahal ia hanya hidup seorang diri tanpa bantuan orang lain. Justru dengan adanya Berlian membuatnya mudah lakukan apa pun. Termasuk meminta apa yang diinginkannya.

Perusahaan Ghilman berkembang pesat setahun ini atas bantuan Berlian. Membuatnya semakin lupa diri. Hingga tanpa sadar mengundang kebencian Berlian tentunya. Berlian yang tak tahu apa-apa, justru membuat dirinya semakin terkulai lemah lantaran sumber kekuatannya hampir lenyap. Baginya tak terbiasa hidup di dunia manusia. Hingga sebuah kebenaran terungkap melalui pembicaraan Ghilman dengan rekan kerjanya.

“Selamat pak Ghilman atas kesuksesan anda adanya penemuan berlian langka itu,” ucap rekan kerja sambil menjabat tangan.

“Iya sama-sama Pak. Saya senang anda bisa kerjasama dengan saya.”

“Kalau boleh tahu dari mana Anda menemukan berlian itu?” Tanya rekan kerjanya penasaran.

“Di tengah hutan yang dipenuhi lumpur hidup,” ungkapnya.

Berlian terkejut setelah tahu bahwa ternyata dirinya hidup dalam lumpur yang berada di tengah hutan. Ia langsung pergi meninggalkan Ghilman dan menuju di dunia lumpur. Tempat asalnya selama ini.

Semenjak kepergian Berlian, hidup Ghilman kosong. Tak ada lagi yang melayaninya seperti biasanya. Kini ia jatuh sakit. Perusahaannya mulai gulung tikar akibat rekan kerjanya yang telah banyak menyelundupkan aset perusahaan. Hanya penyesalan yang diterima. Karena telah terbuai akan keindahan dunia yang sementara. Ghilman menjadi orang tak waras. Berita tentang keadaan Ghilman yang memilukan, terdengar oleh Nina sahabat kecilnya dulu. Simpatinya begitu besar pada Ghilman yang dulu pernah ditolongnya dalam segi finansial. Syukurlah Nina rela merawat Ghilman walau tak pernah dianggap sebagai sahabat terbaik. Justru dibalasnya dengan selalu berikan motivasi agama untuk Ghilman agar selalu ingat pada Allah dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ghilman mulai berangsur normal. Lalu menyadari kesalahannya selama ini telah melupakan Allah saat dirinya sukses. Hingga benih cinta mulai bersemi di hati Ghilman. Membuatnya ingin menikahi Nina yang selama setahun ini ada untuknya. Akhirnya mereka pun menikah dan berumah tangga bahagia.

Berlian begitu bahagia telah berkumpul bersama teman-temannya di dunia lumpur. Bagaimana tidak setelah setahun lamanya tak pernah merasakan mandi dalam lumpur. Kini rasa rindunya terobati. Kekuatannya kembali seperti sedia kala. Memancarkan keindahan warna hijau keemasan ke langit. Sayangnya ada sesuatu yang salah terjadi pada Berlian. Menyebabkan dirinya mual belakangan ini. Setelah diperiksa oleh ibu dan ayahnya. Ternyata Berlian sedang hamil anak manusia. What? This is impossible. Kedua orangtuanya marah besar. Lalu mencampakkan Berlian dengan mengambil seluruh kekuatan yang dimiliki Berlian. Hingga Berlian terpental jauh ke hutan dan tak bisa berubah wujud menjadi manusia. Kini Berlian hijau keemasan itu menjadi bongkahan dengan membentuk struktur paling kompleks. Menjadi harga jual paling tinggi di pangsa pasar internasional.

 

THE END

 

Mata Elang

15 Desember 2017

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *