Anak-anak Istimewa

Dalam hidup, manusia tidak akan benar-benar bisa merasakan kesulitan orang lain, jika ia belum pernah merasakannya sendiri. Ya, itu benar. Mungkin banyak orang di dunia ini yang bersimpati, merasa iba, kasihan juga seolah merasakan sakit yang sama saat melihat orang-orang terkasih mengalami cobaan dan derita. Tapi tidak akan benar-benar bisa ikut merasakannya, semua kata-kata itu hanyalah sebuah bentuk simpati, maupun empati yang terlahir dari hati manusia yang memang diciptakan untuk memiliki rasa belas kasih. Ya, orang-orang yang bersimpati maupun berempati itu tidak akan benar-benar ikut merasakan penderitaan yang sama seperti orang yang benar-benar mengalaminya. Seperti roda yang berputar, orang akan benar-benar bisa memahami dan merasakan sebuah penderitaan saat ia mengalaminya sendiri.

 

Dan itu berlaku juga padaku. Ternyata aku baru menyadari bahwa apa yang kuucapkan sebagai bentuk empati pada Dini dan Ghani, benar-benar terdengar seperti ucapan enteng dari mulut seseorang yang tidak memahami dengan baik apa yang kedua anak itu alami. Dini dan Ghani, adalah dua dari sepuluh anak yang dirawat Bibi di rumah singgah miliknya. Dua anak itu memiliki nasib yang jauh dari kata beruntung. Ghani, bocah kecil itu harus mengalami cacat  rungu dan lengan kanan diamputasi karena disiksa habis-habisan oleh ayah tirinya, saat usianya baru menginjak tiga tahun. Bibi membawanya ke rumah singgah saat ayah tiri Ghani dibawa warga setempat ke kantor polisi. Sementara ibu kandung Ghani melarikan diri entah ke mana. Sementara Dini kedua kakinya mengalami kelainan fungsi sehingga tidak bisa digunakan untuk berjalan. Bibi menemukannya tergeletak di pos kamling dan akhirnya dibawa ke rumah singgah. Saat itu usia Dini diperkirakan baru satu bulan dan dia anak asuh pertama Bibi.

 

Aku ingat, hari dimana aku mendapati kedua anak itu bersedih dan putus asa. Yaitu saat mereka masuk ke sekolah umum, namun ditolak mentah-mentah oleh pihak sekolah. Alasannya, karena mereka itu penyandang disabilitas. Mereka dianjurkan untuk masuk ke SLB, namun Bibi tak punya uang sebanyak itu untuk memasukkan mereka ke sekolah khusus itu.

 

“Mbak, apakah anak-anak seperti aku dan Dini tidak boleh bersekolah seperti Ari, Neti, dan yang lainnya?” tanya Ghani waktu itu. Saat itu usianya delapan tahun, dan dia baru mau masuk SD. Senja itu kami tengah duduk bertiga di belakang rumah, menikmati sunset. Aku dan Ghani duduk bersebelahan di bangku panjang, di bawah pohon nangka sedangkan Dini duduk di kursi rodanya.

 

“Tentu saja itu tidak benar. Semua orang berhak untuk sekolah,” jawabku sambil memperbaiki posisi alat bantu pendengaran yang dipakai Ghani.

 

“Tapi kenapa Ibu guru tadi tidak suka kalau Dini dan Ghani belajar di sana? Apa karena Dini menulis pakai kaki?” kali ini Dini yang bertanya.

 

Aku tersenyum miris menatap wajah sendu Dini. Seharusnya anak itu tengah merencanakan dan berangan-angan tentang hari pertamanya di sekolah, bukannya duduk membicarakan hal-hal yang menguras pikiran seperti ini. Ghani memang sudah bisa mencoret-coret kertas menggunakan tangan kirinya dan bagiku itu bukanlah sebuah hal memalukan.

 

“Tenanglah, sayang. Setiap orang punya kelebihannya masing-masing, dan juga tidak ada yang berhak mengambil hak belajar yang kalian punya. Kalau pun kalian tidak bisa bersekolah di sekolah umum, maka Mbak sendiri yang akan jadi guru kalian.”

 

Saat itu aku baru menempuh semester empat jurusan pendidikan guru SD di sebuah universitas di Yogyakarta. Dan aku memutuskan untuk menjadi guru mereka berdua, mengajarkan pada mereka pelajaran-pelajaran yang didapatkan anak-anak sebaya mereka di sekolah umum. Setiap libur kuliah, aku selalu menyempatkan waktu untuk mengajari mereka. Tiap malam aku menyusun soal-soal latihan agar mereka bisa ikut merasakan sensasi belajar di sekolah umum.

 

“Lalu kenapa kalau Ghani tidak punya tangan? Dan kenapa kalau Dini tidak punya kaki? Mbak akan siap kapan pun dan dalam keadaan apapun untuk selalu menjadi kaki dan tangan kalian.

 

Kata-kata itu yang selalu aku ucapkan pada mereka sebagai penyemangat. Tiap detik kubisikkan berbagai macam asa dan harapan-harapan agar mereka tidak perlu mengutuk nasib yang menjadikan mereka seperti ini. Kugenggam tangan mereka agar selalu tegar menghadapi dunia yang terlalu kejam untuk anak-anak seusia mereka. Dan mereka mempercayaiku, menaruh benih-benih harapan itu padaku agar suatu saat kutumbuhkan menjadi kembang yang mekar dan cantik.

Roda itu berputar, teman. Yang tadinya duduk di tingkat teratas, dengan segala gemerlap dan kenikmatan dunia, bisa jadi akan ada saatnya jatuh ke titik terendah, menjilati pahitnya kehidupan fana. Yang tadinya cantik mempesona dan selalu dipuja-puja, bisa jadi akan mengalami masa dimana ia jadi itik buruk rupa yang kehadirannya tidak diinginkan siapa pun di dunia. Dulu, bahkan sampai hari kemarin, setiap kali memandang binar-binar semangat di mata Dini dan Ghani, hatiku merasa teriris. Aku selalu mengatakan pada mereka bahwa aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Tapi saat ini aku baru sadar bahwa ucapan itu hanyalah ucapan yang keluar dengan entengnya dari mulutku, tanpa benar-benar memahami maknanya. Dulu aku selalu berpikir bahwa aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku jika aku mengalami apa yang Dini dan Ghani alami.

 

Dan sekali lagi kukatakan, teman. Roda itu benar-benar berputar. Aku baru menyadarinya saat takdir membuatku benar-benar tidak hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi mereka, tapi takdir benar-benar membuatku mengalami apa yang mereka alami. Kesedihan itu, keputusasaan itu, kepiluan itu, dan tangisan tangisan pedih itu … aku mengalaminya.  Aku harus hidup dengan keterbatasan setelah sepuluh tahun yang lalu aku divonis mengidap osteosarkoma stadium lanjut. Dan aku harus merelakan kedua kakiku untuk diamputasi, agar hidupku tetap bertahan lama.

 

“Mbak Ge kenapa di sini? Ayo masuk, aku bawa banyak makanan traktiran bos tadi.” suara bariton seseorang menyentakkanku dari lamunan, kembali pada suasana di belakang rumah singgah yang mulai temaram.

 

“Mbak Ge kok hobinya melamun sih sore-sore begini. Hati-hati loh Mbak, nanti diculik Mbah penunggu pohon nangka ini.” tangannya menunjuk dahan pohon nangka di atas kepalaku, sambil bergidik ngeri yang tampak sekali dibuat-buat.

 

“Halah, kamu kan hidup di zaman modern. Kenapa masih percaya hal begitu, sih?” cibirku.

 

“Yeey dibilangin juga! Nanti dinikahi si Mbah baru tahu rasa. Ayo ah, masuk.” dia lalu tanpa aba-aba mendorong kursi rodaku dengan tangan kiri, membawaku masuk.

 

“Mbak Ge, ayo sini. Lihat apa yang Ghani bawa.” Dini melambai-lambaikan tangannya, menyuruhku mendekat.

 

Bibi menyambut kami yang baru masuk, menunjuk makanan yang mulai disantap anak-anak. Aku tersenyum dan mengangguk. Ghani membawa kursi rodaku di dekatnya, lalu anak itu dengan cekatan mengambilkan sepiring penuh makanan dan memberikannya padaku.

 

“Untuk Mbak sekaligus guru kami yang paling baik,” ucap Ghani disertai senyum lebar.

 

Aku menerimanya dengan senyum lebar juga. Kuperhatikan Ghani dan Dini yang sudah remaja. Mereka tumbuh dengan cepat, padahal rasanya baru kemarin aku mengenalkan huruf dan angka kepada mereka. Sekarang anak-anak istimewa itu sudah lulus SMA, dengan peringkat yang tak kalah dengan anak-anak normal yang lain. Bahkan Dini menjalani masa SMP dan SMA dengan lebih cepat, karena dia selalu berhasil masuk ke kelas akselerasi.

 

Sedangkan Ghani baru tiga bulan yang lalu membanggakanku dengan piala juara pertama UN se-kecamatan. Dia memang tidak mengambil kelas akselerasi, meskipun aku yakin kemampuan otaknya sudah tak diragukan lagi. Tapi anak itu setiap hari sepulang sekolah memang harus bekerja untuk membantu Bibi membiayai sekolah mereka. Dan untungnya bos di tempat dia bekerja, dengan baik hatinya mau membiayai SMA Ghani di sebuah sekolah favorit di kota ini. Ghani semakin semangat dalam belajar, meskipun aku yakin tak sedikit dari teman-temannya di sekolah yang meremehkan dia. Tapi sekali lagi kukatakan, anak itu istimewa.

 

  • • •

 

“Mbak, aku punya kabar baik.” Ghani membuka pembicaraan saat kami semua sudah selesai makan. Saat ini kami berdua sedang duduk di halaman belakang rumah.

 

“Kabar baik?” tanyaku. Ghani mengangguk sambil tersenyum sumringah. “Kabar apa?”

 

“Aku mendapatkan beasiswa kuliah di Singapura.”

 

Mataku terbelalak kaget. Pelupuk mataku memanas, rasanya ingin menangis. Ini bukan tangis duka, tapi tangis bahagia dari seorang kakak yang sangat bersyukur mempunyai adik hebat sepertinya. Ghani yang dulu ditolak di sekolah umum karena berbeda, Ghani yang sering diolok-olok teman-teman sebayanya, Ghani yang dulu pernah putus asa karena disabilitas, sekarang dapat membanggakan orang-orang yang dia sayangi. Lihat kan teman? Roda itu berputar.

 

  • • •

 

Oleh: Septi Nofia Sari

Magelang, Desember 2017

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *