“Busa Dalam Kopi”

pixabay.com

Ketika kuperkenalkan pertama kali secangkir cappucino berfoam tebal pada Nenek, ia menatap cangkir itu dengan pandangan antusias. Di dapur sore itu, kuajarkan Nenek membuat secangkir cappucino favoritku. Sebagai ganti oleh-oleh kepulanganku dari Indonesia bagian timur, kubawakan resep cappucino yang sebenarnya bisa dibeli di sudut-sudut kota ini. Awalnya aku ingin membawakan Nenek dan Kakek banyak hal. Kue bolu, baju, sandal, dan lainnya. Tapi karena ada banyak hal yang terjadi, aku tidak bisa membawakan apapun dari perjalanan itu.
Tapi melihat wajah antusias Nenek sore itu, aku jadi merasa lain. Mungkin cappucino adalah hadiah yang tidak terlalu buruk, meski cappucino adalah hal yang biasa. Secangkir kopi cantik berwarna cream itu telah memikat hatinya. Telunjuk rentanya mencolek ujung atas busa susu yang menutupi permukaan kopi, lalu mengecapnya dan ia menatapku dengan gumpalan cerita.
“Ini menabjubkan sekali Dan,” ia berkata dalam bahasa jawa.
Aku tersenyum tanggung. Ya, memang menabjubkan. Itu minuman favoritku, dimataku secangkir cappucino menyimpan banyak filosofi. Kupahami sebagai arti dari hebatnya sebuah imajinasi, meminumnya melahirkan banyak harapan. Cappucino adalah latar kisahku sejak kecil. Menenaniku tumbuh dewasa, melatari banyak cerita, mengaduk banyak waktu, gulanya manis. Lalu kuminum di hari hujan.
Busa susu di atasnya seperti kanvas. Putih, manis, dan nikmat. Menggenang dan menarik perhatian. Di atasnya biasa kulukisi gambar hati, sederhana, namun itulah hati yang sesungguhnya. Putih.
Tapi dimata Nenek mungkin kopi berbusa itu memiliki arti lain. Sebuah hal baru yang dikenalnya lewat mataku, apalagi pada busa susu di atas cappucino itu ia seperti menemukan dunia baru. Agak aneh sebenarnya, karena aku tahu, Nenek tidak pernah meminum kopi jenis apapun.
“Kadang kita tak perlu alasan ketika menyukai sesuatu. Beberapa hal, menarik hati hanya karena ia berbeda. Kopi ini, membuatku merasa muda. Yah… berkenalan dengan hal baru. Kau tahu kan, orang tua seperti kami tidak lagi punya kesempatan melihat dunia lebih luas. Aku baru tahu, bisa ada busa dalam secangkir kopi..manis..”
Hari-hari kemudian, Nenek selalu rajin membuat secangkir cappucino bergambar hati di atasnya untuk Kakek. Mengukir hati di atas busa susu, Nenek seperti menemukan media baru menuangkan cintanya. Kakek dan Nenek adalah cerminan kehidupan cinta yang renta. Mereka bersama setengah abad lebih, dan sekarang masih memelihara cinta di hatinya masing-masing.
Cinta hanyalah sebuah alasan mengapa dua insan dipersatukan, sedang yang membuat keduanya tetap bersama hingga tua adalah komitmen.
Aku pernah mendengar itu. Ah, orang-orang zaman dulu memang selalu memahami lebih baik semua hal. Memandang kehidupan sangat sederhana, dan memaknai bahagia adalah hal yang sama sekali berbeda dengan terlihat bahagia. Semoga kehidupanku kelak mewarisi teladan cinta mereka.
Berbeda dengan Nenek yang tampak antusias, Kakek menatap cappucino itu dengan pandangan resah. Aku bisa melihatnya, kakek tampak tidak senang dengan perkenalannya dengan kopi itu. Ia hanya terdiam ketika Nenek meletakkan cangkir kopi itu di depannya.
Jika nenek tak perlu alasan menyukai kopi berbusa, Kakek juga tak perlu alasan untuk tidak menyukai kopi berbusa itu. Semenjak Nenek berkenalan dengan cappucino, setiap pagi kopi berbusa menjadi rutinitas Kakek. Gelas kopi yang biasanya terisi kopi hitam berbumbu gula jawa, terganti dengan cangkir capucino.
“Kakek tak perlu meminumnya jika tak suka,”
Kataku suatu pagi, ketika Nenek tengah di bekakang, dan karena melihat Kakek meminum kopi wajahnya selalu muram.
“Aku tidak terbiasa meminum kopi anak muda seperti ini. Tapi Nenekmu antusias sekali membuatnya setiap hari..”
Benar juga, kopi seperti ini belum tentu cocok untuk lidah tua Kakek. Pun Nenek menyukainya juga karena tampilannya yang cantik, bukan karena rasanya.
Baiklah.
Aku Katakan saja pada Nenek kalau Kakek tidak suka kopi itu?
“Tidak usah. Aku tidak mau merusak kesenangannya..”
Aku mengernyitkan dahi, bukankah mudah saja mengatakannya? Toh ketidaksukaan kakek pada cappucino dan sebesar apapun kekecewaan Nenek nantinya tidak akan merubah apapun dalam rumah cinta mereka berdua. 53 tahun, lebih dari cukup untuk mengunci kebersamaan mereka dari apapun bukan?
Tetapi mungkin hal seperti itu tidak akan pernah bisa dipahami olehku, generasi baru yang terlalu banyak mengesampingkan banyak hal, mengabaikan nasihat lama, dan terlalu ‘bahagia’. Ah bahkan sikap sederhana seperti itu saja kupandang sebelah mata. Aku juga tak mengerti, hal apa yang membentuk otakku bisa berpikir seperti ini.
Namun tetap saja, aku merasa cappucino membuat Kakek tidak bahagia, dan menggantikan kopi hitam berbumbu gula jawanya sepertinya membuat Kakek muram. Berbeda ketika berbicara denganku, ketika dihadapan Nenek meminum kopi itu kakek terlihat biasa. Bahkan memuji-muji betapa enak dan cantiknya kopi buatan Nenek.
Menyenangkan sekali menyimak cerita mereka setiap hari, dan juga kisah dulu yang membawa mereka sampai kemari.
o0o
Pagi ini kopi tersaji dalam gelas biasanya untuk Kakek. Gelas besi bercorak hijau itu atasnya penuh dengan busa susu. Kakek duduk dan menatap gelas itu seperti menatap kepingan hati Nenek yang tergambar di atas busanya.
Ia meminumnya sedikit, dan terdiam.
Kopi hitam berbumbu gula jawa.
Kakek tertawa dan menyeruput lagi kopinya, bagian atas bibirnya terselimuti busa susu.
Kemarin kukatakan pada Nenek tentang Kakek yang tak suka cappucino itu. Ringan saja mengatakannya, dan kukatakan pula Nenek masih bisa menyajikan kopi cantik untuk Kakek dengan busa diatasnya walau tanpa cappucino. Ganti saja isi kopinya dengan kopi hitam kesukaan Kakek, tambahkan busa susu diatasnya, dan jadilah kopi yang lebih memikat.
Seperti biasanya, Nenek selalu antusias dengan ide-ideku. Ah, Nenek memang seperti itu. Dan terlahirlah kopi kombinasi yang mengejutkan dan tak bisa ditebak itu.
Busa dalam kopi ini seperti topeng dalam kehidupan. Yang tampak dari luar hanyalah apa yang orang lain lihat, sedang bagaimana sebenarnya kita hanyalah diri sediri dan orang-orang yang berkenan mencicipi yang tahu rasa apa yang tersembunyi di dalam.
Tetapi menurutku sebuah topeng kadang memang dibutuhkan, sekadar mencari tahu setulus apa orang lain menjajaki kehidupan kita. Sebagian diri kita tidak perlu di ketahui orang bukan?
Bagi kakek busa di atas kopi hitamnya mempunyai arti lebih. Ia merasa kopi hitamnya semakin nikmat, walau warna pekatnya tertutupi oleh busa putih bergambar hati.
Wajah kakek tak lagi suram dan dihiasi senyum yang dibuat-buat. Kopi mengejutkan itu menambah kadar cinta dalam hatinya. Sejuk udara pagi memenuhi beranda dan kursi rotan tempatnya duduk.
Bersandar, Kakek melihat Nenek tersenyum di ambang pintu. Bibirnya juga ditenggeri busa susu.

Karya: Dani Hestina P

Kulon Progo, 25 November 2017

Selamat Hari Guru 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *