Merpati Waktu

 

Dawai angin riuh dipetik rembulan
Menuangkan gelombang lembut, memecah resonansi di mercusuar
Awan tersipu, membasuh malam dengan hujan
Rintiknya sendu, mengetuk telaga jiwa di kelam malam

Merpati tua berkunjung dalam mimpiku, memangku lembaran kusam penuh debu
Lalu menjelma menjadi serpihan kapas, menelanku dalam kumparan masalalu

Embusan angin mengacaukan pandanganku
Aku jatuh dalam ilusi semu
Berdiri di antara gugusan waktu, ribuan cahaya aurora ungu
Apakah aku benar-benar hidup?
Aku bahkan bingung yang mana diriku
Apakah jiwa sendu, atau tubuh kotor penuh debu?
Apakah aku benar-benar mengendalikan diriku?
Di mana letaknya aku?
Merpati tua tersenyum, seketika bergumam padaku,
“Kau adalah ruh yang dikaruniakan Tuhanmu,
Kau adalah jiwa yang bergulir bersama waktu”

pixabay.com

Benarkah? Bahkan aku sedikit linglung
Apakah waktu itu melangkah maju, atau berlari mundur?
Apakah lembaran hariku bertambah, atau makin berlalu?
Merpati tua kembali tersenyum,
“Kau adalah lembaran itu, lukislah ia dengan tintamu, tuangkanlah seluruh kenangan pahit, lalu hiasilah ia dengan lautan impianmu”

Bulir cahaya putih membalutku, membersihkan tubuhku dari debu
Sang merpati mengulurkan tinta waktu
Mengganti carik kertas kusam dengan lembaran seputih salju
Kemudian berlalu sambil berpesan padaku,
“Simpanlah kertas kusam itu, jadikan ia temanmu dalam melukis waktu
Rasakanlah dentingannya, setiap detik adalah lembaran yang akan berlalu”
Aku tersenyum, ia menjelma menjadi abu
“Kuharap kau akan selalu datang dalam mimpiku, menghadirkan sinar aurora, membawaku menelisik masalalu”

Karya: Fury Buhair

Dunia Mimpi, 22 November 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *