Kau dan Pena

 

Ketika sajak menyatukan kita untuk bersama.
Bebas… Kita merangkai di garis kertas.

Menyua hati berkarat, menembus cuaca dari badai-badai buruk.
Meraba seinci takdir, menata majas diri, untuk masa depan yang masih tersamarkan.

Aku mencintaimu dengan tudung-tudung gigi bergetar tanpa suara.
Tangan yang kaku tak mampu mencairkan sebait kata beku.
Cukuplah kau tau,
Aku berkata penuh doa, berharap kau mengamininya.

pixabay.com

Cinta bukanlah kubangan lumpur yang nyaman direndami babi, atau akar-akar pohon besar yang berdiri sendiri di alun-alun kota.
Cinta adalah berlari sejauh kau tempuh atau malah berbalik dengan rapuh.

Semua puisi dan diary, akan tetap bersama, meski ditulis dengan pena tak bertinta.
Sebelum puisi ini mulai sungsang, mataku membasah ingin pulang.

Aku menyapa senja pudarmu, ikhlaslah. Lepaskan mentari pergi, meski lembayungnya hilang terlalu dini.
Aku berbisik di telinga kananmu, tetaplah kau di sisi. Berjalan dan berlari meski bersepatu tak bertali.

Nanti, ketika musim dingin menghampiri akan kutulis puisi cerah tanpa kata yang susah.
Biar kau membacanya dengan mudah, menghangatkan tubuh dengan pelukan dari belakang yang berulang kali aku janjikan.
Lalu, berkhayal melihat hujan dengan cokelat panas atau bercengkrama dengan tawa yang berirama.

Karya: Wisnu Maulana Yusuf

Yogyakarta, 20 November 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *