Selimut yang Tidak Pernah Kering

“Hujan itu memuakkan!”

 

Begitulah ungkapan wanita separuh renta yang mendapati hujan esok tadi. Sebagian anak muda menganggap hujan adalah titik-titik air yang mengantarkan rindu, menyimpan bening-bening kenangan, juga potret dari romantika silam yang tak terlupakan, hujan disebut-sebut para penyair sebagai momentum manis untuk menciptakan syair, sementara beberapa pengangguran menganggap ia adalah rupa kesenangan jika tertatap dari bingkai jendela kamar tatkala tidak ada kesibukan. Bagi secangkir kopi tersendiri hujan adalah anugerah, sebab penikmatnya akan mencecap lebih dasyat. Anak-anak sekolah dasar menganggap hujan sebagai kawan yang siap diajak bermain di halaman, tak hirau gerutuan orangtua yang berkacak pinggang.

 

Selain para pekerja jalanan dan orang-orang masuk angin, ada juga ruh yang membenci hujan, wanita tua itu. Pemilik wajah berkerut yang selalu tampak ingin  marah, dipolesi bedak tebal, lipstik merah memoles bibir yang tidak membuat pria bergairah sebab tubuhnya gempal penuh lemak.

Kau tentu akan bertanya-tanya, penyebab dari manyunnya kedua buah bibirnya pagi itu. Cuaca berkabung, awan gelap menyelimuti kampung. Ia yang baru menyampirkan kain di tali jemuran menggerutu kesal, gerimis menyerbuk, sepuluh menit kemudian hujan berjatuhan. Suaminya sudah berangkat kerja, putranya masih mendengkur di kamarnya, semalaman anaknya yang dikandung di dalam rahimnya selama sembilan bulan begadang, menyaksikan pertandingan sepak bola yang disiarkan langsung. Subuh bangun terlambat, usai sujud kembali matanya terkatub.

 

Jadi ia sendirian pontang-panting mengambil jemuran yang masih basah. Pagi buta sebelum menyiapkan sarapan untuk anak dan suami, ia menyempatkan diri bermain dengan busa-busa sabun di dalam kamar mandi, mengucek kain lantas membilasnya agar bersih, pertempuran melawan kuman membandel sepertinya tidak direstui oleh alam.

 

Lihatlah, hujan turun mendayu-dayu, tiga ember kain tergeletak tak berdaya. Satu kain yang tampak malang, wanita itu menuntaskan semua pakaian basah di tali jemuran teras rumah, menumpuknya sembarang. Tidak ada ruang kosong untuk menyelamatkan selimut tebalnya. Kain yang menemaninya dua tahun rebah di dada lelaki tercinta itu diresapi embun dari langit. Berhubung masih menyimpan banyak kandungan air yang tidak tuntas, maka wanita itu membiarkan selimutnya bercengkerama dengan pasukan hujan. Toh hujan tidak pernah datang abadi, senja nanti hujan akan pulang, awan hitam menghilang.

 

Hari itu lain kisah, hujan merasa nyaman bermain-main dengan aktivitas manusia. Dingin dijadikannya teman manis yang sukses membuat pelancong jalanan dan sopir-sopir bus meringkuk kedinginan, tenda makanan ramai tidak disesaki pengunjung yang serta merta mau memberikan untung, mereka hanya berteduh di emperan, menatap hujan yang turun tanpa pamrih. Penyebar gosip di kampung alfa, mereka beringsut di rumah masing-masing, enggan membual cerita bersaksikan mendung. Jalanan lengang, tak ada knalpot sumbang yang melintas berkecepatan sembarang, anak muda meringkuk di kamar, mengunci pintu seharian, pikiran dilayangkan pada dimensi jarak yang dipersingkat satelit. Aroma kopi panas menguar, menyusup ke hidung-hidung yang belum dibasuh air kran.

 

“Kapan selimut Ibu akan kering jika hujan tidak reda-reda?”

 

Wanita itu mengeluh. Ia menatap jendela rumah, embun pecah di permukaan beningnya. Jalanan sepi, tidak tampak orang mengedarkan tubuh payung untuk menangkal percikan air hujan. Pintu rumah Bu Inah yang biasanya dijadikan tempat menggosip tetangga-tetangga tertutup rapat. Tiada lengkingan suara yang menusuk sanubari. Kampung seperti mati. Celoteh balita-balita merengek diturunkan dari gendongan ibunya pun tidak berbunyi. Kabut membius keluguan bibir-bibir perobek hati, merekatkan kebersamaan keluarga, membantu pemuda-pemuda lelap di bawah belaian mimpi surgawi dunia.

 

Lah tahu cuaca sedang buruk, kenapa mencuci selimut, Bu?” anaknya protes. Ia menyilangkan kaki di sofa, tangannya sibuk mengupas kulit kacang, volume laptop tidak kalah dengan gemuruh hujan yang jatuh di permukaan asbes. Anak laki-laki semata wayangnya sedang memelototi film animasi One Piece favoritnya. Bangun kesiangan bukannya lekas mencari kesibukan berguna di luar rumah, justru menekan tombol power laptop.

 

“Kalau selimut tidak kotor, mana mungkin Ibu mencuci!”

“Yasudah kalau begitu terima saja takdir Ibu kedinginan malam ini,”

Oh ya, hujan takdir Allah,”

Nah itu Ibu tahu!”

“Nak, kalau kamu sudah berumur dua puluh tujuh tahun belum menikah dan belum mendapatkan pekerjaan itu takdir bukan?” wanita itu menatap wajah putranya garang. Tangannya dengan gesit menutup tirai jendela, mendekati tubuh anaknya yang bermuka merah karena malu, ia melempar kacang ke udara, lantas menangkap dengan mulutnya untuk menetralisir perasaan kesal.

“Ibu kok nyambungnya sampai ke situ?”

“Ibu mencuci selimut untuk menjaga kesehatan, menghindari kuman, itu sudah menjadi rutinitas Ibu tiap minggunya, lain cerita dengan hujan yang merupakan ketentuan Sang Pencipta!”

“Ya aku belum dapat jodoh juga takdir pencipta kan, Bu? Yang penting aku sudah berdoa, semoga dapat kerjaan tetap dan jodoh yang baik,”

“Ibu mana bisa meredakan hujan, Nak? Ibu hanya bisa berdoa agar hujan reda dan selimut Ibu kering, kalau kamu! Kamu belum berusaha mencari kerja, belum berusaha mencari pasangan hidup, apa itu takdir juga? Manamungkin pekerjaan akan datang dengan sendirinya tanpa dicari terlebih dahulu? Kamu duduk asyik-asyikan nonton Naruto,”

“Bukan Naruto Bu, Monkey De Luffi!”

“Hayo itulah, jangan sampai gara-gara Monkey-mu kamu jadi ikut-ikutan ingin mencari harta karun tanpa kerja keras terlebih dahulu.”

Loh Monkey berusaha loh, sampai-sampai bertempur melawan bajak laut! Nyawa dipertaruhkan, Bu!”
“Selalu saja, lama-lama wajahmu dan karaktermu bisa seperti Monkey di kebun binatang.” Wanita itu sedikit geram.

“Lah? Kok jadi kebun binatang sih, Bu?”

 

Protesnya tidak dihiraukan, wanita itu masuk ke dalam dapur, meracik rempah-rempah, memotong tempe kedelai menjadi dadu-dadu kecil, menanak nasi. Di luar hujan tidak kunjung pamit pulang, benaknya terpusat pada suaminya yang bekerja menjadi karyawan pabrik tahu di desa tetangga. Angin tertiup kencang, pepohonan doyong, beberapa dahan tumbang, daun-daun berguguran lantas dilayangkan tanpa tujuan. Ia khawatir lelaki yang dicintainya bertahun-tahun menggigil kedinginan. Dadanya dielus perlahan, napasnya diembuskan pelan-pelan, pandangannya dialihkan ke ruang tengah yang tampak dari dapur sebab pintu menganga lebar, anaknya khusuk memelototi layar yang dagung-agungkan canggih itu. Mendadak ada kecewa yang merambat lembut ke dsar jiwanya, bukan menyesal memeiliki anak laki-laki sebesar itu, tidak juga hendak protes kepada pemilik semesta mengenai anaknya yang tidak tahu berbalas budi, ia sekadar iba, mengapa satu-satunya anak laki-laki di rumah tidak mampu membaca perjuangan seorang ayah yang rela kehujanan, kepanasan, kehausan, bahkan sering menahan lapar demi keluarga.

 

Tangannya mengaduk sayur tempe yang lima menit lalu dimasukkan ke dalam wajan.

***

 

PAGI, kembali alam membuka penglihatan, matahari terbit seperti sedia kala, bulan tenggelam, sinarnya bukan dipadamkan melainkan diistirahatkan untuk malam-malam selanjutnya. Hujan reda sebelum fajar mengintip alam. Ayam-ayam berkokok memanggil manusia-manusia yang masih asyik mendengkur melukis benua sembarang di lautan kapuk.

Sebelum subuh wanita itu bangun, seperti biasanya, menyapu halaman rumah, membersihkan perabotan dapur, menyiapkan sarapan dan menjemur pakain-pakaian basah. Selimut yang kemarin dipeluk hujan berjam-jam dibilas ulang, beberapa menit direndam pewangi, usainya dijemur lagi. Langit yang tidak begitu cerah setidaknya membuatnya sedikit menyunggingkan senyuman. Kabut tipis tetap menggelayut manja di ambang udara, mengandung serbuk-serbuk air yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi titik-titik air. Ia harap hujan tidak turun, tak mengapa mendung, setidaknya pakain-pakaian dan juga selimutnya yang masih basah sedikit tuntas.

“Bu, nanti sore mau titip apa? Hari ini kan tanggal satu, Insya Allah bapak gajian,” suaminya berbicara dengan volume tinggi dari dalam rumah. Ia sedang memakai sepatu bututnya, mengikat tali-talinya.

“Tidak usah belikan apa-apa, Pak! Uangnya ditabung saja buat masa depan, Hasan!”
Meski sempat dibuat kecewa, orangtua mana yang lupa dengan anaknya? Yang dipikirkan baru saja membuka mata, bangkit melipat selimutnya, mandi, lantas duduk di meja makan.

“Ibu tidak mau pesen sayuran?”

“Uang belanja bulan kemarin masih, Pak!”

Suaminya tersenyum, ia mengeluarkan sepeda motornya, mendekati istrinya yang sedang menyampirkan handuk di tali jemuran. “Bapak berangkat dulu ya?”

Punggung tangan suaminya dikecup lembut, cinta mengalir di jantung masing-masing, detak bergemuruh, senyum malu-malu mekar di pagi yang mendung, tatapan mereka bertautan. Lelaki itu melirik jalan dan rumah-rumah tetangga, berharap tak ada yang mengintipnya mencium kening istri, juga menangkap basah gerak jemarinya membelai ubun-ubunnya manja. Itulah rutinitas sepasang suami istri yang hidup di rumah sederhana.

Bapak berangkat berkerja.

Wanita itu menyelesaikan jemurannya kemudian berangkat ke pasar tradisional, belanja sayuran dan beras untuk makan esok nanti.

 

Pemuda itu, atau kau boleh menyebutnya Hasan, masuk ke dalam kamar, mengambil laptopnya, menghidupkannya, memutar film animasi Jepang, ia terpingkal sendiri, bahkan melantunkan ungkapan-ungkapan pujian absurd. Begitulah aktivitasnya sampai siang menjelang. Oh hari itu sungguhlah malang, mungkin garis kehidupan menarik kesimpulan bahwa detik itu langit bersedih, awan-gemawan sengaja lebih menggelapkan dirinya tersebab iba melihat dua sayap cinta mengepak terpisah, airmatanya meleleh, membasahi bumi, membuat daun-daun basah, tanah yang belum sempat mongering bertambah basah, rumah-rumah penduduk basah, jemuran-jemuran basah! Ah, simpati alam teramat tragis, selimut wanita itu belum kering, haruskah malam nanti ia dan suaminya kembali kedinginan?

Hasan bangkit menutup tirai jendela, membalut tubuhnya dengan selimut tebal, kemudian menonton film, lagi.

Wanita menjelang senja di emperan pasar, wajahnya tertekuk datar. Ia ingin lekas-lekas pulang. Sudah tidak sabar hendak menyalakan kompor gas, menghangatkan sayur dan menanak nasi. Ia juga teringat dengan pakain suami dan anaknya yang masih terpajang di luar rumah, menggantung pasrah di tali jemuran, kain-kain itu tentu tak mampu bertindak apa-apa sewaktu hujan mengamuk deras tubuhnya, apalagi jikalau angin kencang merobohkan tiang penyangga. Ia menggigit bibir bawahnya. Ada getir yang berbaur dengan rasa bersalah.

“Hujan, kapankah kau akan pergi?”

Laki-laki yang menitipkan cinta di kandungan melirik hujan dari dalam pabrik, bibirnya tak bosan mengucapkan doa supaya hujan lekas reda, lelahnya seharian bekerja akan terbayar lunas jikalau melihat istri dan anaknya duduk bersama menyantap hidangan makanan yang lezat, tak peduli seberapa berat pekerjaannya, tidak hirau sepanjang musim basah ia kehujanan, juga sepanjang musim kering ia kepanasan, yang ia inginkan sederhana saja, melihat kedua sosok yang dicintainya hidup berkecukupan. Itu naluri laki-laki.

Pasangan suami istri itu terjebak di luar rumah. Hujan dan angin sedang bercanda. Langit tersenyum kelabu. Awan putih mengecat dirinya menjadi keseluruhan hitam. Tanaman basah kuyub. Kucing-kucing kampung meringkuk kedinginan di sisi tungku dapur. Anak-anak belia bersandar di dekapan orangtua. Kopi hangat dan kacang kulit menjadi sahabat sejati Hasan. Petir menjelegar. Angin merobohkan penyangga jemuran. Tamat! Cerita usai.

Magelang, 17 November 2017.

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *