Tubuh yang Tabah Berdoa

 

DI SUATU PAGI yang tak bermentari, ia tak menemukan apa-apa di meja dapurnya. Kosong melompong. Bahkan air putih saja tak terhidang di sana. Hidup sebatang kara, istri lama meninggal dunia, tak dikaruniai anak, membuat hidup laki-laki enam puluh tahun itu terlunta-lunta. Begitu orang menyebutnya, tapi toh, laki-laki bernama Parman itu tak menganggapnya demikian. Tidak ada yang namanya terlunta-lunta selama ia masih punya Tuhan. Kepada siapa lagi ia berserah jika bukan pada Tuhan yang Maha Besar?

Di pojok ruangan berbilik bambu itu, dekat pintu masuk, terdapat enam karung besar yang terisi penuh barang-barang rongsokan. Kelak nantinya, ia akan jual, untuk menyambung kehidupannya. Betapa Tuhan masih menyayanginya bukan? Selalu ada jalan –sesederhana apapun itu– untuk tetap bertahan hidup. Tuhan tidak akan menyia-nyiakan kehidupan hamba-Nya kecuali hamba itu sendiri yang memilihnya, jelaslah orang seperti itu tak memiliki secuil iman dalam hatinya.

pixabay.com

Rumah itu berbentuk persegi berukuran sedang dengan satu pintu, tanpa daun jendela. Ruangan itu tidak memiliki banyak kamar, hanya ada satu, itupun kamar mandi. Sedang untuk tidur, ada satu dipan yang letaknya berada di tengah ruangan yang langsung menghubungkan dengan dapur. Sempit sekali, tapi tidak jika ditinggali untuk satu orang.

Barang berharga yang ada di rumah itu, barangkali hanya kompor gas bantuan dari pemerintah, sudah dua hari tak bisa dinyalakan karena gas habis pun ia belum punya uang untuk membelinya. Maklum saja, jika tidak ada air putih di mejanya. Maka ia pun pergi ke kamar mandi, menciduk air di bak air lantas meneguknya dengan nikmat. Rasa syukur seperti ini kerap kali ia nikmati kala mendapat kesusahan. Ternyata Tuhan masih menyayanginya, air keran saja sudah mampu melegakan tenggorokannya. Meski perutnya mulai mencericit minta makan.

Laki-laki itu berkemas, seperti biasa, ia hendak mengais rezeki di manapun, di sepanjang jalan, di perumahan, atau di mana saja asal bisa ia temukan onggokan sampah. Dipilah-pilihnya barang-barang bekas yang layak jual, dimasukkannya dalam karung dan dibawa pulang. Sebelum berangkat, ia merobohkan saku celana sebelah kanannya –celana gombrong yang sudah sepuluh tahun. Hanya ada dua lembar uang kertas dua ribuan, juga dua keping lima ratusan. Lima ribu rupiah, jika ia membeli beras setengah kilo, sama saja bohong, mau dimasak menggunakan apa? Gas aja belum mampu beli.

Ia mengembuskan napas. Perutnya dirasa semakin melilit, semalam ia belum makan, bimbang hendak diapakan uang lima ribu rupiah itu. Jika dibelikan makanan matang, sudah pasti habis saat itu juga sementara masih ada hari esok yang menyongsong. Lumayan bukan jika bisa membeli setengah kilo beras, ia bisa menanaknya, dan sisanya bisa untuk makan besok, peduli siapa jika lauknya hanya garam. Sayangnya percuma, ia harus mencari tambahan uang untuk membeli gas.

Sebelum keluar rumah, ia memerhatikan enam karung yang berada di pojok ruangan, kurang empat lagi. Dan pengepul baru akan mengambilnya jika sudah genap sepuluh karung. Tentu Parman tidak membawa sepuluh karung itu, melainkan ia melapor pada pengepul jika sudah ada sepuluh karung di rumahnya dan akan ada seseorang dengan mobil box mengambilnya, ditimbang lantas diberikannya bayaran pada Parman. Murah saja, sekilo hanya dihargai tiga ribu rupiah. Bayangkan, jika itu sampah-sampah plastik bekas air minum, berapa banyak karung yang harus ia dapatkan untuk mendapatkan uang tiga puluh ribu yang artinya sepuluh kilo sampah?

“Assalamualaikum,” suara dari luar memecah lamunannya. Segera saja ia bukakan pintu dan menyambut siapa yang datang. Ternyata, Bu Dinar, tetangga depan rumah yang membawa rantang tiga susun.

“Waalaikumsalam, eh Bu, silakan masuk!”

“Tidak usah, Pak. Ini saya cuma mau kasih sedikit rezeki, tadi ada kelebihan masak buat acara suami saya di kantor.” Bu Dinar menyerahkan rantang itu dan diterima oleh Parman dengan syukur yang melimpah ruah.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak, Bu. Gusti Allah yang membalas kebaikan jenengan.”

Parman kembali masuk sementara Bu Dinar juga berbalik menuju rumahnya. Di dalam, dibukanya rantang itu, susunan pertama ada sayur sop dengan potongan ayam, susunan kedua berisi lauk pauk –perkedel, tempe, ayam goreng, sambal, telur rebus–, terakhir adalah nasi. Bisakah dibayangkan rasa syukur yang Parman rasakan saat itu? Luar biasa besarnya kesukariaan yang ia dapat untuk rezeki pagi itu. Tuhan Maha Baik.

Tak lama, ia membungkus sisa nasi juga lauk pauk itu dengan kertas minyak yang masih ia miliki dan tersimpan di almari dapur. Bekal untuk hari ini juga sebotol air keran. Tak ada harapan banyak, ia hanya ingin sehat dan tetap bisa mencari nafkah, untuk diri sendiri pastinya. Memangnya untuk siapa lagi? Ia tidak punya siapa-siapa.

*
Langkahnya pasti menyusuri jalanan, karung yang dipanggulnya–di bahu kanan– belum terisi penuh–masih separuh. Sedikit peluh di hari yang mendung. Siang tak berterik, matahari bersembunyi di kesenduan mega berwarna kelabu. Lama-lama semakin pekat, dilihat pun serasa berat. Tumpahkan, tumpahkan saja apa yang memberatkan itu. Biarkan bumi seketika basah, nikmat yang tidak bisa didustakan. Hujan, anugerah yang harus disyukuri. Laki-laki malang itu, Parman, berharap hari tidak hujan, ia masih ingin terus berjalan. Tapi jia Tuhan sudah berkehendak hari itu turun hujan, maka apa dayanya sebagai manusia yang sudah seharusnya menerima setiap ketentuan dari-Nya?

Ia menghentikan langkah dan duduk di trotoar. Sesekali wajahnya menengadah, menatap ke-kelabu-an di langit. Ada rasa sesak menghinggapi dirinya, dan seketika itu ia berdzikir. Sesalnya ialah karena ke sekian kalinya ia ingin mengeluh meski serta merta diurungkannya keluhan itu. Kekurangan yang sedang dialaminya, yakin, bukan hanya dirinya yang mengalami. Justru ada banyak yang lebih tragis dari dirinya. Astaghfirullah, ia mengelus dada.

Lalu-lalang di jalan raya mulai lengang, barangkali orang-orang malas bepergian –jika tidak perlu-perlu amat– karena cuaca seperti itu lebih nyaman dihabiskan dalam ruangan, terkantuk-kantuk, menikmati semilir angin sejuk yang memberatkan mata. Mereka –nun jauh di kota besar– yang duduk-duduk di kursi mewah kelas pejabat, bahkan tak segan tidur saat rapat berlangsung. Ya, bukan sekali dua kalinya mereka begitu, bahkan saat cuaca tidak hujan pun, mereka sering begitu. Kursi nyaman di ruang ber-AC, siapa sih yang bisa tahan dengan kenikmatan saat didera kantuk? Lalu, Parman? Sengantuk-ngantuknya ia, tetap tidak akak bisa dipejamkan mata itu, mengingat kebutuhan yang harus dicukupinya. Pekerjaannya tidak punya waktu berleha-leha.

Beberapa jenak ia duduk di trotoar sembari memandangi lengangnya jalanan dan hanya beberapa yang melintas. Ia sendirian. Selalu saja begitu. Dikeluarkannya bekal siang itu, bukan sisa, tapi lebihan sarapan yang dibelikan tetangga budimannya. Bahkan ia harus bersyukur untuk itu, ada orang yang masih memerah dirinya. Tuhan tak akan membiarkannya kelaparan!

Sebungkus di tangan kiri, sebelumnya ia mencuci tangan dengan air yang dibawanya, dan mulai menyendoknya dengan tangan kanan setelah mengucap bismillah. Saat makanan itu habis, titik-titik kecil dari langit berjatuhan dari langit. Semakin lama, makin rapat saja. Deras, hujan membanjur sekujur tubuhnya. Ia melanjutkan perjalanan, dan berhenti di sebuah tempat yang cukup meneduhkan dirinya dari kebasahan yang menggila.

Tuhan Maha Baik, datangkan kemudahan padanya kapan saja dan di mana pun kakinya menapak. Laki-laki tua yang sabar, alangkah dengki hati semua yang melihat ketabahanmu, jika mereka memiliki nurani.

Kharisma De Kiyara

Magetan, November 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *