Perihal Rumah dengan Atap-Atap Mendung

 

Sebuah rumah tua yang bangunannya tampak sejarah dan lini masa. Halaman yang luas, ibu, dan anak-anaknya. Semuanya tampak sesederhana beranda pada umumnya. Di depan rumah nampak tanaman, mainan adik dan beberapa barang habis pakai.

Kami anak-anak ibu, bermacam penampilan dan panggilan. Aku yang berbahasa halus, kakak yang tegas, adikku yang berkulit hitam, dan adik bungsu kami yang bermata sipit. Kadang kami sering bertengkar, berebut piring dan nasi tapi ibu akan memeluk dan menenangkan kami.

pixabay.com

Sebuah Palung yang membuat kami ingin selalu kembali pulang, rumah penuh riuh yang menghangatkan. Kandang kecil yang menyenangkan. Sebuah tempat di mana perbedaan adalah harapan untuk bertahan.

Rumah kami akhir-akhir ini sering mendung, langit-langit gelap membuat kami kalang kabut. Ibu sering menangis di samping tungku api, menjaga kami agar tetap hangat. Sedang kami sibuk menyalahkan lainnya.

Mendung perlahan, hujan datang. Ketika kami hendak menyapu sedikit kenangan. Rumah kecil kami tetaplah tempat menutup mata di haribaan.

Karya: Dimas Ridho

(2017)

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *