Hingga Senja Tak Lagi Jingga

pixabay.com

Dalam letih penantian ia angankan sebuah perjumpaan, diharapkan dapat melepaskannya dari kejam bayang-bayang
Ia ingin berlari, membawa pergi segala rasa yang mengendap di dasar hati
Ia ingin berteriak, memaki apa saja yang telah membuatnya hilang dari kebersahajaan
Segalanya telah pergi, tak mungkin lagi bisa kembali
Segalanya telah mati, tak mungkin bisa punya ruh lagi
Tak lagi sama, meski dunia memberinya kesempatan untuk mengendarai mesin waktu memutar masa lalu
Termangu, ia diam di bawah atap senja yang memayungi dalam pilu
Hidup tapi tak berarti, ia sadar tak mungkin dapat diperbaiki lagi
Ia duduk bersemedi, hingga senja tak jingga lagi

Oleh: Septi Nofia Sari

Magelang, 18 November 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *