Senja di Kelopak Matamu

1997

Hari-hari bagai gelombang ombak yang menggulung mentari. Saat malam mengusir senja, memamerkan gugusan bintang yang tak kalah dari jingga. Beribu wajah ia lukis di atas sana. Saat aku terduduk dingin, menunggu janji yang mulai pudar bersama desiran pantai yang mulai surut.

Kursi  kayu yang lapuk, tempat kumenyambut teriakan dari jauh, awak kapal yang berlabuh bersama sapaan camar yang memecah semu.

*****

1993

“Hei kau gadis berambut merah, suatu hari akan kuhadiahkan kau cincin permata dari irisan surga di Valencia!!”

Rambut pirangnya diterpa pias cahaya, silau. Matanya tajam seperti biasanya. Ia tampil elegan, mengenakan rompi hitam dan kemeja putih di dalamnya. Puluhan mata kini tertuju padaku. Pipiku memerah.

“Kau memang tak pernah berubah Volans. Apa kau masih menyangka kalau dunia adalah panggung sandiwara?” sergahku. Aku berusaha menyembunyikan rasa maluku, namun malah dengan lantang Volans berkata,

“Tentu, di atas sana puluhan elang sedang menyaksikan dramaku Lyra, haha..”

Aku menepuk kening.

“Ayo, sebentar lagi kita di puncak,” gumamku.

“Siap kakak rambut merah!” sahut Volans

Serpihan jingga menusuk reranting halus di puncak Mahameru, menyapa edelweis dengan tulus. Memanggil memori yang tenggelam di dasar lautan. Kawanan burung sesekali menyaut. Kelopak senja perlahan tertutup. Jingga senja. Tempat ku melepas ribuan pixel rindu, tempatku bersandar di kala sendu. Tempat kumencurahkan rasa hatiku pada mentari dalam diam, sebelum ia akhirnya pamit meninggalkanku. Aku menyungging senyum, serasa piasmya menyapu rasa letih, membawakan potongan rindu dalam sinarnya yang lembut. Di ufuk kulihat wajah ibu dan ayah. Sendu. Bagai gelombang laut biru. Mungkinkah mereka sedang bercengkerama di pangkuan kilauan cahaya itu? Atau sedang menari memanggil-manggilku untuk bermain bersama seperti dulu? Ah sudahlah, aku mulai mengenang.

“Lihatlah persembahan alam kepadaku Nona Lyra.” Volans lagi-lagi membuatku malu di depan banyak orang. Lagi-lagi puluhan mata tertuju kepadaku. Memang sedikit sulit mempunyai kembaran sepertinya. Dia tak henti-hentinya berlagak layaknya bintang film yang disorot setiap waktu, aku sendiri bingung sejak kapan dia bertingkah konyol seperti ini. Tapi aku senang, keunikannya sedikit menghibur, setidaknya menutupi rinduku kepada ayah dan ibu. Mereka meninggal saat berlayar di ulang tahun ketujuh pernikahan mereka, di tengah pelayaran menuju Pulau Tidung. Ombak menelan mereka. Tapi kuyakin, kenangan mereka tetap tergenang di laut sana, dan mungkin kunang-kunang memungutinya bersama rembulan.

“Volans, keluarkan sajadah, kita jangan sampai lupa pesan ayah kepada kita. Kau tak lupa obat rindu kita kan?”

“Ya, shalat bukan?

***

“Kak, tahukah kau? Sebenarnya aku rindu kepada ayah.”

“Kau tak perlu mengatakannya Volans.”

“Apakah ayah dan ibu ada diantara gugusan itu?”

“Mungkin saja, kau boleh menyapanya”

“Bahkan kita tak sempat sampaikan salam perpisahan bukan? Aku hanya sedikit sedih.” Bahkan sebelum kau mengatakannya air mataku sudah menetes. Apakah aku kakak yang cengeng? Tidak. Ibu pun tahu aku adalah kakak yang tegar. Kurasa angin malamlah yang membuat mataku sedikit perih.

Angin malam selalu membawa kisah bagiku. Bahkan di hari kepergian mereka berdua. Seakan ia adalah suratan dari malaikat, atau kutukan malam yang tak pernah bisa kupahami.

Cahaya di atas sana sangat terang. Sesekali aku menoleh pada Volans yang menatap langit dengan sungguh-sungguh. Apakah ia mencoba berbicara pada ayah? Pipinya sudah basah, matanya sayu. Mungkin dia sudah lupa umurnya 17 tahun. Ah, sudahlah, bahkan pipiku lebih basah darinya. Aku tak bisa berbohong pada rembulan, ia selalu bisa menebak hatiku hanya dari kedipan netra. Lukaku tak akan sembuh walau kubawa mendaki gunung apapun. Satu tahun berlalu, tak cukup menutupi goresan luka dan rindu yang menghantuiku.

“Mungkin,, suatu hari bolehkah aku menyusul mereka?” Aku menoleh pada Volans. Dia menghilang. Mataku liar mencarinya, sampai akhirnya tertambat pada tenda biru muda, Volans sudah tertidur pulas di sana. Di sekelilingnya puluhan tenda warna-warni menghiasi puncak Mahameru. Di sini, kurasa ratusan orang sedang mengenang. Bersama kunang-kunang malam yang hilir mudik membawa terang.

***

Beberapa bulan kemudian,

“Kak, aku harus pergi”

“Ya, kau harus hati-hati. Sampaikan salamku pada Pulau Sumatera. Jaga dirimu baik-baik di sana.”

“Tentu Nona, suatu hari akan kuhadiahkan kau cincin permata dari irisan surga di Valencia!!”

“Kata-kata itu lagi,” gumamku sambil menepuk kening. Ia tertawa. Aku pun ikut tertawa. Angin bertiup. Seketika aku terhenyak, terlintas di pikiranku sebuah takdir buruk. Akankah ini tawa terakhir Volans? Aku menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran buruk itu.

“Kuharap suatu hari kau kembali pulang,” gumamku

Punggungnya membelah langit di pelabuhan. Camar riuh hilir mudik. Sesekali pelikan menyambang laut, menyapa terumbu karang. Menggambar riak dengan paruhnya yang kokoh. Dengungan kapal pesiar memecah sepi di tepian selat sunda. Mentari terbenam di ufuk, angin malam menghembus layar putih yang penuh guratan masa. Aku duduk manis di kursi coklat, menunggu laut menghantar kapal menjauh dari pelabuhan.

Akankah?

***

1997

Penghujung Desember. Empat tahun sejak kepergian Volans. Hari demi hari bergulir bagai roda waktu. Memberiku kisah hidup, menyelipkan kerinduan di sela-sela waktuku kepada kembaranku yang sekian lama berpisah denganku. Akhir November ia wisuda. Serentak dengan wisudaku di sini. Aku dan Volans sudah saling berjanji bahwa nanti akan merayakan wisuda kami di puncak Mahameru. Bersama berbagi cerita yang kami dapatkan di kampus masing-masing. Mengenang masa kecil, juga berbagi sepotong luka perpisahan yang ditanamkan ibu dan ayah di dalam dada kami. Kurasa sekarang mereka tersenyum, dan kurasa luka itu perlahan, bersama waktu memudar dan melebur menjadi impian indah yang akan menghiasi kesedihan masalalu.

Mentari pagi menelisik jendela kamarku. Aku sibuk merias rumah dengan foto-foto lama keluarga kami. Rumah biru beribu kenangan, setiap sudutnya adalah rindu dan cinta. Ruang tengah tempat aku memainkan harpa, menggemakan ornamen rindu yang terpendam di dalam atma, menyapa setiap senti dinding rumah, menghibur bibit bunga yang ditanam ibu di halaman. Tempat aku mengenang sebuah masa, dimana kami bernyanyi bersama sementara ayah bermain gitar. Memang masa-masa yang sulit dilupakan. Aku berusaha menatanya sedimikian rupa, menyambut kepulangan Volans yang sudah kutunggu sekian lama.

Surat-surat dari Volans memenuhi mejaku. Sengaja aku tadi mengacaknya, sedikit rindu saja pada tingkah Volans yang selalu membuatku gemas. Ibu dan Ayah pasti bangga. Di sudut kamar, toga dan almameter terpampang rapi, di sebelahnya kusisakan tempat untuk toga Volans yang akan ia bawa dari Pulau Sumatera. Bunga-bunga di rumahku sudah mekar. Edelweis yang kami bawa dari Mahameru tergantung manis di dekat jendela. Di daun jendela seekor merpati mampir, melihat-lihat kamar kemudian berlalu pergi. Barangkali ia mencari Volans, lagi. Aku hanya tersenyum.

Pohon Tabebuya sudah mekar, aku awalnya tidak menyangka. Mawar biru juga mengembang di sudut taman. Kupu-kupu memenuhi halaman. Bibit yang dulu ditanam ibu kini sudah tumbuh. Rumput hijau mengelilingi rumahku, tersenyum memeluk hangat butir-butir cahaya mentari yang merambat di halaman rumahku.

Hari semakin sore, aku menyandang tas, sambil menyungging senyum kukayuh sepeda merah mudaku menuju pelabuhan yang tak jauh dari rumah. Hari ini sangat spesial.

Sepedaku memasuki bibir pelabuhan. Tak sabar aku melihat kembaran laki-lakiku yang sudah tumbuh dewasa. Aku jadi bertanya-tanya, mungkinkah ia jauh lebih tinggi dariku? Dan mungkinkah tingkah lakunya sudah berubah? Tapi sepertinya tidak mungkin, di dalam surat-surat yang ia kirim ia sama saja, masih seperti dulu saat kami hidup bersama.

Senja menyapa. Desiran laut menimang rima. Aku sudah tak sabar. Serpihan jingga menyelimuti burung camar yang terbang rendah, sedikit merah. Awan menggulung, beberapa mengepul seperti eskrim. Terbang beriringan, meninggalkan Cirrus yang membias, dipenuhi taburan serpihan jingga bagaikan emas.

Riuh peluit kapal pesiar menepi, beberapa kapal berdatangan, merapat ke pelabuhan. Beberapa berkemas untuk pergi, menunggu waktu yang tepat untuk berlayar.

Aku duduk manis, menanti kapal pesiar Volans menepis cahaya merah di lautan. Hanya tinggal beberapa menit. Kapal bernama Andromeda akan tiba.

Hari menutup kelopaknya, menghadirkan rembulan dan bintang-bintang. Langit bercahaya, piaskan warna biru ungu jingga. Ya, aurora malam ini berkunjung ke selat sunda. Hal yang menakjubkan bukan?

Tiga puluh menit sejak senja pergi. Aku shalat lalu kembali ke kursi. Kursi coklat yang sudah tampak tua dan mulai lapuk. Barangkali petugas pelabuhan enggan menggantinya. Ya, mungkin menurutnya bagi beberapa orang kursi ini sangat berharga.

Sejam sudah. Aku mengeluarkan jaket biru muda dari tas mungilku. Menyelimuti tubuhku yang mulai kedinginan. Isya sudah lewat. Andromeda masih belum tampak. Apakah ia ditelan serpihan senja? Atau dibawa awan yang beriringan tadi petang?

Dua jam. Delapan tepat. Ah, mungkin kapal itu sedikit terlambat. Mungkin cuaca di sana kurang bersahabat. Mungkin ia dihadang angin dan harus berhenti sejenak di lautan sana. Aku harus tetap tenang. Kali ini akan kubuktikan pada angin malam bahwa malam ini akulah pemenangnya.

Tiga, Empat jam. “Aku akan bersabar,” gumamku.

Lima, Enam. Langit  sibuk memamerkan perhiasannya. Gugusan bintang kerlap kerlip bak berlian, bagai serpihan permata yang berserak di langit kelam. Laut dipenuhi barisan kapal pesiar berlampu remang. Angin malam makin mengusik. Desiran dinginnya perlahan menusuk, seakan menyampaikan takdir buruk yang dulu terlintas di benakku. Aku tak akan kalah. Andromeda pasti datang. Sepi, tak ada camar atau pelikan. Hanya sesekali demburan ombak dan dawai angin yang berayun diantara gelombang.

“Maaf Adik, menunggu siapa?” Aku sedikit terkejut. Seorang petugas pelabuhan menghampiriku.

“Tidak ada Pak, saya hanya ingin menikmati malam.” Ia berlalu. Aku benci mendengar pertanyaannya, mungkin saja ia hanyalah angin malam yang menjelma jadi manusia. Ah sudahlah, pikiranku semakin tidak jelas saja.

“Sampai saat ini tidak ada kabar dari Andromeda Dik, jika kau menunggunya,” gumamnya meninggalkanku. Aku menelan ludah. Terhenyak. Aku bimbang.

Akankah? Ah tak mungkin bukan? Kami sudah saling berjanji untuk merayakan wisuda kami di Mahameru. Pun.. pun kalau kapalnya tenggelam, dia akan berenang kemari ‘kan? Volans, ya Volans. Namamu Volans kan? Gugusan bintang yang menyerupai ikan terbang. Kau akan pulang kan? Kau sudah berjanji. Setidaknya Kembalilah dengan sayapmu, berenanglah atau terbang seperti gugusan bintang. Pulanglah…!!

Buliran air mengalir di pipi tanpa sekehendakku. Dia akan datang ‘kan? Aku yakin, aku dapat merasakan keberadaannya di laut sana. Aku.. Aku.. Bimbang…. Aku menangis, aku tak sanggup menahan tangis. Tangisan jiwaku memenuhi nadi-nadi di sekujur tubuhku. Rasanya tulangku ngilu, kaku membeku. Malam semakin dingin, mencekam. Pipiku basah. Namun hati kecilku berbisik padaku… dia pasti datang.

Aku menggigil kedinginan. Angin malam menertawakanku. Haruskah aku mengalah juga kali ini? Aku tak mau, tapi.. aku tak bisa berbohong.. aku bimbang. Pipiku lembab diguyur air mata. Mataku memerah. Akankah gugusan bintang membantuku? Akankah? Siapa saja…. Aku tak rela menjadi Lyra, aku tak rela menjadi harpa malam yang menghantar kepergiannya. Aku tak mau….

***

Hari-hari bagai gelombang ombak yang menggulung mentari. Saat malam mengusir senja, memamerkan gugusan bintang yang tak kalah dari jingga. Beribu wajah ia lukis di atas sana. Saat aku terduduk dingin, menunggu janji yang mulai pudar bersama desiran pantai yang mulai surut.

Kursi  kayu yang lapuk, tempat kumenyambut teriakan dari jauh, awak kapal yang berlabuh bersama sapaan camar yang memeccah semu.

Akankah ia datang? Bahkan desiran laut pun akan pulang ke rumahnya bukan? Kau sudah berjanji padaku, Volans.

***

“Hei kau gadis berambut merah, kubawakan kau cincin permata dari irisan surga di Valencia!!”

Aku terbangun, bersama bias cahaya mentari pagi. Kukedipkan mata, pandanganku buram. Aku mengerjap-ngerjapkan mata hingga kilauan cahaya putih beranjak dari mataku.

“Aku sudah lama menunggumu Volans,” gerutuku.

“Ayo sholat dulu sana Lyra, kau sungguh terlambat bangun kali ini.”

Aku berdiri dari kursi coklatku, sedikit aneh dengan kursi ini. Kubawa tasku menuju tempat sholat. Kulihat di cermin, mataku sudah tidak sembab lagi. Aku berwudhu’ dan lalu menunaikan sholat shubuh.

“Ayo pulang Volans, aku lelah di sini.”

“Pulang kemana?”

“Ke rumah.”

“Aku tak akan pulang.” Waktu berhenti. Membawaku ke dalam kumparan dimensi waktu. Memuntahkanku di gelap malam. Tepat di kursi coklat. Mataku masih sembab. Aku baru saja bermimpi. Angin malam kembali menertawakanku. Kunang-kunang memungut serpihan-serpihan rindu di lautan. Air mataku tak terbendung lagi.

“Aku akan terus menunggu.” Aku sesenggukan.

Malam masih sama. Apa yang kudapat hanyalah hampa. Hingga akhirnya azan memecah sunyi, menembus gelombang laut dan sela-sela terumbu karang. AsmaNya bergema di pelabuhan. Mengetuk pintu langit, dan jiwa-jiwa sepi yang tertidur pulas di buai malam. Fajar menyingsing.

Cahaya kuning menerpa laut. Burung camar mulai berdatangan. Pelikan sibuk berburu ikan. Aku kalah. Lemah. Kukayuh sepeda pink-ku, aku hampir terjatuh beberapa kali karena pandanganku yang kabur. Pikiranku linglung, hatiku masih tertinggal di balik hembusan angin malam di bibir pelabuhan.

Sebuah rumah yang tinggal hampa. Buram. Hanya aku dan sepi. Kupu-kupu berusaha menghiburku, tabebuya tampak sendu. Mawar biru hanya diam terpaku. Rumput hijau hanya tertunduk. Ya, angin malam kembali mengalahkanku.

***

Petang sudah dekat. Kupetik beberapa mawar biru. Kukayuh sepeda menuju pelabuhan. Malam ini, akan kususul mereka semua. Ya, izinkan aku menjadi serpihan yang terbang bersama jingga senja. Biarlah kutitipkan rumah kenangan kepada kupu-kupu dan tabebuya. Aku menyungging senyum, terimakasih rumah biru.

Kunaiki kapal layar, yang akan menghantarkanku pada pelukan laut selat sunda. Di tangan kanan kugenggam sejumput mawar biru. Menunggu senja berakhir, memanggil angin malam yang akan menyaksikan keputus-asaanku.

Perlahan hari menutup kelopak matanya. Memanggil bulan purnama. Di saat semua makhluk laut menikmati malamnya, izinkan aku menjadi harpa yang sebenarnya. Membuai laut dengan rima di tengah malam, menemani jiwa-jiwa sepi yang menunggu seseorang pulang. Izinkan aku menjadi serpihan-serpihan rindu yang terbang bersama jingga, mengunjungi gugusan bintang, menemui mereka yang lama kurindukan. Bulir mataku mengalir.

Aku melompat, seketika teriakan jauh memecah hampa malam. Menggema, menembus nadi-nadiku yang layu. Semuanya berakhir di sini.

“LYRAAAAAA!!!!”

Aku menembus laut, tenggelam bersama mawar biru yang kupegang erat. Aku merasakan pelukan lembut laut. Kusunggingkan senyum. Seketika aku jatuh dalam ilusi, aku berada dalam pelukan ibu. Ayah tersenyum, Volans berdiri di sampingku. Sampai sebuah tangan menggapaiku, merangkulku ke permukaan laut. Mataku sendu.

“Lyra, aku Volans!! Bangunlah Lyraaa!!!” Sisa-sisa gema bersarang di alam bawah sadarku. Perlahan menjemputku yang sedang tenggelam jauh dalam ilusi rindu. Dimensi waktu mengetuk megapixel jiwaku, membangunkan nadi-nadi yang layu.

“Lyra, bangunlaah!! Bukankah kita sudah membuat janji di Mahameru!!?”

Lagi-lagi suara itu mengetuk jiwaku. Berkali-kali. Hingga akhirnya kutersadar. Kukedipkan mataku, pandangku buram, silau, kusibak cahaya putih yang menghalau penglihatanku.

“Volans,, kau kah?”

“Syukurlah Lyra, maaf atas keterlambatanku. Kami dihadang badai semalaman.” Lelaki itu menangis

“Kau memanglah ikan terbang dari gugusan bintang Volans,” gumamku

“Yaa, dan kau tak boleh menjadi harpa senja yang membuatku menelan rindu.” Lelaki itu mengulurkan sesuatu. “Ini cincin permata yang kujanjikan padamu, Nona. Aku dapatkan di Valencia, dan kau tak perlu bertanya bagaimana aku mendapatkannya”

Apakah kau jadi bintang film di sana? Ah sudahlah, kurasa sekarang aku bisa beristirahat,” gumamku sambil berusaha tersenyum.

“Ayo kita pulang, Lyra. Mahameru menunggu kita.” Volans tersenyum.

“Kau memang tak pernah berubah, Volans”

***

 

Pelabuhan Selat Sunda, 15 November 2017

Volans : gugusan bintang, berarti ikan terbang

Lyra    : gugusan bintang, berarti harpa

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *