Rain

(Prolog)

November, 2017

Malam ini langit menurunkan rintik-rintik air, mengguyur wajah bumi yang belum kering betul akibat guyuran pagi tadi. Sesekali kilat menyambar, disusul bunyi petir yang memekakkan telinga. Angin malam seolah ikut berkontribusi, menusuk tulang dengan dinginnya yang membuat tubuh terasa berat untuk bergerak. Pasti akan nikmat jika menghabiskan waktu di saat suasana seperti ini dengan bergelung dalam selimut menuju alam mimpi, atau mungkin menikmati secangkir cokelat panas sambil mendengarkan lagu-lagu klasik. Mungkin untuk orang-orang di luar sana, sebagian besar memang akan menikmati malam seperti ini dengan memanjakan diri di hunian masing-masing. Sayangnya aku bukanlah bagian dari mereka, yang masih bisa tersenyum di malam mencekam seperti ini.

Mencekam? Ah, sepertinya itu bukan pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang kualami saat ini. Gelisah dan tegang. Ya, mungkin itu lebih tepat. Tak perlu kujelaskan pun kurasa orang-orang akan langsung tahu bahwa saat ini aku tengah dilanda kegelisahan dan ketegangan yang tinggi. Itu terlihat jelas dengan bagaimana aku yang tak terhitung jari, berjalan mondar-mandir di koridor yang lengang ini. Lelah mondar-mandir, aku terduduk di kursi dingin yang malah semakin menggetarkan seluruh tubuh. Sambil sesekali menatap lampu di atas pintu tepat di depanku, yang menandakan bahwa orang-orang di dalam sana masih belum selesai menjalankan tugas mereka. Detik berputar dengan lambat, semakin menambah intensitas degup jantung.

pixabay.com

Ibu, aku tahu sebanyak apa pun aku menyebutkan namanya tak akan pernah bisa membuatnya kembali berada di sisiku. Ucapan tentang aku saat masa kecil, yang tak akan pernah bisa lengkap tanpanya bukanlah sebuah bualan semata. Ada kekosongan dan kehampaan saat malam itu Ibu pergi selepas berperang dengan maut, demi mengenalkan adik kecilku pada dunia. Ibu tahu persis bulan-bulan di mana aku selalu antusias menantikan sosok kecil yang masih dia simpan di dalam rahimnya. Usiaku delapan tahun saat Ayah membawanya ke ruang bersalin, di mana aku mengikutinya sambil mencemaskan keadaannya. Tiba-tiba aku merasa sangat menyesal karena telah memaksanya memberikan seorang adik, namun malah membuatnya kesakitan seperti itu. Malam itu, aku duduk di samping Ayah sambil terus berdoa agar ibuku baik-baik saja. Berharap Tuhan mengambil kembali bayi yang ada di kandungannya dan menghilangkan rasa sakitnya. Tak apa aku tak punya seorang adik, asalkan ibuku tak merasakan kesakitan yang membuat degup jantungku menggila hanya karena melihat peluh membanjiri kulit putihnya.

Namun ternyata Tuhan tidak menjawab doaku. Bukan calon adikku yang Dia ambil, namun justru dia yang direnggut paksa dariku. Dari Ayah. Juga dari bayi yang keluar dengan selamat dari rahimnya, tanpa Ibu izinkan untuk melihat wajah Ibu untuk pertama kali dalam hidupnya. Saat itu aku merasa ikut mati. Semua yang ada di dunia ini terasa tidak berarti jika tak ada dia dalam setiap tarikan napasku. Pun Ayah, yang hanya bisa menatap nanar aku dan bayi itu bergantian. Ekspresinya jadi aneh, dan jujur aku benci melihat ekspresi Ayah yang kosong seperti itu. Kami menangis dalam diam, meratapi satu organ paling penting yang dicabut paksa dari tubuh kami. Malam itu hujan pertama kali mengguyur hari cerahku.

Ada saat-saat di mana aku sangat merindukannya. Setengah mati membutuhkan kehadirannya di sisiku saat aku merasa selalu ditinggalkan. Saat-saat penuh rasa kecewa, marah, dan muak bercampur menjadi satu. Aku membutuhkannya seperti rembulan yang membutuhkan kehadiran matahari agar bisa saling berjanji dan saling melengkapi, seperti pohon yang begitu bergantung pada air, seperti ombak yang membutuhkan laut, seperti lebah yang membutuhkan bunga, seperti fajar yang mengharapkan senja agar dapat dipeluknya. Sikapku tak sehangat dulu, bahkan Ayah menjadi jauh tak tersentuh. Aku hanya bisa mengikuti skenario yang Tuhan siapkan untukku, tanpa bisa menolak atau pun menyangkal. Tak ada yang bisa kusalahkan, begitu juga kepada Kinan yang sekecil itu harus menghadapi dunia tanpa pelukan dan gendongan seorang ibu. Meski secara tidak langsung kepergian Ibu juga karena berusaha memperjuangkan Kinan, namun sama sekali aku tak menaruh benci pada adikku itu. Dan semuanya tetap berjalan, meski tak akan pernah sama lagi seperti saat Ibu masih mendekapku erat.

Dan malam ini aku menghadapinya lagi. Sebuah malam penuh kecemasan menantikan seseorang di dalam ruangan sana, yang tengah berjuang untuk membawa sesosok kecil ke dunia baru setelah berbulan-bulan disimpan dalam rahim. Sebuah perjuangan yang menjadi momok menakutkan bagiku selama tujuh belas tahun. Bayang-bayang kesakitan yang tampak jelas di wajah ibuku kembali berputar-putar di kepala seperti kaset rusak sejak detik aku menginjakkan kaki di koridor ini. Rasanya seperti tujuh belas tahun lalu, saat-saat di mana kecemasan memuncak menjadi sebuah ketakutan yang besar dan berakhir dengan tangisan.

Seseorang yang bahkan sampai saat ini pasti tidak ibuku percayai akan mengalaminya lebih dini dibandingkan semestinya. Aku pun juga masih tidak bisa percaya, bahwa di usia belianya dia sudah harus berjuang antara hidup dan mati memperkenalkan janin kecil itu ke pintu gerbang dunia. Aku tahu pasti bahwa Ibu ingin sekali memaki dan menyalahkanku atas apa yang dia alami saat ini di dalam sana. Aku juga. Seandainya ibuku tahu bahwa selama tujuh bulan ini aku tak pernah berhenti menyalahkan diriku sendiri atas apa yang menimpanya dan membuatnya hancur. Aku gagal menjaga dan mempertahankan tanggung jawab atas dirinya. Ini benar-benar membuatku sangat frustasi kalau-kalau ibuku ingin tahu.

Lelah hanya berjalan mondar-mandir, aku terduduk di lantai. Kedua kaki kutekuk dan kupeluk dengan kedua lengan, menghalau dingin yang makin menyergap. Aku menatap lurus kursi-kursi kosong yang terdiam bisu menyaksikan tingkahku sejak beberapa waktu lalu. Dinding bercat putih di sekelilingku juga menatapku dingin, menyeringai mengejek kegundahan hatiku saat ini. Koridor ini masih lengang, tak ada seorang pun yang menemaniku di sini. Selama ini kami memang selalu berdua, tak ada yang bisa benar-benar kami jadikan tempat bersandar sehingga kami memang harus saling menguatkan satu sama lain. Hidup memang kadang tak memberikan kesempatan untuk tersenyum dan bernapas lega. Entahlah, aku lupa kapan terakhir kali aku bisa benar-benar tertawa lepas tanpa memikirkan hal-hal yang mengganjal.

Kubenamkan wajah di atas lutut, mencoba terus berdoa untuk keselamatannya. Entah berapa menit wajahku tenggelam di atas lutut, hingga sebuah tepukan di bahu membuatku spontan mendongak. Aku menghela napas berat, agak kecewa. Dia temanku, yang masih setia berada di samping kami meski tak bisa setiap waktu ada. Ah, kutarik kembali kata-kataku tadi soal kami yang tak punya siapa-siapa. Kami masih punya gadis ini, sebagai orang terdekat yang peduli.

“Kupikir mereka sudah keluar,” ucapku pelan, sambil melirik pintu yang masih tertutup.

“Kamu tampak letih sekali.” bukannya menjawab, gadis ini malah berucap hal lain sembari ikut duduk di lantai, di sampingku.

Aku menghela napas lagi, “Setiap hari kamu selalu mengatakan itu bahwa aku tampak letih. Sekacau itukah kondisi wajahku?”

“Kamu memang selalu kacau, perlu kubawakan cermin?” dia balik bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menatapku dengan mata menyipit.

Aku mendengus pelan, mengacak-acak frustasi rambut yang sudah tiga hari ini tak kucuci. Ah, belakangan ini aku memang jarang memperhatikan keadaanku sendiri. Semua fokusku hanya pada dia yang sangat membutuhkan perhatianku sejak kehancuran itu memukul telak hidupnya. Semua hari yang kujalani sebagian besar terpusat pada seseorang yang sangat berarti dalam hidupku itu. Sampai-sampai aku harus sering menelan obat maag karena jarang memperhatikan pola makan.

Untuk sesaat, suasana di koridor kembali hening. Aku tidak tahu apa yang saat ini dipikirkan oleh Luna saat ini, sementara yang kupikirkan sudah jelas seseorang yang ada di dalam sana. Mataku menatap lurus ke pintu di depan, yang entah kapan akan terbuka. Ketakutan akan kehilangan kembali menghantui pikiranku. Ya, aku sangat takut saat ini. Kehilangan itu rasanya sangat menyakitkan, menorehkan luka pada dinding hati yang sudah robek. Aku sudah teramat sering merasakan kehilangan, tapi itu tak serta merta mengurangi kadar sakitnya. Aku menoleh saat sebuah usapan lembut menyentuh lenganku.

“Na, aku takut.” aku tak peduli suaraku terdengar lemah dan menyedihkan di telinga Luna, tapi yang pasti aku hanya ingin mengutarakan perasaanku.

Aku membasahi bibir yang sejak tadi kering. Luna menatapku lekat, mengusap-usap lenganku untuk menyalurkan ketenangan. Pelupuk mataku memanas, sepertinya pipiku yang baru saja kering oleh air mata kini akan kembali basah lagi. Bibirku bergetar pelan, isak tangis itu kembali keluar tanpa diminta. Aku lelah. Tepat sedetik sebelum tangisku pecah, Luna menarikku ke dalam pelukannya. Dia mengusap-usap punggungku, membiarkanku sesenggukan untuk kesekian kalinya.

“Semua akan baik-baik saja, Rain.”

Orang tuaku memberiku nama Raina Purnamasari, karena aku lahir bertepatan dengan hujan yang turun saat bulan purnama bertahta. Dan sepertinya memang benar kata orang bahwa nama adalah doa, sehingga hidupku benar-benar diselimuti hujan sesuai nama yang diberikan padaku. Terkadang hujan datang berupa gerimis kecil, namun lebih sering berupa rerintikan yang lebat. Bahkan sejak lima tahun terakhir, hujan datang disertai petir dan kilat yang mengerikan. Dan sejak saat itu pula, luka demi luka tergores dalam hati kami. Bahkan dengan kejamnya hujan menyiram luka yang masih basah itu, membuatnya terasa makin perih tak terkira.

***
Bersambung

Oleh: Septi Nofia Sari
Magelang, 16 November 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *