Trotoar Sunyi

 

Dedaunan gugur merangkak diusir angin
Waktu berhenti, menyingkap pelik jejak para merpati
Reranting riuh, digelitik kata kata hampa yang pergi tanpa sajak
Bahkan sepi bingung, ke mana perginya dentangan bait-bait suci yang bergema di suar resonansi

Romansa menyapu lembaran hari
Instrumen enggan menari
Lampu lampu sunyi menangis

pixabay.com

Temaram redup
Rembulan gugup
Opera hujan kalap
Tiang tiang lampu kelu
Ornamen waktu beku
Angin malam bernyanyi
Ribuan kunang menari

Semburat jingga pecah
Ukiran kanvas rengsa
Nekara dermaga bimbang
Ya, menimbang sepi trotoar pirang
Ilusi membekap netra

Jalanan ini semakin sepi
Retak, tak ada lagi cengkerama senja
Tak ada lagi senyuman lama

Kuhanya sepi
Sendiri menanti di kursi elegi
Memandang hari, memangku sepi
Menyesap secangkir kopi
Menunggumu di trotoar sunyi
Di sini, bersama kunang kunang yang menari

Karya: Fury Buhair

Penghujung jalan, 14 November 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *