Sakit

Tuhan, sebelum aku menitipkan ruhku kepada malam, aku ingin mengajukan permohonan.

Kau tentu tak perlu aku beritahu mengenai sakit yang menggelegak. Perasaan lara ini terpatri kuat di denyut nadi. Dadaku seperti ditindih beban berkilo-kilo gram beratnya. Ingatanku rancau, bayangan masa silam kabur melempar di layar waktuku, sementara hari ini aku memikirkan hal yang tidak sepantasnya dipikirkan, mengenai kapan aku terbang, memejamkan mata, menjemput kehidupan yang lebih layak di sisi-Mu? Ah, bukan! Itu sedikit tragis jika jantungku tergeletak sebelum dunia menikahiku. Jika hidupku akan terjejak memanjang seperti rel kereta api, mengapa Engkau tidak mengizinkan gerbong-gerbong lokomotif rasa ini kuisi dengan senyuman manis, kebahagiaan dan sekotak rindu? Mengapa ia penuh dengan penderitaan bertubi-tubi?

Alam raya ini luas. Kau biarkan makhluk hidup menghirup oksigen dunia-Mu tanpa berebut, mereka leluasa hidup. Aku? Mengapa seperti tidak ada udara yang hinggap di rongga dadaku? mungkinkah paru-paruku tersumbat? Ah, jelas itu hal yang mengerikan.
Langkahku gemetaran. Satu tapaknya amat sangat berharga. Di bumi manakah kelak aku akan bermukim mengukir epitaf pada sebuah nisan, di situlah ujung perjuanganku. Usainya hanya akan ada hal sederhana yang kutuang pada cawan-cawan masa kanak-kanak. Biar perjalanan hidupku menjadi sejarah yang didongengkan secara turun-temurun.

Ah, jejak ini, jejak yang disulut bara. Panas meski tidak berapi. Linu amat sangat, membuatnya sukar menuntun langkah. Ia tumbang di sembarang tempat dengan mata terbuka sekilas.
Aku sangat lelah, aku tidak kuat lagi.

Tuhan, aku gagal mengajukan permohonan. Maaf.

Darah Mimpi
Magelang, 15 November 2017.

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *