Air yang Hilang

 

Seberapa jauh Raharjo berjalan menyusuri jalan setapak disamping persawahan yang ada dikaki gunung Wilis itu. Demi sebuah impian tuk dapatkan sebotol air minum yang harapnya begitu menyegarkan ketika dibawa pulang. Dulunya berjalan sedikit saja sudah ditemui banyak air bersih, yang dengan aman dan mudahnya ia konsumsi dari sungai secara langsung. Entah kenapa sungai secara perlahan mengerig dari hari ke hari. Raharjo beberapa kali mencoba untuk menengok sebuah kubangan air di sungai, namun tak ada pilihan lain, selain menyususri sungai itu hingga ujung sumbernya, demi dapatkan air bersih untuk minum tamu–tamunya dari para pejabat kabupaten, yang sengaja berkunjung ke rumahnya untuk sosialisasi pemilihan umum daerah (pilkada) kabupaten. Saking hormat dan senangnya didatangi oleh orang berdasi dan pakaian rapi, Raharjo rela mencari air bersih dengan berlarian berkilo–kilo meter jauhnya.


Sesampainya di hulu sungai, Raharjo menemui sebuah sumber air yang nampak enggan keluarkan air bersihnya. Tiba–tiba Raharjo duduk termenung di sampingnya, tanpa ia sengaja, air matanya jatuh deras di pipinya. Bapak dua anak tersebut tersedu–sedu menangis melihat mata air yang selama ini dikonsumsi oleh penduduk di desanya kini terancam hilang. Ia mencoba berhenti dalam tangisnya, lalu berusaha mengambil air dari sumber air tersebut. Raharjo sengaja tak memenuhi botol yang ia bawa, ia berpikir untuk mengadu pada para pejabat tentang kondisi sumber air yang seakan semakin enggan mengeluarkan airnya untuk keperluan warga di desanya.
Sesampainya di rumah, ia temukan mereka nampak menggerutu kepanasan dan kehausan. Raharjo meminta maaf atas keterlambatannya dalam mengambil air.

 
“Seharusnya bapak cepat mengambil airnya, lihat Pak Bupati menjadi gerah karena rumah yang panas ini,” ungkap seorang ajudan memarahi Raharjo.
“Maaf, sumber air sekarang sudah semakin jauh dan tinggal sedikit air yang keluar.” Jawab Raharjo sambil menundukkan kepala sebagai bentuk rasa sopan karena berbicara dengan seorang bupati.
Para pejabat masih nampak begitu marah dengannya, hingga akhirnya air yang dibawa Raharjo tak ia minum karena dianggap air kotor. Raharjo pun diam sejenak sambil menghela napas panjangnya. Belum selesai ia harus ngos–ngosan berlarian mencarikan air, ia harus menerima perlakuan pahit tamunya sendiri. Seakan ingin mengusirnya, Raharjo mencoba menahan diri, dengan ia tetap tak mengurangi rasa hormatnya kepada beliau.

 
Obrolan pejabat dengan ibu Raharjo kembali berlanjut selama kurang lebih satu jam. Bahkan Raharjo sampai terkantuk jenuh mendengarkannya. Ketika para pejabat tersebut berpamitan tangan Raharjo dipegang erat dengan amplop putih yang berada di antara kedua tangan Raharjo dan pejabat tersebut. Dengan polosnya Raharjo bertanya

 
“Apa maksudnya uang ini, Pak? Kami tak butuh uang bapak,” ungkap Raharjo tegas, ia merasa terhina dengan perlakuan tersebut.
Kesalahannya untuk berlama–lama saat mengambil air tentu bukan karena kesengajaan Raharjo, melainkan karena sumber air yang jauh adanya. “Jika bapak tersinggung atas air yang saya bawa, maka bapak lupa bahwa bapak sendiri yang telah membuat air–air kami semua hilang.” Raharjo membentak pejabat tersebut.

 
“Semenjak program pembangunan alun–alun kabupaten untuk direnovasi biar menjadi daya tarik wisata luar kota, bapak lupa, bahwa kayu–kayu yang dibawa ke kota adalah kayu kami di desa yang sengaja kami rawat untuk menjaga sumber air kami, agar anak dan cucu kami kelak tahu, bahwa kami nenek moyang mereka hidup berdampingan dengan alam.”

 
“Namun kebijakan bapak justru merusak hutan kami, bahkan merasa tak bersalah dengan hilangnya air kami.”
Raharjo kembali mempersilakan duduk para pejabat tersebut, dan menghalanginya untuk pulang ataupun pindah ke rumah tetangganya. Raharjo menuntut mereka untuk menghijaukan kembali desanya. Bahkan Raharjo berani mengecamnya, bahwa di pilkada tahun berikutnya bisa dipastikan penjabat tersebut tak akan bisa menjabat lagi.

 
“Saya kira, banyak yang kecewa dengan kinerja Pak Bupati, silakan keluar dari rumah dan desa saya, kembalilah jika Anda berani bersolusi untuk mengijaukan kembali bumi kami.” Ungkap Raharjo dengan tetesan air mata, diikuti seluruh warga desa yang tanpa diundang hadir ke rumahnya.

Abdul Muhaimin.
Malang, 13 November 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *