Bayi Dalam Gendongan

 

“Ni … na bobok oh ni … na bobok, kalau tidak bobok digigit nyamuk.” Narsih menimang anaknya sambil melantunkan lagu pengiring tidur.
“Bobok ya sayangnya Mama. Sebentar lagi Papa pulang.” Wanita itu menaruh anaknya di atas ranjang.

Di ambang senja, ia duduk di pelataran rumah. Di atas bangku yang terbuat dari anyaman rotan itu Narsih menanti suaminya pulang. Tak lama adzan maghrib menggema di ruang semesta. Narsih belum juga beranjak dari tempatnya. Setengah jam berlalu, wanita bertubuh kurus itu menjingkat kegirangan.

pixabay.com

“Akhirnya kau pulang juga, Mas. Ayo kita makan. Aku sudah masak menu kesukaanmu,” ujar Narsih sambil tersenyum, barisan giginya nampak terlihat. Dikuncinya pintu rumah sebelum menuju meja makan.
“Gimana, Mas? Enakkan sayurnya?” tanyanya “kok gak dimakan, Mas? Kau sakit? Kenapa wajahmu pucat?” Lagi-lagi Narsih bertanya.

Narsih terdiam sejenak kemudian ia menjerit histeris. Dilemparnya piring dan gelas di hadapannya. Kini jeritannya berubah menjadi tangis. Di depan pintu, ibu Narsih tak bisa berbuat apa-apa. Segala usaha telah dilakukan agar anaknya itu bisa menerima kenyataan hidup. Sejak suami dan anaknya tewas dalam kecelakaan mobil, Narsih menjadi depresi. Ia pernah memasung anaknya karena kerap membuat kagaduhan di desanya.

Setiap hari ia menimang sebuah boneka, yang dianggap Narsih itu adalah anaknya. Dan ketika sore menjelang, ia akan duduk di serambi rumah, seolah menanti kedatangan suaminya.

Oleh: Hafiz al Faruqi. T

Lampung, 01 November 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *