Guru di dalam Keterasingan

Orang bertutur jasa di dadanya,

Benih kebaikan ada pada genggamannya,
Dunia mampu ia gerakkan dengan pandangan sekejap mata, punggungnya menunduk, senyumnya mekar, menyanyikan lagu-lagu kebangsaaan, merapalkan harapan-harapan seputar perjuangan, mengabadikan sejarah dalam kantong rupiah.
Malam berujar, bola matanya diletakkan di atas meja, memburu pengetahuan di lembah kegelapan, satu lilin yang meleleh menjadi saksinya menyemayamkan kelopak mata, peristirahatannya adalah bendungan ilmu di kala terang menjelma.


Kicauan burung sumbang ketika esok, merupakan harga dirinya di atas ratapan,
Sepeda tua dituntun, seragam berlubang dilahap rayap masa depan.

Sementara ia tetap berusaha menciptakan pelita di otak-otak pemuda, menyusun bangunan megah di dalam ruangan jerami, menjaring pembelajaran alam, walaupun hujan bernyanyi.
Impiannya sederhana, ia hanya ingin mengepakkan sayap-sayap merpati di ketiak bangsa, ialah burung yang memahami arti kesetiaan rasa.
Darah Mimpi
Magelang, 03 November 2017.

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *