Mengekalkan Rindu

Kau tak datang hari ini.

Dan dan aku sadar setiap kali kau tak datang,

jarum-jarum detik di arlojiku menjelma menjadi menit,

lalu menit menjadi jam dan jam pun silih berganti serasa mengitari hari demi hari.

Aku terpasung dalam rindu.

Aku sadar dari mana kau berasal.

Kegaduhan di pikiranku tak mampu menjelma menjadi apa-apa, kecuali kata-kata yang berserakan tanpa arti, tanpa makna, tanpa arah ke mana ujungnya.

Aku sering kali memintamu memberiku makna, apa saja.

Tapi kau tetap diam, kau hanya memberi senyum.

Lalu perlahan senyummu itu meledak di otakku, berlarian lagi kata-kata yang susah kuatur maknanya.

Aku mencari kamus, namun aku sadar makna senyummu tak terdefinisikan di kamus.

Kucoba berlari ke perpustakaan, namun makna itu semakin berserakan.

Tak jelas apa dan siapa kau ini.

Pernah kucoba untuk mengusirmu dari pikiranku, namun kau selalu datang bagai kisah seribu satu malam yang tiada hentinya.

Aku kembali diam dan mencoba mengingat ketika kau mendongeng. Namun selalu saja, pertanyaan pertama yang selalu menghambatmu bercerita karena tak mampu kujawab hingga sekarang.

 

“KAPAN KAU AKAN PULANG?”

 

Kau kembali diam, lantaran aku tak menjawab pertanyaanmu.

Lalu kau pergi dan tak pernah datang lagi.

Hingga hari ini.

(Untukmu yang selalu bisa kutulis, namun tak pernah bisa kucari maknanya.)

Sapta Arif

Surakarta, November 2017.

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *