Bobong dan Negeri Dongeng

 

Sudah sejak lima hari lalu ia meninggalkan rumahnya, merenung di sana sendirian, di sisi batu yang menjulang tinggi. Binar matanya menatap tepian perairan, menyibak lumut-lumut yang tumbuh subur, mengharap ada satu kuntum keajaiban yang dapat dibawanya pulang untuk diberikan kepada Ibunya. Ia melenguh panjang, mengerjab-ngerjabkan pandangannya yang sudah basah bertambah basah, airmatanya bercampur dengan keruhnya air, ingin sekali ia lompat, namun takdir masih melumpuhkan tangan dan kakinya. Yang ia bisa saat itu hanyalah pasrah.

 

Tidak sanggup ia bayangkan jika ibu yang menemaninya, pulang ke pelukan pemilik kehidupan. Ia masih mengharapkan mampu mengarungi seisi alam dengan lompatan-lompatan yang indah, hinggap di daun kelor, mengombang-ambing di permukaan tubuhnya yang tidak kuat menyangga beban. Ia ingin menjelejahi rawa-rawa, bermalam di dalam semak belukar, duduk di punggung teratai menikmati purnama pertama di langit. Bahkan dirinya berambisi menyusup selokan-selokan pembuangan di alam luar. Tentu bersama Ibu. Ia mendapat gambaran dunia lain dari seekor Agak-agak yang sering terbang di udara. Agak-agak tidak pernah lupa menceritakan pernak-pernik negeri dongeng.

“Bobong!” Panggil Agak-agak sambil memutari angkasa, sayapnya dikepakkan, lantas ia meluncur, hinggap di dahan pohon bakau, memandangnya yang sedang menyeimbangkan tubuh di perairan. “Aku baru saja pulang dari negeri dongeng,”

“Turunlah, ceritakan padaku, aku siap mendengarkannya!”

“Seharusnya kau minta raja waktu untuk segera melahirkan tangan dan kakimu agar kau mampu melompat keluar dari perairan membosankan itu, kau tahu Bobong?” Agak-agak bangkit dari dahan bakau, ia menyeimbangkan tubuh dengan sayapnya di udara, lebih menurunkan tubuhnya agar suaranya terdengar jelas oleh Bobong.

Hutan bakau tempat tinggal Bobong dan ibunya sedang dikuasai mendung. Kabut menitikkan embun. Daun-daun bakau mengandung butiran-butiran air. Agak-agak menggigil, maka ia terbang tak mau berdiam diri, ia berputar di atas Bobong.

Kabut dan hujan sedikit menyusahkan Agak-agak, sebab mereka seringkali memaksanya untuk berteduh di gua-gua Lalawar yang terkadang didiami Ular Naga besar berbahaya. Ular Naga itu tidak pernah kenyang meskipun sudah berpuluh-puluh kali menyantap keluarga Agak-agak.

Ah, kau tahu Anak Adam? Agak-agak sangat menyedihkan, hidupnya dirundung pilu yang paling dalam, populasinya nyaris punah, jarang kau lihat keluarga Agak-agak terbang di sekitar rumahmu bukan? Ya! Tentu saja, selain kebringasan Ular Naga yang merajalela, makhluk-makhluk dari negeri dongeng seringkali menembakinya, matilah sudah! Terkapar di daratan tidak berdaya, mereka langsung membawanya ke perapian, mencabuti bulu-bulunya, terakhir memanggang di atas besi panas. Penyiksaan tidak usai begitu saja, mereka melahap daging keluarga Agak-agak.

Itulah sebabnya Agak-agak sering pergi dari hutan, terbang melayang di pusara langit, mendengungkan suara parau, berteriak memanggil-manggil keluarganya. Sayang, meski sudah bertahun-tahun Agak pulang pergi, tak satu pun keluarganya ditemukan. Maka jangan heran, jika Agak-agak mempunyai segudang kisah tentang negeri dongeng. Bobong dan Agak-agak menyebut luar negeri hutan sebagai negeri dongeng, negeri yang penuh dengan ambisi-ambisi hitam.

“Sudahlah Agak-agak janganlah kau berbelit, ceritakan hal indah untukku. Aku akan menjadi pendengar setia bagi perjalanan panjangmu,” Bobong sudah tidak sabar.

“Aku melihat asap-asap hitam melayang bebas ke angkasa, membuat atmosfer bumi menangis,”

“Asap hitam apa yang kau maksudkan, Agak-agak?”

Agak-agak tertawa melihat binar mata Bobong yang sangat tertarik dengan kisahnya. Demi menghargai sahabatnya itu, Agak-agak lebih menurunkan tubuhnya dari udara, nyaris mendekati permukaan air, makhluk negeri dongeng bisa mengukurnya dengan panjang sepuluh tiga kali kaki mereka.

“Ada sebuah istana kegelapan, di dalamnya makhluk-makhluk itu memproduksi zat-zat kimia yang mampu membunuh populasi hama di hutan-hutan tetangga, namun mereka memakan dan meminumnya, tidak jarang sebagian zat diambil dari alam ini, mereka menggabungkan aneka macam zat untuk mempercepat pertumbuhan kehidupan,”

 

“Lalu apa hubungannya dengan asap hitam yang muncul?”

pixabay.com

            “Ah, Bobong kau seharusnya pergi ke negeri ijazah agar pemahamanmu tidak lelet seperti makhluk-makhluk malas itu,” Agak-agak sedikit kesal.

“Jelaskan lebih rinci, Agak-agak. Aku sungguh tidak paham, dan apa pula itu negeri ijazah?”

“Sudahlah kau tidak perlu tahu negeri ijazah, itu akan membuatmu pusing. Makhluk-makhluk di sana menghabiskan masa muda mereka di bangku-bangku negeri itu, duduk mendengarkan cerita-cerita dari masa depan, sebagian mendengarkan dengan serius, juga lebih banyak yang hanya berpura-pura mendengarkannya. Jika mereka sudah tua, maka mereka keluar menyodorkan sebuah lembaran ke kerajaan kegelapan, mereka berkompetensi memperebutkan kursi kerajaan agar mampu mengolah zat-zat yang kumaksudkan tadi.” Jelas Agak-agak. Bobong mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencerna semua perkataan Agak-agak, belajar memahaminya. Tubuhnya berputar di dalam air, menggerakkan sirip-siripnya, mencari kenyamanan posisi tubuh untuk berpikir.

“Dampak apa yang akan terjadi jika asap-asap itu terus muncul?”

“Alam raya akan panas, seluruh keluarga kita bisa saja mati. Kau tahu Bobong, hujan yang membuatmu hangat dan membuatku kedinginan itu akan datang secara tiba-tiba karena atmosfer rusak. Cuaca di muka bumi ini menjadi susah untuk kita perkirakan seperti tahun-tahun sebelumnya, dan aku harap zat itu juga tidak sampai ke perairan, jika iya, kerajaan ikan di lautan, kerajaan kepiting, kerajaan raksasa hiu, kerajaan keluargamu, Bong, juga kerajaan populasi lain akan binasah, zat-zat itu mematikan, membuat pening kepala. Menusuk-nusuk di dalam tubuh, seolah bereinkarnasi menjadi jarum-jarum seusai dicerna. Zat itu racun!”

Itu kisah Agak-agak tempo dulu. Bulan berganti, purnama telah bersinar beberapa waktu yang lalu. Bobong yang semula riang mendadak menjadi makhluk yang pendiam. Tiga hari yang lalu ia bersama ibunya nekat mengadakan perjalanan yang sedikit panjang. Melintasi batu-batuan di dasar perairan, berenang di sela-sela akar teratai, menghindari benturan-benturan dari sampah makhluk negeri dongeng. Mereka berdua ingin menepi, menikmati daratan, mengintip negeri dongeng.

Selain istana kegelapan, Agak-agak juga bercerita bahwa di negeri dongeng banyak benda indah. Ada bangunan raksasa yang tidak berdahan dan berdaun, ia tidak pernah berkembang menjadi lebih besar atau menyusut menjadi lebih kecil selama bertahun-tahun. Logika Bobong jika usia makhluk hidup bertambah maka obyek itu akan mengecil, meranggaskan daun-daun, kering kerontang, dimakan rayap, dimakan cacing, mengundang belatung, kemudian berakhir. Namun cerita Agak-agak lain, walaupun bangunan raksasa itu sudah berumur tua ia tetap mempunyai ukuran yang sama. Sungguh menakjubkan. Apakah itu?

“Kotak beroda.” Kata Agak-agak suatu hari.

Bobong terpesona. Ia ingin sekali melihat kotak beroda yang berjalan terus menerus di daratan. Tidak pernah kenal lelah. Kecepatannya melebihi kepakan sayap Agak-agak. Sungguh luar biasa.

“Di negeri dongeng, ada pula makhluk yang menciptakan bunga-bunga cahaya. Bunga-bunga itu dipajang di jalanan, di pinggir-pinggir kerajaan, di sisi-sisi istana. Kau tahu Bobong? Bunga cahaya bersinar lebih terang dari kunang-kunang. Warna cahanya pun beraneka ragam, lebih banyak dari jumlah warna pelangi yang hanya tujuh rupa, bunga cahaya puluhan jumlahnya. Ada ungu, ada biru, merah, putih, kuning, hijau, nila, jingga, abu-abu, dan lain-lain, Bobong. Aku tidak sanggup menghapal keseluruhan warna bunga-bunga cahaya. Yang jelas mereka bertebaran di negeri dongeng, ukurannya pun bermacam-macam. Ada yang lonjong, persegi, berbentuk seperti teratai, seperti burung, seperti ular, seperti makhluk itu… ah pokoknya macam-macam, dan itu sangat indah! Mereka  menyebutnya, Elampu, ya! Bunga cahaya itu mereka namai Elampu! Nama yang kurang menarik, aku lebih suka menyebutnya bunga cahaya.”
Bobong semakin tergila-gila. Ia ingin secepat mungkin tiba di negeri dongeng. Kisah Agak-agak tempo dulu menumbuhkan imajinasi-imajinasi liar seputar bunga cahaya dan negeri Ijazah serta negeri menyeramkan, kerajaan kegelapan. Bagaimanapun caranya ia harus tiba di tempat itu agar rasa penasaran dan ketakjubannya berkurang.

Sayangnya ia disambut malapetaka sebelum tiba di negeri dongeng. Ibunya terjebak di dalam sebuah kantong transparan, ada cairan merah di dalamnya, entah zat apa yang dibuang bersama kantong tersebut, yang jelas sebagian cairan itu masuk ke mulut Ibu Bobong, dalam sekejab Ibu Bobong terkulai lemas, lamat-lamat ia memejamkan mata, tubuhnya tak lagi mempunyai keseimbangan, perlahan jatuh tenggelam.

“Ibu! Ibu! Ada apa Ibu?” Bobong segera menyeret tubuh Ibunya dengan siripnya. Ia menjauhi kantong transparan itu. “Ibu, sadarlah, kau tidak apa-apa?” Tidak ada jawaban. Perairan hening.

Kantong-kantong itu rupanya berjumlah ratusan. Bobong mengubur impiannya yang ingin berkunjung ke negeri dongeng. Ia kembali pulang ke rumahnya. Di perairan tenang, tepat di sisi hutan bakau. Bobong menidurkan tubuh Ibu di antara akar-akar teratai. Tubuhnya digantungkan di bawah daun teratai agar tidak tenggelam.

“Ibu jangan tinggalkan Bobong!” Lagi-lagi tidak ada yang menyahut. Entah mengapa Bobong sangat yakin bahwa zat tersebut adalah kiriman dari makhluk negeri dongeng. Ia meninggalkan ibunya, berenang mendekati permukaan, menuju tempat di mana dirinya dan Agak-agak berbincang. Ia ingin bertanya kepada Agak-agak, adakah ramuan penawar yang dibuat makhluk negeri dongeng? Jika iya, ia ingin meminta tolong, bawakanlah untuk ibunya yang sedang sekarat.

Lima hari Bobong menunggu, yang ditunggu tidak kunjung datang. Ia meneteskan kepedihan. Meratapi nasib malang Ibunya. Merasa bersalah karena mengajak Ibunya berpetualang menuju negeri dongeng.

“Agak-agak, apakah udara yang kau tinggali terkena asap hitam itu? Masihkah kau hidup di luar sana?” gumam Bobong pesimis. Air matanya menyatu dengan air tempat tinggalnya.

“Bobong! Bobong!” Panggil seekor Bul-bul yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Wajahnya pias, kakinya melambai gemetaran. “Pulanglah, Ibumu meninggal, Bong!”
Dunia cair mendadak gelap. Bobong menangis lepas. Waktu tidak peduli. Alam acuh tak acuh.

Darah Mimpi

Magelang, 23 Oktober 2017.

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *