Kunang-kunang

 

Satu hal yang kurindukan ketika pulang kampung adalah kunang-kunang. Kota rantau menjanjikan sejuta impian. Tapi di kampunglah ketenangan hakiki itu ada. Ketika sedang gundah gulana aku biasa pergi ke sawah dan ladang untuk mencari kunang-kunang.

Selain kupu-kupu aku menyukai kunang-kunang. Bukan karena keduanya bisa terbang, melainkan kunang-kunang bercahaya. Puluhan kunang-kunang terbang bergerombol pada malam hari.

pixabay.com

Dahulu semasa kecil, aku memburu kunang-kunang di tepi rawa bersama teman-teman. Aku dan teman-teman berlarian sambil membawa jaring. Malam yang sepi kala itu terhenyak. Derap langkah kaki menginjak rumput dan ilalang. Sekuat kita mengejar gerombolan kunang-kunang terbang melangit. Cahya kuning keemasan berpijar, kerlap-kerlip di langit malam.

Setelah sepuluh tahun berlalu. Ladang ilalang dekat rawa sudah dibabat dibangun perumahan. Rawa itu masih. Tapi sekarang tidak jernih lagi, mulai keruh. Warga sekitar sering membuang sampah ke rawa. Kabar terakhir dari lurah setempat rawa itu juga akan diurug, dibangun perumahan elit. Begitulah gambaran desaku. Perlahan tapi pasti dampak pembangunan yang tadinya berpusat di kota meluber ke pedesaan. Akan sulit rasanya aku melihat kunang-kunang.

Seperti malam ini, aku susuri jalanan desa yang sepi. Aku masuk ke lorong-lorong gang, lapangan desa, sampai perbatasan desa. Tak aku lihat kunang-kunang…
bersambung..

Karya: Winda Efanur Fs

2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *