Arjuno Merindu (V)

Bagaskara sedang berjalan seorang diri menyusuri hijaunya perkebunan milik penduduk. Langkahnya mantap, ada sesuatu yang hendak dijemputnya dimana sesuatu itu nanti akan menjadi saksi bisu perjalanannya.

Langit berawan namun tak bertanda hujan, Bagaskara terus melangkahkan kaki tanpa perduli perutnya yang meronta-ronta. Sudah dua hari lebih ia berjalan. Tanpa ditemani siapa pun.

Awalnya Dwaramukti hendak menemani, namun ditolak dengan halus oleh Bagaskara dan meminta supaya Dwaramukti menemani Bopo Guru Purbaya melatih para murid.

Bagaskara sudah terbiasa berkelana sendiri sebelum ia mengabdi pada Ki Purbaya. Tekadnya menimba ilmu begitu mengakar dalam sanubarinya. Dia terdidik untuk berpendirian teguh dalam meraih cita-cita, tentu ia menginginkan masa depan yang lebih baik.

Sama halnya dalam kelananya kali ini. Tanpa mengenal badan basah oleh air hujan, kepanasan teriknya sang surya. Terjalnya lembah perbukitan serta derasnya arus sungai bukan lagi hambatan.

“Semoga aku bisa melihatnya walau separuh” ujarnya dalam hati.

Sampailah Bagaskara di sebuah persawahan nan menghijau. Hari sudah menjelang senja. Mega merah mulai tersenyum di cakrawala sehingga tak dilihatnya para petani. Kalaupun ada hanya satu dua orang. Pandangannya menyapu sekitar persawahan, dia melihat dua orang petani berjalan menyusuri jalan. Jalan yang agak gelap karena dikelilingi rimbunan bambu kuning.

Dia berniatan mengikuti dua orang itu, dengan tujuan mencari tempat bermalam. Lima langkah dari tempatnya berhenti ada suara menegurnya.

“Berhenti kisanak !”

Bagaskara menghentikan langkahnya, dia tengok kanan dan kiri tak ada siapapun. Wajahnya menampakkan curiga, namun dia tetap tenang.

“Siapa itu ? Keluarlah jangan bersembunyi. Jika kau ada maksud baik, mari bertatap muka.”

Dari balik semak muncullah seorang pemuda berwajah teduh, badannya tegap dan gagah. Rambutnya diikat, alisnya tebal. Wajahnya bersih dari kumis, kulitnya sawo matang. Di punggungnya terselip sebuah pedang berukuran agak besar dan panjang. Sepintas mirip pedang samurai.

“Ada perlu apa kisanak menghentikan langkah saya ? Siapa kisanak ini ?”

“Aku Respati dari Purwa Kencana. Salam jumpaku wahai saudara.”

Respati mengulurkan tangan, Bagaskara segera menjabatnya. Pikiran curiganya agak hilang, karena Respati begitu ramah.

“Aku Bagaskara dari padepokan Gunung Malang. Kisanak mau kemana ?”

“Aku bermaksud mencari pertolongan. Jauh dari Purwa Kencana, setiap pelosok Bumi Brang Wetang telah aku jelajahi. Belum juga aku menemukan yang sesuai. Aku harap kau adalah orang yang dikirim Yang Maha Kuasa untuk membantuku”.

Bagaskara mulai menangkap maksud dari Respati. Pelarian Purwa Kencana ini hendak meminta bantuannya, dia berpikir mungkin akan diminta membantu mengusir musuh ataupun melenyapkan pagebluk.

“Ada baiknya kisanak ikut denganku. Kita cari penginapan sambil membicarakan apa yang kisanak butuhkan”

“ Baiklah”

Pendekar Respati menerima ajakan Bagaskara dengan senang hati, mereka berjalan menyusuri persawahan untuk mencari jalan menuju perkampungan.

Sisa-sisa mega merah di cakrawala sedikit membantu mereka mencari jalan menuju perkampungan hingga sampailah mereka di wilayah Kepanjian.

Kepanjian adalah wilayah Kotaraja, tempat inilah yang menjadi tujuan Bagaskara. Kedatangannya untuk sowan kepada Empu Taruwangsa.

Mereka menetap sejenak di sebuah kedai di perempatan jalan Kotaraja. Sembari mencari keterangan tentang kediaman Empu Taruwangsa.

Dari keterangan beberapa penduduk sekitar, Bagaskara mengetahui bahwa Empu Taruwangsa menetap di belakang kedaton. Tanpa menunggu lama, segera ia mengajak Respati untuk menuju ke sana.

Sampailah mereka di depan kediaman Empu Taruwangsa, gubuknya sederhana namun nampak sedikit mewah. Empu Taruwangsa merupakan salah satu orang kepercayaan Adipati Rangga Tahjiwa yang sangat dikasihi.

Bagaskara dan Respati belum memasuki pekarangan, Empu Taruwangsa tiba-tiba membuka pintu gubuknya. Wajahnya yang agak tua namun terlihat teduh, ia mengembangkan senyum pada kedua pendekar itu.

“Masuklah, aku sudah menunggu.”

Setelah dipersilahkan, mereka duduk di balai tengah. Empu Taruwangsa mengeluarkan sebilah keris yang baru saja selesai dibuat. Tapi keris ini tak mempunyai wrangka alias telanjang.

“Keris ini tak ada wrangkanya, berdasarkan petunjuk yang kudapat wrangkanya terpisah. Dan aku tidak boleh membuatnya, karena di tempat lain sudah ada yang menyiapkan wrangkanya”.

“Siapa orangnya Ki? Dan kemana saya harus mencarinya ?”

Empu Taruwangsa terdiam beberapa saat sambil memandangi keris yang ada di tangannya. Kemudian dia manggut-manggut.

“Pergilah ke arah barat, wilayah Ringin Putih dekat Gunung Pandan. Wrangka itu ditangan seorang gadis, bernama Sitaresmi. Simpanlah keris itu di dalam kain putih ini. Jangan sampai uwal dari tanganmu, ngger”.

Empu Taruwangsa menyerahkan keris yang terbungkus kain mori putih. Bagaskara menerima dengan hati berdebar, terasa betapa kuatnya daya yang terkandung dalam pusaka itu.

“Pusaka ini belum aku beri nama ngger. Berilah nama setelah kau menemukan wrangkanya nanti”.

“Baiklah, Ki. Sebelumnya saya berterima kasih banyak atas bantuan panjenengan”, kata Bagaskara sembari menyerahkan sekantung uang kepada Empu Taruwangsa.

Empu Taruwangsa tersenyum sambil menerima sekantung uang itu. Kemudian Nyai Taruwangsa keluar sambil membawa nampan berisi singkong rebus dan minuman jahe.

“Monggo disambi dulu”, seru Empu Taruwangsa.

Bagaskara dan Respati menikmati hidangan yang disediakan, sesekali mereka melirik berbagai keris yang terpajang di dinding gubuk. Nampak mengkilat dan punya daya linuwih.

Beberapa saat kemudian, Bagaskara dan Respati memohon pamit akan meneruskan perjalanan. Namun, Empu Taruwangsa menyarankan supaya mereka bermalam di tempatnya. Wilayah sekitar Kadipaten sedang tidak aman akhir-akhir ini.

Bagaskara dan Respati saling berpandangan, kemudian mereka sepakat untuk menginap di tempat Empu Taruwangsa.

————————-

Bersambung… 

 

 

 

 

 

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *