Arjuno Merindu (IV)

Kepatihan Purwa Kencana,

Raden Jayengrasa gundah hatinya, alam pikirannya kacau. Singgasana Purwa Kencana telah bersemayam di tangan kakaknya, Raden Jayengkusuma. Ditambah lagi Wulandari, gadis yang lama diidamkannya kini malah menjadi istri kakaknya.

Istana yang megah terasa neraka baginya. Setiap dia melewati taman kaputren tempat dimana Wulandari berada, hatinya semakin teriris. Memang gadis dari Tegalwening itu telah berhasil luluh akan kewibawaan kakaknya.

Sedangkan Jayengrasa sendiri tak pernah sepatah katapun terucap dari bibirnya, rasa cintanya pada Wulandari hanya dipendam dalam hati. Inilah yang ia sesalkan, kenapa dulu ia hanya terobsesi untuk memikirkan dampar panguwasa.

Lebih-lebih, kakaknya Jayengkusuma adalah anak langsung dari garwo Adipati Purba Sewaka. Sedangkan dirinya putra dari selir Asmarawati.

“Bodoh! Andai aku dulu berterus terang tak akan begini.”

Jayeng Rasa marah-marah pada dirinya sendiri. Dia tendangi meja dan kursi yang ada di wisma kepatihan itu. Kepalanya panas, hatinya menguap.

“Hamba yang menghadap, Raden.”

Kedatangan Patih Basunanda sedikit meredam amarah Jayengrasa. Namun Jayengrasa hanya menatap patihnya dengan pandangan sinis.

“Ada apa? Tanpa aku panggil kau menghadapku. Beraninya ! Mana unggah-unguhmu sebagai patih ?”

Jayengrasa kembali meluap-luap amarahnya. Patih Basunanda berusaha menenangkan bendaranya itu, dia tahu akan persoalan yang kalut sedang dihadapi oleh Jayengrasa.

“Sampun, Raden. Masih ada kesempatan untuk kembali bangkit. Sinuwun tidak kurang dalam hal ilmu, strategi pemerintahan bahkan kecakapan. Saya rasa sudah sesuai.”

“Kau pikir gampang menggulingkan kekuasaan disini ? Kau pikir semudah membalikkan telapak tangan? Jangan mengkhayal kau, Basunanda !”.

Patih Basunanda kembali dihujam amarah bendaranya. Setiap kata yang terucap dari bibirnya adalah suatu kesalahan. Dia cari cara agar bendaranya itu tidak beringas terus menerus.

“Harta, tahta dan wanita itu sudah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan ibaratnya. Jika Raden menginginkan kehidupan mulia kejarlah semua itu”

Jayengrasa terdiam. Dia tak menghiraukan Basunanda yang sedari tadi berkicau dengan tujuan meredam amarahnya. Jayengrasa memandang ke arah Kaputren yang jaraknya hanya dipisah oleh pagar bata.

Dilihatnya Jayengkusuma sedang memadu kasih bersama Wulandari. Mata Jayengrasa seperti ditusuk lalu tusukan itu merobek lubuk hatinya, tangannya mengepal rapat. Giginya gemerutuk. Hembusan nafasnya riuh redam.

Betul betul suatu musibah baginya ketika harus melihat pemandangan semacam itu. Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai.

Otaknya yang dipenuhi ambisi jabatan membuat hatinya buta. Perilakunya beringas macam hewan buas yang tak terkendali, hingga berlanjut dimana dulu Wulandari menolak cinta kasihnya.

Patih Basunanda hanya diam menunduk. Bibirnya tidak lagi meracau seperti awal, kini terkunci rapat. Sudah sedemikian panasnya jiwa Jayengrasa. Wisma kepatihan yang di kelilingi taman bunga justru makin membakar hati Jayengrasa.

“Sekali hitam tak akan berubah putih!”

Jayengrasa menarik keris yang ia selipkan di pinggangnya, sinar matanya berapi-api. Ujung kerisnya sudah haus akan nyawa manusia. Namun dengan segera, patih Basunanda menghentikan langkah Jayengrasa.

“Jangan buru-buru, Raden. Ibarat orang mencari ikan, dapatkan ikannya jangan sampai keruh airnya”

Kalimat Basunanda pun membuat Jayengrasa berhenti. Disarungkannya keris itu, lalu dia menatap Basunanda dengan tatapan tajam.

“Kalau paman masih mau tinggal di Jenggalapura, bantu aku mendapatkan singgasanaku yang hilang!”

Setelah berucap demikian, Jayengrasa berlalu meninggalkan Patih Basunanda di wisma kepatihan. Patih Basunanda jatuh terduduk, dia pegangi keningnya. Tak beberapa lama dia tersenyum licik. Manggut-manggut.

Baginya bukan perkara sulit jika membantu meluluskan keinginan Jayengrasa. Dia patih kawakan yang sudah banyak makan garam. Di sisi lain, Patih Basunanda kurang suka dengan Jayengkusuma, sebab ia merasa kebijaksanaan yang dibuat Jayengkusuma tak pernah menguntungkan.

Dia genggam kedua tangannya sambil melirik sekilas ke arah taman kaputren. Bersama senja merah ia berlalu meninggalkan wisma kepatihan menyusul bendaranya Jayengrasa.

Dari balik pagar bata muncullah Respati, abdi dalem serta telik sandi kepercayaan Jayengkusuma. Jiwanya selalu terpanggil kala kemelut menerjang di Jenggalapura.

Sekian banyak pembicaraan yang berlangsung di wisma kepatihan tadi ia simpan baik-baik. Dia butuh waktu pula untuk menjelaskan soal ini pada sinuwun Jayengkusuma. Dia akan terus mengintai gerak-gerik Jayengrasa dan Patih Basunanda.

——————————

Pasowanan agung Purwa Kencana

Adipati Jayengkusuma sedang melangsungkan pasowanan agung di Balai Utama. Prameswari Wulandari senantiasa mendampinginya, berikut Ibu Selir Asmarawati dan Raden Jayengrasa yang menampakkan sikap dingin. Patih Basunanda bersikap seolah-olah begitu patuh pada Jayengkusuma.

Para kawula, Tumenggung hingga abdi dalem memberikan laporan kinerja dengan runtut tanpa terkecuali. Tiba-tiba pasowanan yang khidmat itu digegerkan dengan terlemparnya dua prajurit yang kemudian terjerembab di tangga masuk wisma utama.

Dua prajurit itu tewas sebab golok tertancap di perut mereka. Darah berhamburan membasahi tangga pasewakan. Raden Jayengkusuma berdiri dari dampar kencananya, dampyak-dampyak para kawula segera mendekati mayat prajurit jaga itu.

“Siapa yang telah melakukan ini?”, Raden Jayengkusuma tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dua prajurit jaga yang tangguh telah tewas dengan misterius, tanpa diketahui siapa pelakunya.

Belum hilang rasa penasaran Jayengkusuma, datanglah angin kencang disusul munculnya sosok tak diundang. Seorang wanita berperawakan mengerikan, mata merah menyala rambut lusuh tak karuan. Kukunya panjang menghitam, dengan mengenakan jubah hitam.

Lehernya dililit oleh usus, usus manusia yang berlumuran darah. Bau anyir pun membius nafas para kawula yang terpaku dalam kengerian. Berdiri di atas gapura masuk ke Kadipaten.

“Aku yang membunuh mereka!”

Wanita itu menatap semua kawula dengan tatapan tajam seakan hendak menerkam. Adipati Jayengkusuma bersiap, tak ada gentar sedikitpun. Dia perintahkan supaya para kawula mundur.

“Siapa yang bernama Jayengkusuma? Tunjukkan tampangnya di hadapanku!”

“Akulah Jayengkusuma. Kedatanganmu kemari tanpa ku undang, kau membawa kematian bagi kawulaku. Setan atau manusiakah dirimu ini?”

“ Keparat Jayengkusuma!”

Wanita itu melompat dari atas gapura lalu melantai ke hadapan Adipati Jayengkusuma. Dia bersiap akan menghabisi nyawa Adipati cakap itu.

“Serahkan tahtamu atau kau akan berakhir !”

“Kau bukan trah keluarga Purwa Kencana berani meminta singgasana. Atas dasar perintah siapa ?”

“Jayengrasa dan Basunanda !”

Sambaran petir di siang hari menjalar di dada para kawula, termasuk Jayengkusuma. Tak disangka, saudara tirinya akan menggulingkan singgasana lewat tangan-tangan setan yang bisa ditampar dengan sekantung uang.

Jayengkusuma menoleh ke belakang sejenak, tak dilihatnya wujud Jayengrasa apalagi Patih Basunanda. Saat berbalik, dilihatnya Jayengrasa dan Basunanda berdiri tegak di belakang wanita berkalung usus itu.

“Buka mata dan pasang telingamu, Kang Mas! Mulai hari ini dampar Kadipaten Purwa Kencana ada ditanganku. Jika kang Mas menyerah maka aku ampuni dan aku muliakan. Jika kang Mas enggan menyerahkan singgasana itu, jangan mimpi bisa menghirup udara segar kembali !”

Jayengkusuma tak segera menjawab ancaman yang dilontarkan Jayengrasa. Setan alas yang gila pangkat itu tak bisa dianggapnya remeh, musuh dalam selimut. Apalagi patihnya yang bermuka dua dan berlidah ular ikut andil dalam kudeta ini.

“Respati, kemarilah!”

Jayengkusuma memanggil abdi kepercayaannya. Kemudian dia memerintahkan Respati untuk mengamankan kawula perempuan, lebih-lebih Wulandari istri yang dicintainya.

“Kalaupun aku nanti tumbang, bawa lari gustimu Wulandari sejauh mungkin.”

“Sendika dhawuh, Kanjeng” sahut Respati dengan raut muka ketakutan. Segera ia bergegas mengamankan kawula yang lain.

“Paman Sanagiri, jangan mundur sejangkahpun. Pimpinlah pengepungan.”

Tumenggung Sanagiri selaku senopati pun cepat bergerak pula. Musuh yang dihadapi sekarang bukan lawan manca, tapi terhitung bendaranya sendiri.

Jayengkusuma memberi komando pada para prajurit dan Tumenggung untuk siaga. Jumlahnya seimbang, separuh prajurit membela Adipati yang sah. Separuhnya lagi ada di naungan setan Jayengrasa.

“Tadah kala mangsa!”

Prajurit berkuda bersenjatakan pedang perak langsung mengepung pasukan Jayengrasa. Wanita berkalung usus itu langsut melompat dan membumbung ke udara. Jubah hitamnya ia hempaskan sehingga mengacaukan gerak prajurit Jayengkusuma,

Medan pertempuran sedikit ada celah, pasukan setan Jayengrasa bergerak untuk menguasai palagan. Tumenggung Sanagiri yang menjadi panglima andalan  membabat separuh prajurit bawahan Jayengrasa.

Patih Basunanda juga lincah memainkan pedangnya, satu persatu prajurit dalem jatuh bersimbah darah. Melihat pasukannya berkurang, Tumenggung Sanagiri pun memberi isyarat pengepungan meruncing. Dimana dia ada di barisan depan dan prajurit membentuk barisan segitiga.

Wanita berkalung usus tak mau tinggal diam, dia menyerang Jayengkusuma habis-habisan.

Digunakanlah Cakar Maranggi miliknya, dimana kukunya itu bisa memanjang dengan sendirinya. Jayengkusuma agak sedikit kuwalahan menghadapi serangan Cakar Maranggi. Wanita berkalung usus itu berapi-api, gerakannya gesit. Badannya tak mampu ditembus tajamnya pucuk senjata.

Seketika banyak korban bergelimpangan, halaman kadipaten dipenuhi dengan manusia yang tergeletak dengan bersimbah darah. Prajurit pun kocar-kacir.

——————————-

            “Tak usah dilanjutkan baku hantam ini. Jayengrasa, ambillah singgasana ini kalau itu membuatmu senang. Bila perlu seisinya”

Para kawula tercengang mendengar jawaban Jayengkusuma, sementara Jayengrasa tertawa terbahak-bahak karena keinginannya telah tercapai.

Jayengkusuma berdiri di tengah puting beliung kadipaten Purwa Kencana, wibawanya mungkin saja turun di mata andahannya.

“Sungguh tak kusangka kau saudara yang murah hati Kang mas. Kalaupun sejak awal demikian, tentu tak akan membawa banyak korban bukan ? Hahahaha lain kali dipikir lagi Kang Mas kalau hendak bertindak”

Jayengrasa menghina kakaknya di hadapan orang banyak, namun ia tak perduli. Hati dan pikirannya sudah tenggelam dalam ambisi kekuasaan. Saat itu juga, keris pusaka Nagarunting dan baju keprabon diserahkan kepada Jayengrasa.

Disaksikan para kawula dan sisa prajurit yang masih hidup,  Jayengrasa mengenakan baju kebesaran sang Adipati warisan dari Ayahandanya.

Belum lama ia memakainya, sekujur badannya terasa dikuliti. Baju kebesaran mendiang Adipati Purba Sewaka betul-betul memiliki daya yang tak biasa. Jayengrasa merasa kesakitan dan tidak nyaman dengan baju itu.

Dengan cekatan dilepaslah baju itu lalu ia lemparkan tepat di wajah Jayengkusuma. Ia marah-marah pada kakaknya yang berdiri mematung di tengah-tengah mata para kawula.

“Kakakmu ini berniat mencelakakanmu, Jayengrasa. Habisi saja daripada menjadi duri dalam dagingmu !”

Suara wanita berkalung usus yang dengan lantang menggetarkan wisma utama Purwa Kencana. Semua yang mendengar tersihir dengan ucapan itu, Jayengrasa yang diliputi nafsu amarah tak banyak berpikir.

Dia raba keris dipinggulnya, bersiap dia hunuskan ke arah kakaknya. Jayengrasa merangsak maju tanpa perduli siapa yang ia serang. Jayengkusuma tidak menghindar, dia biarkan ujung keris adiknya melaju ke badannya.

Keris milik Jayengrasa sudah berulang kali menjemput nyawa, namun kali ini tidak. Tubuh Jayengkusuma tak mempan dihunus keris. Badannya tetap utuh, keris itu pun akhirnya patah.

Jayengrasa tidak terima,dia telah kehilangan pusaka yang menjadi kawannya selama ini. Tanpa menunggu lama dia hujamkan pukulan ke arah Jayengkusuma.

Jayengkusuma terpaksa meladeni adik tirinya yang ambisinya tak pernah padam itu. Kesaktian yang beradu menjadi pertunjukan di wisma utama. Di belakang kursi Adipati, Respati tetap mengawasi jalannya perkelahian.

Wanita berkalung usus yang menjadi pelindung Jayengrasa memerintahkan Patih Basunanda menangkap pengintai di balik singgasana. Agaknya mata wanita ini begitu tajam.

Patih Basunanda segera menangkap Respati, namun sang buruan berhasil lolos setelah memukul tengkuk Patih Basunanda dengan payung agung Kadipaten yang tertancap di samping kursi Adipati.

Patih Basunanda jatuh tersungkur, para kawula segera bergerak menolongnya. Sementara Jayengkusuma tetap berkelahi melawan Jayengrasa.

Wanita berkalung usus itu sudah tidak tahan lagi, dia malas melihat pertunjukan macam itu. Disabetkannya jubah hitamnya hingga Raden Jayengkusuma terpental ke dinding pagar Kadipaten. Lalu dililitnya badan Jayengkusuma kemudian ia lemparkan jauh ke arah selatan.

Jayengrasa lega karena kakaknya sudah dilenyapkan dengan bantuan wanita berkalung usus itu. Pandangannya kemudian tertuju ke arah luar dinding kadipaten. Dilihatnya Respati lari bersama Wulandari. Wanita berkalung usus segera melompat dan melayang dengan jubah hitamnya. Menangkap Wulandari.

“ Wulandari melarikan diri. Kejar dia ngger !”

Jayengrasa tak membiarkan wanita berkalung usus itu menangkap Wulandari, khawatir jika Wulandari malah dibunuhnya. Dengan menunggang jaran putih manggolosenzzzz ia menerobos pekatnya kabut demi mendapat kembang kaputren yang lama diidamkannya.

Ibu selir Asmarawati yang sedari tadi di dalam kaputren bukannya menjaga dan menenangkan Wulandari. Tak disangka bahwa ia begitu membenci istri Jayengkusuma itu. Sakit hati yang dirasa putranya, jayengrasa atas penolakan Wulandari begitu membekas dan abadi dalam sanubarinya.

“Pemandangan macam apa ini ? Sekembalimu kesini akan kulenyapkan kau Wulandari!”

————————-

 

 

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *