Ia Pulang, Lalu Pergi

Ia pulang, membawa oleh-oleh rindu yang mungkin akan kau buang,

Tuhan! Ia pulang, usai melalang meraih impian di pinggir-pinggir jalan,

Waktu, ia pulang, menyelesaikan kehancuran egonya yang mengikis nalar.

Namun kepulangannya tak akan lama, ia kembali merangsek ransel, menelusuri gang-gang bumi berpenghuni ilusi, pergi menjelajahi dunia kata demi pertiwi.

Maaf, bukan ia tak cukup merindu, terpaksa ia punggungi rumah kelahiran,

Lagi…

Bukan sebab ia tak cinta, melainkan ia terlanjur luka.

Pernah pada suatu masa ia toreh mimpi di serpihan kaca hatimu, dan kau menginjaknya dengan lidah keputus asaanmu.

Ia retak, kepingnya terserak di sudut-sudut tersembunyi, mengambangkan intuisi, melakukan percobaan menghidupkan jasa yang abadi.

Sekali lagi, maaf sebab rindunya tidak pernah memiliki ruang untuk pulang.

Semarang, 2017.

Darah Mimpi

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *