Arjuno Merindu (III)

Bulan baru saja menampakkan wajahnya. Langit yang hitam membiru tampak ceria dengan hiasan sinar sang candra. Semilir angin berhembus menderu–deru.  Menerpa ranting dan dedaunan untuk bersenandung di malam yang sunyi.

Di sebuah gubuk tua yang hanya diterangi temaram lampu minyak, Ki Kerta tetap pada posisi duduk bersila. Harum aroma dupa memenuhi ruangan.

Matanya terpejam rapat, tasbih kayu gaharu yang ada ditangan tak berhenti bergerak seiring dengan bibirnya yang sedang melafalkan wirid meski tidak menampakkan suaranya.

Terdengar suara gagak hitam yang parau, hinggap diatas atap gubuknya. Ki Kerta mendengar, namun tetap meneruskan wiridnya. Burung gagak itu terus saja bersuara, menambah suasana mencekam di tengah kesunyian malam.

Ia hanya terdiam, kemudian membuka matanya dan berdiri dari tempatnya. Matanya menatap ke atas lalu mengarah lurus ke bagian pintu. Ia memandangi pintu itu dengan alis menyeringai, seakan menaruh curiga.

Ki Kerta berdiri dengan tenang sambil menggerakkan tasbihnya. Burung gagak makin keras suaranya, pertanda bahaya juga semakin dekat. Namun, Ki Kerta berusaha tetap tenang.

Angin tiba–tiba berhembus dengan kencang, seisi gubuk Ki Kerta bergoncang seperti dilanda gempa yang dahsyat.

Perlahan ia melangkahkan kakinya untuk menuju ke halaman depan. Dibukanya pintu gubuknya, di depan sudah berdiri seorang wanita tua dengan mengenakan baju serba merah. Tongkat kepala tengkorak di ujungnya tergenggam erat ditangan.

“Kau masih bernyawa rupanya !!.”

Ki Kerta hanya membalasnya dengan senyum. Wanita itu bisa dibilang seumuran dengannya. Dia tidak gentar sedikitpun karena sudah memahami siapa yang berdiri di depannya sekarang.

“Ajalku di tangan Gusti Yang Maha Kuasa. Bukan ditanganmu, apapun caramu membunuhku jika belum waktunya aku tidak akan mati.”

“Sombong kau!”

Wanita tua itu merasa ditantang oleh Ki Kerta.

“Aku kemari membawa dendam masa lalu yang belum terbalaskan.”

Ki Kerta tidak gentar sedikitpun.

“Kau tidak pernah berubah. Sudah seharusnya kau berhenti dari jalur hitammu itu. Tak sadarkah, banyak orang yang menjadi korban karena ulahmu.”

“Kau tak usah nuturi[1] aku! Aku kemari akan memotong kepalamu.” Wanita tua itu mulai geram dan berambisi untuk melenyapkan Ki Kerta.

Ki Kerta malah melempar senyuman, “kalau kau butuh kepalaku, potonglah sekarang!”

“Keparat kau Kerta!”

Wanita tua itu menyerang dengan memainkan tongkatnya. Namun tongkat itu bukan berarti apa-apa bagi Ki Kerta. Ia melompat ke atap rumah dan diikuti oleh wanita tua itu.

Sedangkan wanita tua itu tidak mau mati konyol ditangan Ki Kerta. Serangan demi serangan ia hantamkan bertubi-tubi ke badan pemimpin rimba persilatan Gunungrejo itu .

Tongkatnya berkali-kali memukul dada dan badan Ki Kerta, namun yang dipukul masih bisa melawan. Wanita tua itu tidak berhenti, dia kerahkan ilmu andalannya .

Wanita tua itu mendekapkan tangan di dadanya, ia kerahkan Ajian Wisa Kiblat Papat. Dia beranggapan dapat melumpuhkan Ki Kerta dengan ajian itu.

Traaasss !!!

Ajian Wisa Kiblat Papat mulai merasuk ke badan Ki Kerta. Siapa yang terkena Ajian ini akan seperti terkena racun mematikan.

Wanita tua itu mengerahkan ilmunya dengan sekuat tenaga, namun lain halnya dengan Ki Kerta yang membalas dengan Ajian Tembus Kiblat Papat.

Blaaar !!!!

Wanita itu terpental dan jatuh di halaman depan. Ki Kerta langsung melompat turun dan melihat musuhnya itu muntah darah segar, belum tewas. Wanita itu masih memandang Ki Kerta dengan tatapan penuh amarah.

“Urusan kita belum selesai !!.”

Wanita tua itu bangkit dan merangsak maju, tak memperdulikan mulutnya yang berlumuran darah. Tongkat tengkoraknya digerakkan kesana kemari, tapi tubuh Ki Kerta sulit ditembus.

“Setan Alas !!“ wanita tua itu semakin gusar.

Ki Kerta memakai Panglimunan. Wanita tua yang masih mengamuk itu kebingungan, tanpa disadari Ki Kerta sudah dibelakangnya. Ia lalu menyerang dan hilang lagi.

Begitulah seterusnya dia dibuat kalang kabut. Dalam satu kesempatan, Ki Kerta dapat merebut tongkat sakti itu dan memukulkan pada wanita tua itu.

Buuukkk! Daaasss!

Wanita tua itu bagai kena bumerang. Badannya seakan rontok tak bertulang, ia jatuh tersungkur dan kembali memuntahkan darah segar .

Keinginan jahat itu masih melekat di dalam dirinya. Dengan kondisi terluka parah, dia berusaha bangkit dan tetap akan menyerang Ki Kerta.

“ Mari aku obati lukamu.” Ucap Ki Kerta.

Wanita tua itu tersenyum sinis sambil mengusap darah yang telah keluar dari mulutnya.

”Tidak usah! Aku tak butuh pertolonganmu, aku cuma menginginkan kematianmu!”

Ki Kerta menimpali, “silakan dicoba.”

“Biarkan kami habisi orang itu, guru !” salah seorang murid Ki Kerta bersuara ditengah ketegangan itu.

Ki Kerta memberi isyarat dengan mengangkat tangan kanannya. Murid-muridnya saling berjaga dan mengitari sekitar gubuk. Bersiap jika wanita tua itu akan kembali menyerang sang Guru .

“Kembalilah ke tempat kalian. Dia bermasalah denganku, lebih baik kalian istirahat.”

Murid-murid pun tidak segera kembali ke dalam gubuk. Mereka tetap menyaksikan dan berjaga manakala gurunya terdesak.

Wanita tua itu merapal ajian saktinya. Ia arahkan tongkatnya ke arah langit. Tak lama kemudian, sekelebat bayangan hitam muncul ditengah-tengah ketegangan itu dan langsung menyergap Ki Kerta dengan pedang.

“Murid-murid Ki Kerta, keluarlah ! Lihatlah akhir hayat gurumu setelah ini! Hahahahaha.”

Seisi gubuk langsung berhamburan untuk melihat siapa yang berbicara itu. Mereka terkejut sebab gurunya disergap gadis cantik. Pedangnya berkilauan, gagangnya dihiasi batu merah delima. Jika digerakkan sedikit saja bisa memutuskan leher lawan .

Wanita tua yang sedari tadi belum puas dengan kekalahannya pun berbicara.

“Kau hadapi murid murid dungu itu. Biar aku yang memusnahkan si Kerta!”

Gadis berjubah hijau itu langsung melepas Ki Kerta dan menyerang murid–muridnya. Sedangkan si wanita tua itu kembali berduel dengan Ki Kerta.

Sang candra yang sedari tadi tersenyum kini menyembunyikan dirinya di balik kegelapan. Suasana pertarungan makin memanas.

Gadis jubah hijau itu bisa menangkis segala serangan dari murid-murid Ki Kerta. Suara gemerincing pedang bersahutan memecah kegelapan malam. Dalam hitungan waktu yang tidak begitu lama, banyak murid yang kuwalahan .

Dengan wajah penuh ambisi, gadis itu berbalik arah dan menyerang Ki Kerta dari belakang.

Pedangnya dihunuskan tepat di punggung Ki Kerta, namun sang buruan lenyap. Kedua pendekar golongan hitam itu dibuat kebingungan serentak.

Surya Palastra !! .”

Wanita tua mengajak si gadis cantik duduk bersila. Mereka merapatkan tangan masing masing. Memancarlah cahaya merah dan getaran yang dahsyat.

Mereka merapal Surya Palastra. Alam ikut berguncang seakan digoncang gempa hebat. Angin kencang berhembus memporak – porandakan pepohonan. Sinar merah makin memancar dan menyala. Orang biasa pun tak mampu melihat sinar itu dengan terlalu lama .

Ki Kerta tidak ingin perkelahian ini memakan banyak korban. Ia angkat tangan kanannya sambil memejamkan mata .

Muncullah Cemeti Guntur Geni digenggamannya. Dia cambukkan cemeti itu ke arah wanita tua dan gadis berjubah hijau.

Blaaar !! Blaaar !!

Arrrrggghhhhh!”

Cemeti Guntur Geni benar benar ampuh , selain suara gunturnya yang menggelegar juga mengeluarkan hawa panas yang bisa menyebabkan lawan kehilangan daya linuwihnya .

Sadar bahwa kekuatannya berkurang, wanita tua dan gadis jubah hijau itu menghilang bersama kabut. Lalu terdengar suara ancaman di tengah gelapnya malam,

“Tunggu pembalasanku Kerta! Urusan kita belum selesai!”

Murid-murid langsung menghampiri gurunya, “Kalau boleh tahu siapa mereka berdua, guru?”

”Mereka golongan ilmu hitam, guru beserta murid kesayangannya. Sudah itu tidak penting. Mereka hanya angin lewat saja.”

Ki Kerta kemudian kembali ke biliknya.

Murid-muridnya masih dibalut rasa penasaran dengan dua penjahat yang berniatan menghabisi guru mereka. Malam yang dingin itu masih menyisakan rasa takut di sekitar padepokan kecil itu.

—————–

            Serangan pamungkas Ki Kerta membuat wanita tua itu pontang-panting tak karuan. Darah terus mengalir dari bibirnya. Sesekali gadis cantik yang setia mendampingi mengusapinya.

Dibaringkannya sang guru di tilam pagulingan. Gadis itu terus mengusap darah yang terus mengalir dari bibir gurunya. Tiba-tiba wanita tua itu menampik tangan gadis cantik itu.

“Sudah. Pergilah dari sini. Turunlah kemana saja kau suka. Mengembaralah!”

“Guru sudah tidak membutuhkan saya lagi?”

Gadis itu bertanya dengan nada sayu. Wajahnya nampak memelas. Dia tak bisa banyak bicara setelah mendengar ucapan gurunya.

“Bukan itu ! Saatnya kau mencari jati diri! Jika kau perlu bantuanku, aku pasti ada!”

Gadis itu menangis dengan tersedu-sedu. Berat hati dirasa jika harus meninggalkan gurunya sendirian dalam gua Sumur Getih. Namun apalah daya, itu adalah perintah gurunya. Tak dapat ia bantah atau berkelak.

“Pergilah!”

Sang guru memerintahkan ia agar segera meninggalkan tempat itu. Perlahan dilangkahkan kakinya, tanah gua Sumur Getih seakan melarangnya. Dia paksakan langkahnya meski dalam hatinya gundah.

“Jangan pikirkan aku! Cepat pergilah!”

Sekali lagi wanita itu memerintahkan.

Gadis cantik itu segera lenyap di balik kabut. Tinggallah wanita tua itu seorang diri. Mulailah ia jalankan tapa bratanya. Dia punya misi tertentu, satu misi kokoh . Tebal dan tertanam di hatinya.

“ Kerta , lara atiku ginawa[2] mati!”

Bibirnya yang masih dipenuhi darah, dan raut mukanya berubah. Yang biasanya nampak garang kini layu dengan tetesan air mata.

Setelah pertemuan kesekian kalinya, dan percobaan pembunuhan terhadap Ki Kerta yang selalu saja tak membuahkan hasil Sungguh, wanita sekejam dia yang pernah membunuh ratusan pendekar golongan putih di masa lalu itu tergores hatinya.

————–

[1] Nuturi, Jawa, menasehati

[2] Ginawa, Jawa , terbawa

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *