Arjuno Merindu (II)

“Pasti itu ulah Iblis Durnita!”

Ki Kerta, rajawali perguruan Gunungrejo geram mendengar cerita dari Ki Purbaya. Serbuan bola-bola api yang menimpa desa Gunung Sari masih menyisakan misteri yang begitu pekat.

Namun lain halnya dengan Ki Kerta yang sudah dapat memastikan dalang dibalik peristiwa itu. Sepasang matanya yang tajam bagai mata rajawali tampak menakutkan.

Tangannya kemudian meraba keris yang terselip di pinggangnya. Keris dengan ukiran kepala naga di gagangnya, dihiasi permata merah delima tampak mengkilat. Wrangkanya[1] hitam pekat dan menawan.

“Mau kau apakan keris itu?” tanya Ki Purbaya.

“Purbaya kau sahabatku sejak lama kan, mana mungkin aku tinggal diam jika kau mendapat perlakuan semacam ini.”

“Kau boleh saja geram, kau bisa saja mengira dalangnya adalah Durnita. Namun aku punya pendapat lain, melihat dari keganasan api semalam itu bukan ulahnya.”

“Lantas siapa yang kau maksud?”

“Garanggati!”

Ki Kerta tertawa lebar mendengar perkataan Ki Purbaya, sedangkan Ki Purbaya terheran-heran.

“Kau masih ingat pada wanita itu rupanya, bukankah kau sudah melepas cintamu sejak lama?”

Ki Kerta masih saja tertawa sampai hampir menangis, Ki Purbaya hanya geleng-geleng kepala. Kemudian dia mengambil sepiring ketela rebus agar sahabatnya itu berhenti tertawa.

Benar saja, Ki Kerta langsung berhenti tertawa dan segera menyantap hidangan ketela rebus itu. Ki Purbaya mengambil keris milik Ki Kerta sementara si pemilik sibuk makan ketela.

“Pusakaku itu riwayat, Purbaya. Dia menjadi saksi bisu dari beragam peristiwa yang kulalui.”

“Jangan sampai Keris Tunjung Biru ini uwal dari ragamu. Ingat begitu susah payah kau mendapatkannya.”

Ki Purbaya yang sedang memegang keris terdiam, pandangannya tertuju pada rimbunan bambu di seberang jalan. Nampaknya dari balik rimbunan bambu ada sepasang mata yang mengintai.

Segera ia memberi isyarat pada Ki Kerta, mereka bersiap sedia bilamana musuh menyerang dari segala arah. Namun lama ditunggu pengintai itu tak menampakkan diri.

“Keluarlah ! Jika kau manusia tentu memahami teriakanku ini.”

Pandangan Ki Kerta menyapu sekeliling padepokan yang ditumbuhi rerimbunan bambu dan pohon aren.

Dari balik rimbunan bambu melompat sesosok berpakaian merah dengan menyabet golok. Goloknya bergagang kepala garuda dan dikelilingi ukiran emas, ujung golok nampak mengkilat ditimpa sinar mentari.

Ki Kerta dan Ki Purbaya bersiap. Pemuda misterius itu mendarat tepat dihadapan mereka. Tidak ada serangan, tapi golok perak itu tetap digenggaman sang empunya.

Beberapa saat ketiga orang itu saling menatap dengan tatapan sangat tajam, tak ada gerak sedikitpun tapi semua sudah bersiap dengan kuda-kuda. Ki Purbaya akhirnya memecah suasana.

“Anak angger[2] siapa dan darimana?”

Pemuda berwajah cerah dengan rambut panjang sebahu itu hanya membalas dengan senyuman. Alisnya yang mengkerut menampakkan ia golongan pendekar pilih tanding.

Ia sarungkan goloknya ke dalam wrangka kayu berwarna hitam. Kemudian dia menyembah di hadapan Ki Purbaya dan Ki Kerta.

“Saya Dwaramukti dari Lembah Antang. Sembah baktiku untuk panjenengan berdua. Saya ingin mengabdi di tempat ini.”

Ki Purbaya dan Ki Kerta saling berpandangan sejenak, lalu saling mengangguk. Mereka mengajak Dwaramukti duduk di bilik tamu. Setelah menyampaikan maksudnya lanjut Dwaramukti menceritakan sedikit kisah perjalanannya dari Lembah Antang hingga sampai ke padepokan Ki Purbaya.

“Saya hijrah dari Lembah Antang karena saya tidak punya siapa-siapa lagi. Niat saya sudah bulat untuk mengabdi disini. Rugi jika di usia muda saya tidak berjuang untuk masa depan yang lebih baik.”

Ki Kerta dan Ki Purbaya tersenyum. Nampaknya Dwaramukti begitu kokoh keinginannya untuk menimba ilmu. Bukan perkara sulit bagi seorang Ki Purbaya untuk menerima siapapun yang ingin menimba ilmu padanya. Asalkan untuk kebaikan sesama.

“Darimana kau tahu padepokan ini ?”

“Tutur cerita orang-orang sepuh Ki. Lebih-lebih orang tua saya yang pernah weling[3] supaya saya berguru disini.”

Sejenak Ki Kerta memandangi Dwaramukti dengan seksama. Seperti pernah bertemu sebelumnya, namun ia tak ingat. Wajah Dwaramukti sangat ia kenal. Tapi kapan dan dimana dia bertemu. Ki Kerta masih menyimpan rasa penasarannya itu.

“Golokmu bagus. Kau membuatnya sendiri ?” tanya Ki Kerta.

“Tidak , Ki. Ini pemberian dari orang tua saya. Sebelum meninggal mereka berpesan agar saya merawat dan menjaga pusaka Golok Nagakikir ini.” terang Dwaramukti sembari memperlihatkan goloknya.

“ Golok Nagakikir ??”

Ki Kerta dan Ki Purbaya terkejut mendengar cerita Dwaramukti. Mereka terkesiap, rasa tak percaya menyelimuti dua rajawali persilatan itu.

“Ngger, kau tentu bukan orang sembarangan. Ini pusaka yang lama diperebutkan rimba persilatan di Bumi Malang ini. Kau betul-betul beruntung bisa memilikinya karena memang hanya bisa dipegang oleh orang yang arif dan bijaksana, bukan mereka yang cinta akan angkara murka.” sahut Ki Purbaya.

Ki Kerta menimpali dengan pertanyaan, yang lama ia pendam semenjak kedatangan Dwaramukti tadi. “Jika benar ini pemberian orang tuamu, lantas siapa nama orang tuamu ngger?”

“Orang tua saya Sudiro dan Wilandri.”

Ki Kerta terharu, wajahnya layu. Seketika dia memeluk Dwaramukti dengan erat. “Ngger, kau betul anak yang berbakti pada orang tua. Aku bangga padamu”

Dwaramukti bingung dengan sikap Ki Kerta yang demikian. Padahal sebelumnya belum pernah kenal ataupun bertemu, namun Dwaramukti merasakan hal yang begitu melekat di hatinya. Pelukan Ki Kerta.

Dirasanya sangat mirip dengan pelukan ayahnya ketika masih hidup dulu. Pemuda ini jadi teringat akan almarhum ayahnya.

“Aku Ki Kerta ngger, adik ayahmu Sudiro. Dia pernah berpesan bahwa suatu saat anaknya akan ada yang menghadap kepadaku. Dan ternyata itulah kau.”

Dwaramukti jadi mengerti bahwa orang sepuh dihadapannya adalah pamannya, adik ayahnya. Pantaslah tindhak-tandhuknya tak jauh beda dengan almarhum ayahnya.

“Orang tua saya telah lama meninggal, terluka setelah di serang oleh pasukan hijau dari brang Kulon. Keadaan saya yang sebatang kara juga menuntun saya agar sampai kesini hingga bertemu paman.”

“Aku minta maaf karena lama tak berkunjung ke Lembah Antang, ngger. Kau tentu ingat ketika penguburan orang tuamu ? Saat kedatangan ratusan gagak hitam itu. Akulah yang mengusirnya. Kau saat itu masih berusia sepuluh tahunan.”

Agaknya Dwaramukti begitu sangat bangga setelah pertemuannya dengan Ki Kerta. Pertemuan di padepokan keramat itu telah mengobati rasa rindunya pada kedua orang tuanya.

Ki Purbaya hanya bisa tersenyum haru memandangi paman dan keponakan yang lama tidak berjumpa itu.  Tak perlu pikir panjang bahwa Dwaramukti akan ia tempa sebagaimana murid yang lain.

Tapi ia punya cita-cita selanjutnya, tentu Dwaramukti akan dijadikan pendekar agul-agul seperti Bagaskara. Bukan bermaksud saling menandingi, namun untuk bersatu menghadapi musuh-musuh yang kian bertambah.

————————————

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Padepokan Ki Purbaya semakin ramai dikunjungi pemuda-pemuda yang ingin menimba ilmu kanuraganan. Bagaskara tetap membantu sang Guru dalam memberikan olah kanuragan.

Namun, Bagaskara bersikap lain terhadap satu murid baru. Dwaramukti. Dia memperlakukannya dengan berlebihan seperti saudaranya sendiri, sampai-sampai banyak murid yang iri.

Dwaramukti diberi pengajaran khusus, di hari-hari tertentu dan berbeda dengan murid-murid lain. Meski tujuannya sama, namun Bagaskara mematuhi perintah dari Ki Purbaya.

Pada suatu hari, Bagaskara berencana menguji kepandaian Dwaramukti. Berdasarkan cerita gurunya, Dwaramukti adalah pemuda pilih tanding yang ditakdirkan Yang Maha Kuasa untuk menemaninya berjuang.

Bagaskara mengajak Dwaramukti ke hutan. Sesampai di hutan, Bagaskara meminta Dwaramukti menebang pohon randu yang ada di dekat telaga.

“Tebanglah randu itu tanpa menggunakan senjata! Gunakan kesaktianmu ! Jangan hiraukan apapun selain perintahku.” kata Bagaskara sambil menunjuk pohon randu yang agak tinggi diantara pepohonan lainnya.

Dwaramukti segera melaksanakan perintah Bagaskara. Bagaimanapun juga Bagaskara adalah gurunya meski usia mereka terhitung sama. Ia masih menaruh hormat karena kewibawaan Bagaskara yang mudah merangkul semua murid sehingga bersemangat dalam menimba ilmu.

Ketika mendekat ke arah pohon randu, Dwaramukti melihat ada anak kecil yang berteriak-teriak karena hampir tenggelam di telaga.

Dia bingung, hendak menolong anak itu atau menunaikan tugas Bagaskara terlebih dahulu. Dia teringat pesan Bagaskara.

Sejenak dia tampak kebingungan, ini urusan nyawa. Kasihan anak itu jika sampai mati tenggelam. Begitu ucapnya dalam hati. Segera ia menolong anak itu, lalu dipapahnya ke pinggir telaga.

Anak itu selamat, setelah mengucap terima kasih anak itu lenyap. Dwaramukti jadi merinding, disangkanya anak itu adalh hantu yang usil menggodanya.

Tak lama kemudian segera Dwaramukti duduk bersila di bawah pohon randu yang dimaksud, ia memejamkan mata sejenak. Kemudian dia mengali sedikit tanah di hadapannya, tepat di bawah pohon randu. Tak disangka kedua tangannya menembus tanah dan mencabut akar pohon randu yang kokoh itu.

Pohon randu itu ia cabut dari akarnya lalu ditumbangkan tepat di sisi telaga. Bagaskara yang melihat dari jauh langsung menghampiri Dwaramukti.

“Kau sudah melanggar pesanku. Kau harus dihukum. Bukankah aku sudah berpesan jangan hiraukan apapun ketika kau tunaikan tugasmu.”

Dwaramukti merasa bersalah. Tapi dia mencoba memberanikan diri untuk berterus terang. “Maafkan aku Kakang, aku tidak bisa membiarkan anak kecil itu tenggelam. Jika dia tenggelam sedangkan aku tahu dan tidak menolongnya tentu hukumanku nanti akan lebih berat lagi. Hukuman Tuhan.”

Bagaskara hatinya berdesir mendengar ucapan Dwaramukti, tak disangkanya kalau pemuda ini telah menamparnya. Menamparnya dengan kalimat nasehat.

Agaknya Bagaskara supaya lebih mawas diri, agar lelaku kehidupan dapat terarah lebih baik lagi. Dia lupa bahwa hukuman Tuhan jauh lebih berat dibandingkan hukuman manusia.

“Hatimu begitu welas terhadap sesama, Dwaramukti. Terima kasih kau telah menyadarkanku, setidaknya aku tersadar dari pingsan akan kemegahan alam ini. Dan di alam ini ada penguasa yang sekaligus hakim paling adil. Tuhan Yang Kuasa.”

Bagaskara lalu mengajak Dwaramukti untuk mengangkat pohon randu itu menuju padepokan. Sesampai di padepokan, mereka letakkan pohon itu di halaman belakang.

Ki Purbaya memerintahkan para murid yang lain bersegera mengambil peralatan untuk memotong kayu pohon randu itu.

Ketika salah seorang murid menghujamkan kapak ke batang randu, tiba-tiba batang randu itu mengepulkan asap putih. Murid itu ketakutan, dari gumpalan asap itu muncul sesosok makhluk bertubuh tegap dengan bulu lebat memenuhi tubuhnya.

Kepalanya terdapat tanduk yang runcing, mulutnya berbentuk moncong. Berekor pula. Sekilas mirip dengan siluman Banteng.

“ Kembalikan rumahku !! Herrrrrr…!!!”

“Aku tidak tahu kalau randu ini rumahmu. Mana mungkin aku kembalikan, aku butuh batang ini.”

Siluman Banteng itu marah mendengar ucapan Ki Purbaya, matanya merah menyala. Tanduknya seakan siap untuk menerjang apapun yang ada dihadapannya.

“Lancang benar kau, Manusia ! Aku hancurkan wilayah ini jika tak kau kembalikan pohon itu !.”

“Bukankah masih banyak randu lain di hutan yang lebih besar ? Tinggal saja di sana.”

“Heh manusia kurang ajar ! Kau harus diberi pelajaran !.”

Siluman banteng itu memasang kuda-kuda, seperti banteng hendak menyerang. Secepat kilat ia menyerang Ki Purbaya dengan tanduknya. Ki Purbaya terpental beberapa depa.

Bagaskara pun maju, Dwaramukti mengikutinya. Mereka mengepung siluman Banteng itu. Tanduknya yang tajam menerjang kesana kemari. Sesekali menyentuh kulit dua pendekar itu. Beruntungnya tak ada luka.

Siluman banteng itu makin gusar ketika Dwaramukti kebetulan bisa menangkap ekornya. Ekor itu dipermainkan oleh Dwaramukti, lalu ditarik dan dibantingnya siluman itu ke tanah. Siluman banteng itu terjerembab. Bukannya tewas, dia malah bangkit dan menyerang Bagaskara.

Bagaskara langsung menyerang dengan mengarahkan pukulan ke kepala siluman itu. Tetap saja siluman itu tidak mempan dengan pukulan. Malah makin beringas.

Ki Purbaya yang terpental tidak merasa sakit, dia tahu bahwa siluman banteng yang menyerangnya itu hanya barang mampir saja.

Diambilnya segenggam tanah. Lalu ia melompat di tengah-tengah pertarungan.

Ditendangnya wajah siluman banteng itu, belum sempat melawan Ki Purbaya langsung melempar tanah digenggamannya ke arah wajah siluman itu.

Siluman itu kehilangan arah, linglung. Di kesempatan ini Ki Purbaya langsung memukul kepala siluman banteng itu. Seketika siluman itu tersungkur.

“Kau masih hidup ? Bangkitlah dan serang aku.” kata Ki Purbaya sambil berjongkok di depan siluman itu. Siluman banteng itu tak bergeming, namun suaranya lirih terdengar.

“Pohon itu untukmu. Biarkan aku bersemayam dalam pusakamu.”

Ki Purbaya yang menyelipkan keris di pinggangnya langsung cekatan. Dia ambil keris itu dari wrangkanya, sukma siluman Banteng itu menyatu dengan hawa magis pusaka Ki Purbaya.

“Bantulah aku untuk menolong sesama.” Ki Purbaya berbicara pada kerisnya.

————————

[1] Wrangka, Jawa, sarung keris

[2] Anak Angger, Jawa, panggilan untuk anak muda

[3] Weling, Jawa, berpesan atau amanah

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *