Arjuno Merindu (I)

Desa Gunungsari nampak sepi, udara dingin menusuk malam itu membuat orang enggan keluar rumah dan lebih memilih berada di rumah. Gardu-gardu di ujung desa sepi dari orang jaga.

Sebuah kedai makan di perempatan jalan masih tampak ramai, para pembeli masih asyik dengan makanan pesanannya. Pelayan-pelayan kedai sibuk kesana-kemari membawakan pesanan.

Pemuda bertubuh tegap, agak tinggi dengan memakai ikat kepala merah. Bajunya hitam agak lusuh, kedua tangannya menempel hiasan kulit harimau. Bagaskara namanya. Agul-agul[1] rimba salah satu Persilatan di Gunungsari.

Baru saja ia duduk di kedai itu, mendadak orang-orang diluar kedai ribut. Mereka melihat ke langit dimana kegelapan malam itu berganti dengan suasana hiruk pikuk yang memecah keheningan.

Gumpalan bola-bola api melayang-layang di atas Desa Gunungsari. Hawa panas menyebar, dari depan kedai terlihat banyak orang berlarian, Bagaskara langsung meloncat dari tempat duduknya.

Dilihatnya Desa Gunungsari bagian barat sudah dipenuhi asap, pertanda kebakaran. Tidak diketahui apa sebabnya, yang jelas kebakaran itu muncul bersama dengan bola-bola api yang melayang.

“Cepat kita selamatkan diri. Desa kita sudah diserang habis-habisan.” teriak pemilik kedai.

Orang-orang dalam kedai langsung berhamburan keluar karena bola-bola api mendekat ke atas kedai dan dengan cepat membakar sebagian bilik kedai.

Bagaskara tak segera berlari, dia pandangi asap yang mengepul dari arah barat itu. Tangannya mengenggam rapat, giginya gemerutuk. Matanya menatap tajam seolah dia tahu siapa dalang dibalik kejadian ini.

“ Bopo Guru..”

Tiba-tiba dia tersadar,  dan segera berlari menuju arah gumpalan asap di sisi barat. Larinya bagai harimau kelaparan yang mengejar mangsa, namun kali ini ia mengejar keselamatan gurunya.

Lautan para manusia berhamburan melarikan diri dari ganasnya api yang menjalar. Bagaskara tak menghiraukan api yang menari-nari, ia terus berlari hingga sampai di depan padepokannya. Tak terlihat satu orang pun, yang ada hanyalah tiga rumah bambu yang dilalap jago merah dengan ganas.

Dia mendekati bagian rumah yang tak terkena percikan api, dilihatnya tak ada siapapun. Dia berharap bisa bertemu seseorang, entah kawan perguruan atau pun Bopo Gurunya. Namun semua sia-sia belaka.

Sekeras apapun dia memanggil-manggil tak ada jawaban yang membalas. Dia mulai putus asa, pikirannya ikut ribut. Apakah Bopo Guru sudah meninggal di tengah kobaran, ataukah semuanya berhasil melarikan diri.

Sebuah tangan agak keriput menepuk bahunya dari belakang. Bagaskara berbalik dan memasang kuda-kuda serangan. Dia bersiap untuk menghajar siapa yang datang mengganggunya. Melihat siapa yang berdiri di hadapannya, segera ia menghaturkan sembah.

“Aku behasil lolos dari kobaran ini, begitupun teman-temanmu yang lain. Kau tak usah kaget dengan semua kejadian ini. Semalam aku sudah bercerita panjang terhadapmu. Inilah yang kumaksud.”

Ki Purbaya, guru silat dari golongan putih di rimba persilatan Gunung Malang. Wajahnya keriput namun tak terlihat tua. Auranya masih menampakkan kegagahan dan keberanian.

Bagaskara kemudian tersenyum lega karena orang yang dihormatinya masih selamat dari bencana. Dia teringat akan cerita Ki Purbaya semalam mengenai badai api yang sengaja diciptakan oleh pendekar-pendekar silat dari Bumi Welirang.

“Ini memang bencana, namun bukan buatan Tuhan. Ini buatan tangan-tangan setan yang bersemayam dalam raga manusia yang tak kuat iman.” terang Ki Purbaya sambil menatap kobaran api yang melahap padepokannya hingga luluh-lantak.

“Lantas apa yang harus kita lakukan, Bopo??”

Ki Purbaya menjawab pertanyaan Bagaskara dengan senyuman. Ia nampak tenang walaupun kobaran api telah menghanguskan wilayahnya.

“Kau merasa memiliki padepokan ini ? Kalau kau merasa memiliki tentu kau tak akan diam.”

Ki Purbaya menatap wajah Bagaskara dengan tatapan penuh harapan.

Bagaskara mengangguk, dia memahami apa yang dimaksudkan oleh Ki Purbaya. Api itu makin menjalar kemana-mana, Ki Purbaya mendekapkan tangannya. Lalu dia menghempaskan kain putih yang ada di bahunya.

Api langsung padam seketika. Bagaskara bertanya-tanya, kenapa tidak dari tadi saja gurunya melakukan itu. Kenapa harus menunggu api semakin besar.

“Aku sengaja menunggu, Bagaskara. Aku biarkan padepokan ini habis karena aku punya tujuan untuk memperkuat di tempat yang lain.”

Bagaskara membalas dengan pertanyaan, “Maaf Bopo, apakah badai api ini bertujuan memusnahkan kita.?”

“Tentu, dan mirisnya rakyat yang tidak tahu apa-apa jadi korban. Dan di bawah sana mereka kehilangan nyawa dan harta bendanya. Musuh tetap tidak ingin kita hidup, mereka berusaha dengan cara apapun supaya kita lenyap dari bumi.” Ki Purbaya menjelaskan.

Bagaskara pernah mendengar cerita tentang musuh-musuh gurunya, namun sampai saat ini ia belum mengerti betul tampang bahkan kekuatannya.

“Dan kali ini aku berfirasat, bukan hanya aku. Teman-temanku di persilatan lain juga ikut diserang.” Tiba-tiba Ki Purbaya berkata demikian.

Sesepuh persilatan Gunung Malang itu lalu mengajak Bagaskara meninggalkan puing-puing padepokan yang bergelimpangan, menuju ke padepokan kedua di sebelah utara. Milik Ki Purbaya yang lama ditinggalkannya.

—————————-

“ Tunggu apa lagi ? Habisi segera !”

Perintah sang guru pada muridnya. Sang guru, wanita dengan wajah kusut dan alis melintang membentak dengan garang. Ambisi terselubung dalam perintahnya.

Kekejaman terlukis nyata dari tampangnya, tak terlihat senyum menoreh dan hanya tatapan sinis yang mengembang. Suaranya menggetarkan dinding-dinding Gua Sumur Getih.

Si murid, gadis masih remaja berpakaian serba hijau dengan rambut panjang yang terikat tusuk konde merah. Bibirnya yang menggoda tak berhenti bergerak, mengucapkan sesuatu namun tak bersuara.

Sebilah keris luk sanga dengan gagang berbentuk kepala naga berdiri tegak dalam genggamannya, menghempaskan hawa magis bersama kepulan asap dupa. Sebuah kuwali berisi darah segar tersaji dengan kembang setaman[2].

Angin papat kiblat kempalo dadi sawiji

Dedemit jin setan priprayangan

Rawuh lan rewang-rewang gegayuhan

Nrabas sukma mbedah jiwa raga

Ajur dadi bathang, ngejur rangkane kamanungsan

Mancep ono dada mancep ono sirah

Sayuk sayuk kempalan suryaning palastra

Mbelesat sisih lor papan panggonane

Abang putih dadi geni kasembadan bakal kelakon

Sirna sirna kawujudan ludira saknalika

Keris itu tiba-tiba melesat dari tangan gadis cantik itu. Melayang-layang di langit-langit Gua Sumur Getih. Sinar merah dan hawa panas menyelimuti seisi gua.

Wanita tua atau sang Guru hanya duduk bersila di atas batu semedinya. Tongkatnya ia tancapkan di tanah. Tangannya mendekap rapat, rambutnya yang panjang agak memutih melambai-lambai terkena getaran magis dari keris pusaka itu.

“Berangkatlah !.” ucap wanita tua itu.

Keris yang melayang-layang itu melesat seperti kilat, menuju ke arah utara. Wanita tua itu lalu bersemedi. Sedangkan muridnya si gadis cantik penggenggam keris itu berdiri dan menuju mulut gua.

Mulut gua Sumur Getih berdekatan dengan tebing dan hutan rimba. Dari situ bisa melihat hamparan pengunungan yang menghijau, perkampungan dan Kademangan[3] Tumapel yang megah.

Malam itu bulan agak menjauh di utara. Sedangkan awan kegelapan hinggap di atas gua Sumur Getih. Gadis cantik itu mendongak ke langit, menatap tajam pada pekatnya awan.

Kemudian dia duduk bersila di depan mulut gua itu. Angin kencang bereembus, sesekali suara burung gagak terdengar. Menambah suasana semakin mencekam di malam itu.

Terdengan auman serigala bersahutan, gadis cantik itu membuka kedua matanya. Dilihatnya keris yang dikirimnya sudah mulai menebarkan hawa bencana dan kesengsaraan.

Senyumnya mengembang, senyum kekejaman. Dia melanjutkan kembali semedinya, terhanyut dalam keheningan yang menjerumuskan ke jurang hitam. Tentu apa yang dilakukannya akan membawa korban dan kerusuhan dimana-mana.

Namun ia tak memikirkan itu. Perintah guru adalah suatu hal yang tak boleh ia bantah. Lagipula ia termasuk bangga menerima perintah kali ini, sasarannya sangat tepat seperti yang dia inginkan.

Blaaarrr !!!!!!!

Gua Sumur Getih dihantam halilintar, wanita tua yang bersemedi terjatuh dari tempatnya. Dia meringis kesakitan, mulutnya memuntahkan darah segar. Gadis cantik yang ada di mulut gua terhempas beberapa depa dari mulut gua.

Gadis cantik itu langsung berlari ke dalam untuk menolong gurunya, dilihat gurunya muntah darah segar.

“Dia berhasil menghalau serangan kita guru.”

Wanita tua itu hanya diam, pandangannya tajam. Sesekali dia mengusap darah yang kian menets dari mulutnya. Gadis itu segera menempatkkan gurunya di tilam pagulingan[4].

Gadis cantik itu kemudian meramu dedaunan dan mengobati luka sang Guru.

“Apa yang harus kita lakukan guru ? Berkali-kali serangan kita gagal.” tanya gadis cantik itu sambil membersihakan darah di bibir dan baju gurunya.

“Ini belum kiamat, esok masih ada hari. Kita tidak boleh menyerah. Darahku ini bukan darah kematian.” jawab wanita tua itu.

“Orang ini begitu sakti, Guru. Usianya padahal tak jauh beda dengan panjenengan.” sahut si gadis.

Wanita tua itu menatap tajam pada murid kesayangannya itu.

“Kau menganggapku tidak sakti begitu? Kau anggap aku ini tidak setara ilmunya dengan musuhku ? Tak sebanding ??” meluap kepala wanita tua itu setelah mendengar pernyataan muridnya.

“Maaf guru, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan panjenengan.”

Gadis itu memohon maaf, dirasa mulutnya sudah menyakiti hati sang guru. Gurunya memang mudah marah, tak pernah bisa tenang dalam menghadapi sesuatu bahaya yang menghadang.

Bagaimanapun juga ia sangat menyayangi wanita tua itu. Mereka seperti anak dan Ibu yang tak dapat terpisahkan.

Namun sedari dulu, wanita tua itu sering mengajarkan jurus-jurus serangan yang tujuannya untuk memusnahkan lawan dengan seketika.

Tak tahu apa maksudnya, yang jelas ia sering ditempa ilmu yang tidak biasa. Perintah-perintah gurunya kebanyakan untuk menghabisi nyawa manusia, bukan malah menolong manusia. Namun karena rasa sayangnya yang begitu kuat membuat dirinya menjadi buta. Tak berbelas kasihan pada sesama.

——————————

[1] Agul-Agul, Jawa, andalan atau pilih tanding

[2] Kembang Setaman, Jawa, bunga tujuh rupa

[3] Kademangan, Jawa, setingkat kecamatan

[4] Tilam Pagulingan, Jawa, kamar tidur

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *