Bu

Dalam hidup, aku tak bisa melaju

Jika itu tanpamu…
Walau hanya sekadar menitipkan senyummu
Ratap pedih selalu kubingkiskan untukmu
Cambukku adalah kerinduanmu
Tak pernah kutorehkan kecerahan mentari di kusutnya wajahmu.


Kaki kau pincangkan
Belati, samurai, kau hunuskan dalam sukmamu
Terik surya kau gunakan untuk membakar rusukmu
Lantas kau melangkah mendekapku
Sementara aku terjaga dalam mimpiku
Diusapnya keningku berbelai kasih,
Anakku, kau harus bahagia’.
Begitulah semangat juangmu untuk menghidupkanku.
Kala malam menyambutmu dengan asa
Rambut ubanmu kau gerai tak memelok mata
Kau basuh sukmamu dengan runtuhan doa
Wajah mengeriputmu bermandikan air mata
Tangan kau dongakkan menerbangkan sejuta doa
Daging tak bertulangmu bersenandung dengan suka,
Tuhan! Aku tak ingin anakku menderita‘.


Aku?
Tertawa dalam sepi
Menghanyutkan waktu pertiwi
Rindu ibu bergejolak terbungkam nista.

Sakit membekukan denyut nadi
Keluh menggumpal di sanubari.

Ibu meratap saat pagi datang dan malam pulang
Menggoyang-goyangkan tubuhnya
Peluh digadaikan untuk mencari ramuan nyawa
Ke sana kemari, melaju tanpa malu
Kantong kosong, utang pun ditimbun
Dalam hati ibu menggumam,
‘Cabutlah aku, untuk menggantikan nyawa anakku.’

Aku tertatih perih
Waktu membusung rintih
Pergi tanpa pamrih
Ibu memenjarakanku dalam sangkar kekhawatiran.
Aku?
Berteriak menghajar cintanya
Kurobek sukmanya yang teriris luka akan murka
Bu, tak perlu kau perlakukanku seperti anak belia…
Aku sudah tumbuh dewasa, ketahuilah Bu!
Aku mampu melangkah tanpa kakimu
Kekhawatiranmu itu tak perlu
Biarlah aku pergi
Aku…
Ingin hidup mandiri.
Dalam bentang cakrawala
Ibu mengintaiku
Salam tangis menjelegar dalam rindu
Campak khawatirnya tak pernah diindahkan
Ia mengemis dalam telapak sembilu.

Pulanglah Nak! Biarlah ibu yang membakar reranting untukmu makan.’

Ibu sanggup menghidupimu, Ibu ingin air matamu terlelap. Pulanglah….pulanglah! Dekaplah ibu akan rindu ini yang semakin menggebu. Nak…..ibu tak rela kau dimakan luka di usia mudamu.’
Ia tersapa ketika hening
Dalam kristal bening
Aku mengadu, ulu hatiku berkeping
Berteriak menggoda bibir waktu
Aku ingin menari untukmu, Bu!
Sanggupkah?

Berilah aku separuh sayap saja yang mampu menerbangkankanku
Lebih lama
Seusia sajakku dalam kata
Sepanjang sajakku yang berkelana.
Bu, jangan menangisiku!
Aku ingin menyunggingkan selaput bibirmu
Hanya itu tak lebih ibu…
Namun mengapa hadirku membuat bulirmu senantiasa berlinang?

Ibu, sajakku tak bisa sepanjang kasihmu kepadaku
Tapi Bu, perjuanganku untukmu, laksana menunggu mentari mabuk dalam kegelapan.
Aku mencintai pengorbananmu
Maka tak ingin kulihat pengorbanan itu untuk yang kedua kalinya
Sebab ia, akan mengirisku dalam tajam yang tak terkelupas
Hatiku sakit, rancau akan kasihmu yang tak terbatas.
Biarlah aku menderita untukmu,
Lepaskanlah aku pergi membumbungkan sajakku
Tak usah ada lagi senandung cemas dalam sanubarimu
Masih ada dua malaikat
Aku?
Masih punya satu Tuhan
Dan aku…
Masih punya cadangan nyawa
Kau tahu apa itu?
Sajakku.

Darah Mimpi
Yogyakarta, 22 April 2014.

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *