48 Jam

 

Telapak ini tidak akan pernah beranjak dari persendianmu,
Kau tukar rupa senja dengan mata merahku,
Empat puluh delapan jam jarum menusuk nadi, empat puluh delapan jam kau mengantarkan doa-doa
Doa agar aku setia rebah di dalam rahim ibu.

Napas muda ikut mendambakan jasadku membangkar di atas sofa kakek,
Ada pantulan tawa yang menggenang di selat air mata
Waktu mengeriput, kalender mengusang, sementara cintamu tak pernah menggersang.

Runtuhan mata air langit membangunkan jiwa-jiwa yang kerontang
Kau dan mereka lantas bersiul, mengalirkan simponi di sisi pendengaran, menghanyutkan rindu berperahu reranting pilu.

Kini, malam mengerucut, menyapu debu-debu liar yang usil bermain di bulu hidungku,
Empat puluh delapan jam menjadi potret yang merekam gerak letih napasku.
Bertambah satu jam, aku merasakan hujan mengantarkanku ke persinggahan malam.

Oleh: Darah Mimpi 

September 2017.

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *