Serangga dan Kupu-kupu di Telingamu

Kupu-kupu itu seringkali membuatmu celaka. Sayangnya kau tidak pernah mengusirnya, kau justru menyebutnya berkali-kali sebagai pembawa keberuntungan. Ia—, lelaki berkacamata tebal itu sampai bosan mengingatkanmu. Tak pernahkah engkau mendengarkan gerutuan suaranya ketika embun berlinang?

“Buang kupu-kupu itu! Telingamu sering berdarah!” kau hanya tersenyum, menyentuh sayapnya yang lama tidak terbang, berpaling darinya lantas buru-buru menyandang ransel menuju kantor. Sepasang kupu-kupu bersayap hitam kau rawat seperti hewan peliharaan tersayangmu, Pio dan Gio, kucing Persia kembar di rumahmu. Sepuluh tahun lamanya kau menjadi kolektor serangga. Mereka kau anggap sebagai kawan pembunuh sunyi, tempat berbagi rindu ketika Mama dan Papamu tak kunjung pulang dari luar negeri. Kau sering berbicara dengan para belalang yang kau pungut tiga minggu lalu dari ladang orang. Setiap sore kau dengarkan lagu-lagu kesayanganmu kepada cacing tanah yang kau rawat di belakang rumahmu, sengaja kau buat kubangan becek, mengumpulkan lumpur kotor dari seluran pembuangan air dapur tetanggamu, mengangkutnya ke rumah untuk cacing-cacingmu yang sebulan lalu kau tangkap dari sawah Pak Ibnu.
Pertama kau berteriak ketakutan, tahap selanjutnya engkau menyamakan cacing-cacing itu sepertimu ketika malam-malammu tanpa belai kedua orangtuamu, tersisih, seringkali ditakuti banyak kaum jelita, teranggap menjijikkan, maka kau pungut mereka, dijadikan anak angkat kelima, usai kunang-kunang dan kumbang, yang terakhir anak kesayangan, kupu-kupu tanpa roh yang hinggap di telingamu. Atau lebih tepatnya sengaja kau hinggapkan.
“Jangan membuang-buang waktumu dengan bermain bersama cacing-cacing itu! Kau tidak ingin kunikahkan dengan pangeran cacing bukan?” lelaki berkacamata tebal yang tak lain merupakan saudaramu itu geram menyaksikanmu meletakkan kotak musik di sisi kubangan tanah. Kau bersungut-sungut, tidak mau cari ribut. Masuk ke dalam rumah menuju kamar pribadimu.

 
“Kau hanya melihat sisi buruknya saja! Cobalah amati juga kesenanganku!”
“Tidak ada masalah jika kau mempunyai hobi merawat hewan peliharaan, tapi serangga-serangga di kamarmu itu mengganggu suasana rumah ini!”
Benar juga, ada beberapa serangga yang sengaja kau masukkan ke dalam kamar. Kau buatkan mereka tempat singgah menggunakan kotak kardus. Beberapa toples kau lubangi agar sirkulasi udara keluar masuk dengan lancar. Beberapa toples kau letakkan di sisi jendela, kau jadikan rumah kunang-kunang, kau kurung kumbang, bahkan lebah pun kau masukkan ke dalam toples. Ibu jarimu pernah tersengat hingga bengkak, hal itu tak membuatmu bosan dengan para serangga, masih memburu di tempat-tempat asing. Tak jarang kau sibak semak belukar, kau garuk-garuk selokan dengan jemari cantikmu demi mencari cacing baru atau kecebong.

 
“Ini adalah kegiatan terbagus daripada menonton film bokep di dalam kamar.” Belamu ketika saudara lelakimu itu protes mengumpat hobimu bukan hal yang baik. Menjijikkan juga kurang berguna bagi kehidupan banyak orang. Bola mata saudaramu tak lagi melotot, ia membenarkan letak kacamatanya lantas membanting pintu kamarnya. Sejak hari itu ia tidak pernah mengganggu kebiasaanmu mengumpulkan kawanan serangga liar, bahkan kecoa di dapur pun ia biarkan ketika kau memasukkannya ke dalam toples. Sayangnya tidak untuk tiga minggu belakangan ini, saudaramu banyak mengomel, berceloteh hal yang menurutmu kurang penting.
Malam itu kau pulang dari Alfamart yang berjarak dua kilometer dari rumahmu, kau sengaja berjalan kaki, menyusuri trotoar, menenggelamkan bola matamu pada keramaian jalanan kota. Sepanjang jalan kau lempar pandangan, terkadang mendongak, terkadang menoleh ke kanan atau ke kiri, kemudian menunduk bagaikan padi yang sedang mengandung butiran beras. Ada dua pasang kupu-kupu di trotoar, terkulai bersarung plastik yang berdebu, kau memungutnya tanpa ragu, meneliti setiap lekuk sayapnya yang diukir berliku-liku. Ada dua bulatan berwarna merah jambu di pusar sayapnya, anggun menurutmu, meskipun kupu-kupu itu palsu, di matamu ia merupakan sepasang kehidupan yang ditinggalkan induknya. Lagi-lagi kau memposisikan dirinya seperti dua pasang kupu-kupu yang kehilangan pangkuan tuannya.

 
Setibanya di rumahmu kau bercermin, melupakan softdrink yang baru saja kau pinang. Duduk di depan cermin, membersihkan dua kupu-kupu itu dengan tisu basah, lantas menggantungnya di masing-masing telingamu.
Kau menghadap jendela, menyibak tirai, menatap langit yang penuh kerlip bintang-bintang. Rambutmu disapu angin malam. Jangkrik-jangkrikmu mendengkur, kunangmu berkelip, kecoamu susah payah berusaha menerobos toples plastik, laba-labamu menganyam jaring-jaring, sementara senyummu kau terbangkan bersama lamunan pilu. Gio dan Pio terbaring di sofa sebelah ranjang tidurmu. Jemarimu membelai dua kupu yang menggelayut manja di telingamu.

 
“Apakah kau kesepian? Di mana tuanmu?”
“Kau punya Mama dan Papa? Mereka sibuk di kantor? Tugas di luar negeri? Sepertinya hidupmu jauh lebih beruntung, kau benda murah, tentu saja kau pernah menjadi hal yang berharga bagi penebusmu dari toko itu,” engkau yakin bahwa dua kupu di telingamu kini pernah bersarang rapi di alfamart. Kupu-kupu itu tidak tinggal di alam bebas, ia hidup di pasar-pasar murah atau di toko-toko kecil. Meski tidak pernah terbang, bagimu kupu-kupu itu selalu terbang di telinga gadis jelita. Menjadi penambah kecantikan, juga pemanis pandangan. Kupu-kupu itu merupakan mahkota telinga yang dipakaikan oleh pangeran kumbang dari alam maya.

 
Kau merasa iba dengan dua kupu yang kini mengambang di bawah telingamu. Berhari-hari kau memakainya, mengajaknya ke mana pun kau pergi. Sebenarnya kau terkena alergi oleh kupu-kupu itu. Sayangnya kau tidak peduli dengan kondisimu. Terus membiarkannya tergantung manja.
Lusa kau merasakan panas yang dasyat. Gatal juga perih. Kau menggaruknya kasar karena tidak kuat, telingamu pun berdarah lama-lama becek dan bernanah. Kau memeriksakannya ke klinik terdekat, dokter menyarankan kau melepas kupu-kupu itu, namun kau tetap saja tidak mau.
“Nanti aku pesankan anting kupu-kupu yang sangat mirip dengan kupu-kupu itu, tentunya yang berbahan mas murni, lepas dan buang! Telingamu menolak mereka, kau tidak cocok memakai asesoris imitasi tersebut! Telingamu justru membusuk!”

 
Kau tutup pintu kamar mengurung diri lantas menjatuhkan tubuhmu di atas ranjang. Saudaramu menggedor-gedor pintu. “Jangan keras kepala! Tak masalah serangga-serangga itu kau kumpulkan! Aku sudah terbiasa dan tidak akan marah, namun melihat kegilaanmu memungut anting kotor itu membuatku muak, kau seperti orang yang tinggal di rumah kumuh!”
“Nanti kau terbiasa!” sahutmu dari dalam kamar.

 
“Telingamu! Pikirkan!”

 
“Aku menyukai kupu-kupu ini, dia tidak pernah dibuang oleh tuannya, aku yakin sekali tuannya tidak sengaja menjatuhkan kupu-kupu ini, andaikan dia bernyawa dia pasti sedih.”

 
“Lama-lama aku bisa gila mendengarkan ocehanmu!”

 
Hari selanjutnya lukamu bertambah parah. Menjalar sampai leher, bintik-bintik merah, mata-mata nanah yang mau meletus. Lehermu seperti terkena lepra. Badanmu mendadak panas. Kau pun dilarikan ke rumah sakit. Saudaramu panik setengah mati juga tak tahan menahan geramnya lagi. Papa juga Mamamu dihubungi. Mereka langsung terbang dari luar negeri.
Dokter mengeluarkan paksa kupu-kupu itu, membungkusnya ke dalam palstik, memberikan kepada saudara bawelmu itu.
“Sudah tahu celaka masih saja dipakai?” Kali ini Mamamu yang menghardikmu. Kau menyunggingkan senyum.

 
“Ma, kemarin aku ke kantor, Mama dan Papa sudah berangkat,”

 
“Jangan alihkan pembicaraan! Lain kali jangan bertindak hal bodoh seperti ini,”
Saudaramu mendekatimu, meletakkan sebuah kotak di sisi lenganmu yang tertusuk jarum infus. Kau sungguh mengerikan, telingamu luka, sementara tubuhmu terserang demam.

 
“Kupu-kupu untukmu,”
Kau menangkisnya. Kotak itu terkapar di rumah sakit. “Ma, aku mau pulang, kunang-kunangku masih hidup bukan? Bagaimana dengan kecoa-kecoaku? Ah, jangkrikku! Kecebongku!” kau agak panik. Langsung bangkit dari tempat tidur, melepas infusmu, mengacuhkan kupu-kupu pemberian saudaramu.

 
“Anak keras kepala!” Kegeraman saudaramu meledak.
“Kau masih demam sayang,” Papamu menarik tanganmu, mendekapmu. Mengelus ubunmu.
“Jangan melarang aku, Pa! Serangga-serangga itu temanku saat kesepian, dia lebih berharga dari apa pun, seperti berharganya uang Mama dan Papa.”
Saudaramu diam. Ia yang siap-siap menjitak kepalamu mendadak tidak berkutik. Mamamu seolah terperangah, bibirnya menganga. Detik terasa berputar lamban.
“Dan di mana kupu-kupu yang kudapatkan di jalan?” lagi-lagi kau panik, segera kau dorong tubuh Papamu. Kau melangkah keluar dengan langkah limbung.
“Berhenti, aku membawanya.”
“Ma, ayo pulang! Anak-anakku nanti sakit dan mati jika kutinggal pergi jauh-jauh. Aku tidak ingin melakukan tindakan ceroboh itu, Ma. Mereka tempat berbagi sepiku, aku tidak ingin meninggalkan mereka, mereka berharga bagiku, dan aku sangat menyayangi mereka.”
Mata Mamamu berkaca-kaca. Saudaramu kali ini bungkam dan menundukkan kepala, mengamati kupu-kupu yang jatuh tak berdaya. Asalkan kau tahu, seminggu yang lalu ia memesankannya untukmu, merengek-rengek segera diselesaikan, berjuta-juta uang melayang karena kupu-kupu yang tak bisa terbang itu. Dan kau membuangnya, perasaannya tidak berkeping, ia justru lebur karena kalimatmu yang terucap tanpa kendali.
“Pa, Mama ingin di rumah, anak-anakku nanti sakit jika Mama tinggal lama.” Air matanya jatuh. Ruangan sunyi. Perasaan ganjil mengalir di jiwa masing-masing orang. Kau yang berusia delapan belas tahun pura-pura tidak memahami suasana aneh itu.

 

Darah Mimpi
Magelang, 24 September 2017. Di pembaringan.

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *