Ikan-ikan di Langit

Ia berenang, menggerakkan siripnya dengan manja. Melantingkan ekor-ekornya. Membiarkan angin mengombang-ambingkan tubuhnya. Awan berarak, ia kejar, ingin masuk ke dalam gulungan tubuhnya, meliuk di perut kabut, menenggak titik-titik air yang ada di lautan udara. Ia—pemilik warna beraneka rupa, elok dibaurkan bersama kawanan burung yang berenang bebas di angkasa.

Merpati milik Pak Tua mengepakkan sayap, tak mau kalah aksi menghias terangnya langit.
Dada datarnya ditarik-tarik tuhan kecil dari alam bawah. Ia pasrah. Yang mampu mengarahkannya hanyalah arus angin. Merpati mengucap kata, menyeru bermain kecepatan jarak, ia menggeleng, bukan menolak, namun tidak mampu mengelak dari cengkeraman tuhan.
Ia dilayangkan di pusara langit bebas, bebas yang tidak memiliki arti kebebasan baginya. Meskipun berkali-kali menolak uluran, tidak akan pernah ia tuai keberhasilan. Hidupnya dipenuhi keindahan abstrak, coretan tangan lain, tubuhnya terlahir dari anyaman ruh lain, ia ada karena diadakan. Sementara merpati, tidak selamanya mengajaknya berkelana.
Anggap saja ikan itu adalah dirimu, kau yang memiliki segalanya, mampu menciptakan benda-benda menakjubkan, namun ada yang menarik ulurmu dari belakang. Tali itu segelintir benang merah bernama kepuasan, tervisualkan dalam bentuk lembaran kesenangan.


Kau akan sibuk mengembara, mengisi pundi-pundi kantong kemenanganmu, duduk di singgasana mulia, pangkat kau jadikan mahkota. Namun pada akhirnya kau akan jatuh, tumbang tidak berdaya, merasa semuanya hanya permainan, tidak memiliki kepuasan.

Terombang-ambing, hilang kendali. Semula orang kagum denganmu, pujian indah kau sandang. Sayangnya itu tidak selamanya, kau terpuruk oleh ambisimu sendiri. Mencecap getir yang dibangun puluhan tahun, lantas terduduk pasrah, merasa yang kau lakukan tidaklah berarti.
Maukah kau menjadi ikan-ikan di langit? Membumbung karena dibumbungkan. Langkah terarah dengan target yang semakin tinggi. Sekali jatuh, musnahlah sudah. Bahkan bangkai terbuang di mana pun, belum tentu akan dipedulikan. Maukah engkau menjadi manusia seperti layang-layang itu? Orang yang lemah pendirian, orang yang seringkali diperbudak kesenangan duniawi?
Darah Mimpi
Magelang, 27 September 2017.

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *