AKU ADALAH PENA

 

Aku adalah pena yang terlahir kemarin
Jatuh dari tangan manusia renta
Sedikit kugoreskan jejakku pada batu-batu kiasan
Hanya sejumput manis
Biar aku dikenang dalam balut pewarna

Aku menjelajah di rusuk-rusuk angin utara
Setelah dari ranting-ranting muda aku dilontar
Karena tak berarti apa-apa
Benarkah?
Kulihat kata-kata jatuh tak berdaya
Tercecer di antara busuknya tai burung
Dari pucuk-pucuk hijau

Aku pena yang mengeja salam embun
Menitipkan rindu antara puan dan tuan di meja pagi
Menemani langkahnya di tangkai waktu
Tapi tak kubawa kembali

Aku duduk manis menikmati dua insan bercumbu ria
Melukis bibir dalam raung desah
Ilalang dan bunga-bunga asoka menegak datar
Bertanya tapi tak ditandai tanya
Abstrak tapi bermakna

Aku setangkai kecil
Digagahi debu mengadu-adu tak ada yang tahu

Aku
Aku mencari lembar yang dicabik malam
Dipenuhi janji yang surut di dangkal hati

Aku terangkan pada kerikil di jalan menuju pulang
Hidupku berantakan
Seperti mengeja tiga tali satu warna
Kusut di perjalanan
Berakhir di pembuangan

Aku menyambung kata untuk terluka
Tak ada yang kuaku dihadap pencipta

Aku yang hina
Aku yang bernostalgia dengan semu kata cinta

Karya: Burung Gereja 

Dari Langit, 26 September 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *